Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI Chairul Hudaya. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id
Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI Chairul Hudaya. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id

UI Dorong Riset Kampus Tak Berhenti di Jurnal, 40 Startup Disiapkan untuk Hilirisasi Teknologi

Ilham Pratama Putra • 02 Oktober 2026 17:33
Ringkasnya gini..
  • UI mendorong hasil riset tidak berhenti di jurnal dan prototipe, tetapi masuk ke industri dan masyarakat.
  • Sebanyak 40 startup UI dihasilkan pada 2026 melalui program Prime Step dan diarahkan menghasilkan kekayaan intelektual.
  • Pemerintah mendorong Science Techno Park menjadi jembatan antara riset kampus, industri, investor, dan kebutuhan masyarakat.
Jakarta: Universitas Indonesia (UI) mendorong hasil riset dan inovasi perguruan tinggi tidak berhenti di jurnal ilmiah, laboratorium, maupun prototipe. Riset didorong masuk ke tahap hilirisasi, transfer teknologi, komersialisasi, hingga menjadi produk dan solusi yang digunakan masyarakat serta industri.

Direktur Inovasi dan Riset Berdampak Tinggi UI Chairul Hudaya mengatakan dorongan tersebut menjadi salah satu fokus dalam UI Innovation Festival 2026 yang digelar pada 2-3 Oktober 2026. Ia ingin hasil riset dapat dihilirisasi dan menyentuh masyarakat.

“Inovasi yang lahir dari perguruan tinggi tidak hanya berhenti pada publikasi, laboratorium maupun prototipe. Namun juga perlu terus didorong agar mampu melanjutkan perjalanan melalui hilirisasi, transfer teknologi, komersialisasi, pengembangan usaha, kemitraan industri, dan pada akhirnya membawa manfaat yang nyata bagi masyarakat dan bangsa,” kata Chairul dalam pembukaan UI Innovation Festival 2026 di Jakarta, Jumat, 2 Oktober 2026.

Menurut dia, festival tersebut menjadi bagian dari upaya UI memperkuat ekosistem riset dan inovasi sekaligus pengembangan Science Techno Park (STP) UI melalui program Prime Step. Pada kesempatan itu, Chairul mengungkapkan UI pada 2026 telah menghasilkan 40 startup melalui program yang didukung pendanaan Prime Step. 
Para startup tersebut juga diarahkan menghasilkan kekayaan intelektual (KI) yang kemudian didaftarkan ke Direktorat Jenderal Kekayaan Intelektual (DJKI). “Jadi dari hasil kompetisi yang cukup kompetitif itu kemudian dihasilkan 40 dan pendanaannya berasal dari Prime Step. Dan salah satunya adalah mereka harus menghasilkan kekayaan intelektual yang kita daftarkan ke DJKI,” ujarnya.

Upaya hilirisasi tersebut melanjutkan capaian UI pada tahun sebelumnya. Chairul menyebut sebanyak 55 kekayaan intelektual telah dilisensikan kepada startup maupun industri pada 2025. Target tersebut, kata dia, akan terus ditingkatkan sehingga hasil riset tidak hanya menghasilkan publikasi akademik, tetapi juga memiliki jalur pemanfaatan dan nilai ekonomi.

Pada kesempatan yang sama, Pelaksana Tugas (Plt) Direktur Hilirisasi dan Kemitraan Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi (Kemendiktisaintek) Adhi Indra Hemanu menilai perubahan cara pandang terhadap keberhasilan riset menjadi penting. Adhi mengatakan perguruan tinggi perlu bergerak dari riset yang unggul secara akademik menuju riset yang memberikan dampak nyata.

“Perguruan tinggi bukan hanya tempat menghasilkan publikasi, tetapi tempat lahirnya pengetahuan, talenta, teknologi, perusahaan berbasis inovasi, dan solusi bagi masyarakat. Karena itu, kita perlu bergerak dari riset yang excellent menjadi riset yang berdampak,” kata Adhi.

Menurut dia, sebagian hasil riset harus memiliki jalur yang jelas dari laboratorium menuju masyarakat. Jalur tersebut mencakup pengembangan prototipe, produksi, pemasaran, hingga menghasilkan dampak ekonomi dan sosial.

Adhi bahkan meminta peneliti dan perguruan tinggi lebih terbuka terhadap kebutuhan di luar lingkungan akademik. “Kepada para peneliti dan perguruan tinggi, silakan keluar dari menara gading. Jangan takut membawa hasil riset keluar dari laboratorium. Dengarkan masalah industri dan masyarakat,” ujarnya.
 
WhatsApp Image 2026-10-02 at 5_29_20 PM
UI Innovation Festival 2026. Foto: Ilham Pratama/Medcom.id


Lebih lanjut, Adhi mengakui Indonesia memiliki banyak peneliti dan hasil riset yang berkualitas. Namun, tidak sedikit hasil penelitian yang masih berhenti pada publikasi, prototipe, atau laporan.

Salah satu persoalannya adalah belanja riset dan pengembangan Indonesia yang masih tertinggal dibandingkan sejumlah negara lain, terutama negara maju. Selain itu, terdapat kesenjangan tingkat kesiapan teknologi atau technology readiness gap, keterbatasan fasilitas pengujian dan produksi, hingga kebutuhan sertifikasi serta regulasi.

Hubungan antara perguruan tinggi dan industri juga dinilai masih perlu diperkuat. Industri membutuhkan teknologi yang siap digunakan, sementara peneliti perlu lebih memahami persoalan dan kebutuhan pasar.

Karena itu, hilirisasi tidak dapat dibebankan hanya kepada peneliti. Pemerintah, kampus, industri, investor, dan masyarakat perlu berada dalam satu ekosistem inovasi.

“Perguruan tinggi menghasilkan pengetahuan dan teknologi. Industri memahami pasar serta memiliki kemampuan produksi dan distribusi. Investor menyediakan pembiayaan dan perspektif bisnis. Pemerintah menciptakan kebijakan, infrastruktur, dan insentif. Masyarakat menjadi pengguna sekaligus sumber kebutuhan dan umpan balik,” kata Adhi.

Diketahui, UI Innovation Festival 2026 diikuti 20 exhibitor yang terdiri atas startup UI dan mitra. Selama dua hari, kegiatan diisi dengan pameran inovasi, talkshow, seminar, workshop, kompetisi, promosi produk, penghargaan, hingga aktivitas interaktif.

UI juga menggandeng sejumlah mitra teknologi. Pada hari pertama, UI berkolaborasi dengan Google melalui Gemini AI Academy dalam seminar dan workshop pemanfaatan kecerdasan buatan yang diikuti sekitar 115 peserta.

Pada hari kedua, UI bekerja sama dengan Apple Developer Academy melalui sesi inovasi berbasis AI untuk persiapan karier dengan sekitar 114 peserta terdaftar. Selain itu, terdapat kompetisi robotik bersama startup UI, Inventing, serta Inno Creator Fest 2026. 

Festival juga memberikan ruang kepada startup dan mitra untuk mempromosikan produk inovasi mereka kepada publik. Festival tersebut diharapkan tidak berhenti sebagai ajang pameran inovasi, tetapi menjadi ruang pertemuan antara akademisi, industri, investor, pemerintah, dan masyarakat untuk membuka peluang kolaborasi baru.

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan