Guru Besar pada bidang Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Edia Rahayuningsih. DOK UGM
Guru Besar pada bidang Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Edia Rahayuningsih. DOK UGM

Hidupkan Kembali Pewarna Alami Nusantara Demi Kedaulatan Bangsa

Pendidikan penelitian Riset dan Penelitian UGM
Renatha Swasty • 11 Mei 2022 13:28
Jakarta: Guru Besar pada bidang Teknik Kimia Fakultas Teknik Universitas Gadjah Mada (UGM) Edia Rahayuningsih mendorong kedaulatan pewarna alami nusantara. Hal itu disampaikan saat pengukuhan guru besar dalam pidato berjudul Menghidupkan Kembali (Revival) Pewarna Alami Nusantara untuk Membangun Kedaulatan Bangsa Dalam Pewarna Alami
 
Edia menjelaskan pewarna alami telah digunakan sejak awal peradaban manusia. Saat ini, pewarna alami kembali banyak digunakan di industri makanan, fesyen, tekstil, farmasi, kosmetik, dan kesehatan.
 
Pewarna alami disukai karena keunggulannya, antara lain aman, renewable, dan biodegradable. Selain itu prospek penggunaan kembali ke pewarna alami di ranah global sesuai dengan beberapa semboyan.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Beberapa di antaranya, yakni go back to nature, slow fashion, go green, eco green, dan sebagainya. Tak hanya itu, penggunaan kembali pewarna alami sejalan dengan isu SDGs.
 
Edia menyebut Researchandmarket.com pada 2019 melaporkan pasar pewarna alami global diperkirakan akan menghasilkan pendapatan sekitar USD5 miliar pada 2024, tumbuh rata-rata per tahun sekitar 11 persen selama 2018-2024. Gelombang peningkatan jumlah konsumen yang sadar lingkungan telah mengarah pada penerapan pewarna alami dalam pakaian, makanan, minuman, produk kecantikan, kesehatan dan kebugaran, dan produk obat-obatan di pasar Amerika Utara.
 
Dia mengatakan meningkatnya perhatian publik terhadap pewarna alami dan peraturan pemerintah yang ketat tentang lingkungan dan polusi mendorong penggunaan pewarna alami di pasar global. Edia menyebut produsen tradisional tidak mungkin akan bisa menjangkau pasar global melihat perkembagan permintaan pasar global yang pesat.
 
Sejumlah terobosan inovasi dalam produksi dan rantai pasok diperlukan untuk bisa membawa produk pewarna alami sampai di pasar global. Selain itu, kebijakan untuk mengarusutamakan penggunaan pewarna alami juga diperlukan untuk mendorong tumbuhnya pasar di dalam negeri.
 
"Saat ini pemenuhan kebutuhan zat warna untuk industri tekstil di Indonesia sebagian besar masih mengandalkan impor. Data Badan Pusat Statistik tahun 2021, rerata impor zat warna sintetik selama 5 tahun terakhir mencapai lebih dari 42.000 ton/tahun," kata Edia dikutip dari laman ugm.ac.id, Rabu, 11 Mei 2022.
 
Sementara itu, Indonesia memiliki budaya warisan adiluhung penggunaan pewarna alami yang aman dan senyawa yang terkandung bermanfaat bagi tubuh. Selain itu, Indonesia memiliki kekayaan alam dan biodiversitas yang merupakan bahan baku pembuat zat warna alami.
 
Indonesia pernah menjadi penghasil pewarna alami blue indigo terbesar di pasar dunia pada saat penjajahan Belanda dari 1602 sampai 1942. Saat ini, kurang lebih ada 150 jenis pewarna alami di Indonesia yang telah diidentifikasi.
 
"Sumber bahan baku pewarna alami di Indonesia luar biasa melimpah. Namun, saat ini pemanfaatannya masih sangat terbatas hanya oleh beberapa pengrajin batik, jumputan, ulos, tenun, dan kerajinan lainnya," kata ketua Indonesia Natural Dye Institute (INDI) UGM itu.
 
Edia mengatakan Indonesia memiliki potensi, prospek, dan peluang pewarna alami yang sangat besar. Namun, kondisi yang ada kontras dengan produksi dan aplikasi pewarna alami di Indonesia.
 
Dia mengatakan apabila mendengar kata pewarna alami biasanya yang muncul dalam benak berkaitan dengan tradisional, sederhana, kecil, berkualitas rendah, tidak praktis, sulit diperoleh, dan sebagainya. Edia menyampaikan banyak tantangan hilirisasi hasil penelitian menjadi produk komersial dan teraplikasikan dalam masyarakat.
 
Kondisi ini sering diilustrasikan dengan adanya lembah kematian yang memisahkan antara hasil penelitian dan produk komersil. Untuk menyeberangi lembah kematian tersebut diperlukan kerja sama mutualistik dari berbagai pihak, yaitu akademisi, komunitas wirausaha, pengusaha, dan pemerintah.
 
Selain empat elemen tersebut, pada saat ini keberadaan media juga sangat berperan dalam usaha hilirisasi hasil penelitian menjadi produk komersial. Sinergi pentahelik sangat diperlukan untuk dapat melewati valley of death tersebut.
 
Dia menuturkan usaha yang perlu dilakukan dalam sinergi tersebut mencakup pembangunan rantai pasok dari hulu sampai hilir, memperkuat kerja sama mutualistik antara produsen, konsumen, pengusaha, pemerintah, dan masyarakat, dan membangun kesadaran penggunaan kembali pewarna alami. Lalu, akselerasi penggunaan pewarna alami sebagai produk berbasis kearifan lokal, kompetitif, dan berkelanjutan, dan kebijakan untuk mengarusutamakan penggunaan pewarna alami di dalam negeri dan mengurangi impor pewarna sintetis yang sangat besar sampai saat ini.
 
Sehingga, Indonesia tidak lagi menjadi pasar pewarna sintetis yang sebenarnya telah dilarang penggunaannya sejak 1994 karena bersifat karsinogen. Selanjutnya cita-cita mulia terbangunnya generasi sehat dan kedaulatan bangsa dalam pewarna alami dapat terwujud.
 
Untuk menghidupkan lagi pewarna alami, UGM mendirikan Institut Pewarna Alami Indonesia atau Indonesia Natural Dye Institute Universitas Gadjah Mada (INDI-UGM). Institut ini merupakan grup riset multidisiplin dalam bidang pewarna alami di UGM.
 
Beberapa penelitan telah dilakukan sejak 2003, yakni budi daya tanaman, teknologi produksi, teknologi aplikasi pewarnaan, ekonomi, sosial, dan budaya. Pada 2021, INDI UGM memantapkan kelembagaanya dengan menjadi Pusat Unggulan IPTEKS Perguruan Tinggi Orientasi Produk (PUI-PTOP) Pewarna Alami di Indonesia.
 
Baca: UGM Kembangkan Pewarna Alami Tekstil dari Kayu Merbau Papua
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif