Teknik guludan merupakan inovasi guludan yang digunakan untuk menanam mangrove dengan membentuk ruangan yang diisi tanah berukuran tertentu yang dibatasi oleh tonggak-tonggak batang bambu. Guludan terucuk bambu ini dirancang dari batang-batang bambu berdiameter minimal 6 sentimeter (cm) dengan lebar petak guludan 5 meter.
Panjang petak guludan 10 meter dan tingginya disesuaikan dengan kedalaman air yang ada. “Media tanamnya adalah tanah mineral yang dicampur dengan tanah lumpur, jadi kita membawa tanah mineral dari luar kemudian dimasukkan ke dalam ruangan guludan tadi, di dalam guludan tersebut tanah mineral dicampur dengan tanah lumpur. Pembuatan petak guludan dengan lebar lima meter dan panjang 10 meter bisa memakan waktu empat hari dengan delapan orang pekerja,” terang Cecep dalam keterangannya, Selasa, 8 September 2020.
Inovasi ini, lanjutnya, telah dikenalkan sejak 2005 dan telah berhasil diterapkan di kawasan mangrove Angke Kapuk Jakarta Utara dan kawasan pantai kota Pekalongan. Hingga saat ini, jumlah guludan yang sudah dibuat oleh berbagai pihak sudah mencapai sekitar 600 guludan.
Baca juga: UB Menangkan Hibah Riset Covid-19 dari UKRI
Saat ini inovasi guludan ini juga telah dikembangkan dan dipraktikkan oleh berbagai pihak, seperti Lembaga Swadaya Masyarakat (LSM), instansi pemerintah, Badan Usaha Milik Negara (BUMN), instansi swasta melalui program corporate social responsibility (CSR), dan berbagai lapisan masyarakat.
“Teknik guludan ini sangat cocok untuk merehabilitasi lokasi-lokasi yang tergenang air yang dalam, tidak terbatas di kawasan mangrove saja tetapi bisa juga diterapkan di kawasan berawa seperti hutan rawa dan hutan gambut. Dengan pembuatan guludan, mangrove bisa tumbuh dengan subur dan sehat,” tambahnya.
Jenis tanaman mangrove yang sudah dicoba ditanam dan berhasil tumbuh dengan baik di atas guludan antara lain Avicennia spp dan Rhizophora spp. Tanaman tersebut ditanam dengan jarak tanam 0.5 x 0.5 meter maupun 0.25 x 0.25 meter.
Supaya mangrove dapat tumbuh subur, Cecep menyarankan agar dilakukan perawatan minimal selama tiga tahun pertama. Perawatan tersebut antara lain pembersihan gulma, pemberantasan hama dan penyakit serta pemupukan (pupuk cair daun) tanaman mangrove.
“Tinggi permukaan tanah di dalam guludan harus didesain sekitar 10 -15 cm terendam kolom air agar gulma tidak tumbuh sehingga mengurangi beban kerja pemeliharaan tanaman. Ini tujuannya meminimalisir gagal tumbuh yang bisa mencapai 30 persen dari seluruh populasi tanaman,” terang Cecep.
Cecep mengatakan, ke depan akan dikembangkan model manufaktur fabrikan untuk membuat dinding-dinding batas guludan sehingga pembuatan guludan di dalam air bisa dilakukan secara cepat dan tidak perlu merekrut banyak tenaga (artinya bisa menekan biaya upah pembuatan guludan).
Cecep juga berencana memanfaatkan badan air yang ada di antara guludan sebagai kolam ikan. Sehingga rehabilitasi kawasan mangrove dengan teknik guludan ini bisa dikembangkan menjadi suatu model sylvofishery (model wana tani) yang relatif mudah penangannya karena kolam-kolam ikan yang dibentuk di antara guludan-guludan tersebut relatif tidak luas (sekitar 2 x 10 meter). Selama ini jarak antar guludan umumnya sekitar dua meter, sebenarnya jarak interval guludan ini tergantung situasi kawasan yang ada.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News