Burung paruh bengkok. Foto: Dok. BRIN
Burung paruh bengkok. Foto: Dok. BRIN

BRIN Fasilitasi Pengembangbiakan Burung Paruh Bengkok di Cibinong

Citra Larasati • 31 Juli 2022 17:00
Jakarta:  Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) terus membuka kerja sama riset dan pengembangan dengan berbagai pihak, termasuk dengan pihak swasta dalam pengembangbiakan burung paruh bengkok.  Penelitian mengenai burung paruh bengkok masih jarang dilakukan, bahkan untuk mendapatkan burung tersebut cukup sulit karena tidak dijual di pasaran.
 
Melalui Pusat Riset Zoologi Terapan, Organisasi Riset (OR) Hayati dan Lingkungan, BRIN menjalin kerja sama riset  tentang “Pengembangbiakan Burung Paruh Bengkok Nektarivora (Marga Eos dan Trichoglossus)” dengan CV. Pasundan di Penangkaran Cibinong Science Center BRIN. Kerja sama ditandai dengan penandatanganan langsung antara Kepala Pusat Riset (PR) Zoologi Terapan BRIN dengan Direktur CV. Pasundan di Cibinong, Kamis, 28 Juli 2022.
 
Siti Nuramaliati Prijono, penanggung jawab kerja sama sekaligus Peneliti Pusat Riset Zoologi Terapan BRIN menjelaskan, burung paruh bengkok termasuk burung yang dilindungi. Ada kurang lebih 85 jenis burung paruh bengkok dan semua jenis sudah dilindungi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Informasi biologi tentang burung inipun sangat minim. Untuk mengetahui pakannya perlu penelitian,” terang Lilik sapaan akrabnya, dalam siaran pers BRIN yang dikutip Minggu, 31 Juli 2022.
 
Ada 3 kelompok burung paruh bengkok, yaitu pemakan biji, pemakan buah dan pemakan nektar. Burung paruh bengkok pemakan biji lebih survive dibandingkan pemakan nektar.
 
"Kami memilih yang pemakan nektar, karena tantangan untuk hidup di kandang jauh lebih tinggi dan pakan yang lebih sulit. Di awal penelitian memang ada burung yang mati, namun sekarang kami sudah menemukan formula makanan agar mereka bisa bertahan hidup dan berkembang biak. Perilaku dikandang harus selalu diamati agar mereka bisa bertahan hidup,” rinci Lilik.
 
Burung ini adalah burung liar, walaupun mengupayakan untuk berkembang biak mereka masih agak sulit untuk bisa beradaptasi di penangkaran. Untuk ke depannya perlu mengumpulkan informasi biologi burung-burung yang ada di Indonesia, dan Indonesia merupakan pusat keragaman burung paruh bengkok.
 
"Mudah-mudahan makin banyak peneliti di Indonesia yang melakukan penelitian burung paruh bengkok,” sambung Lilik.
 
Ia mengatakan, masyarakat Indonesia lebih senang dengan burung berkicau. Minat pasar untuk ekspor sangat tinggi dan BRIN terlibat dalam penentuan untuk batas maksimum pemanfaatan dari penangkaran.
 
"Sehingga dalam memberikan rekomendasi dan masukkan tentunya harus mempunyai pengalaman agar bisa memberikan masukkan," imbuhnya.
 
Lilik menambahkan, karena itu pengalaman ini sangat penting dalam pengembangbiakkan burung paruh bengkok. "Kami dari kelompok peneliti burung paruh bengkok mengucapkan terimakasih kepada bapak Suwita selaku Direktur CV. Pasundan yang sudah mau meminjamkan dua jenis burung paruh bengkok yaitu Eos bornea dan Eos reticulata," terang Lilik.
 
Menurut Lilik, cukup menarik jika mengamati perilaku, hanya masalahnya dalam pengamatan perilaku terkendala oleh sinyal. Karena internet yang tersedia tidak sampai ke kandang percobaan. Kedua, CCTV sering rusak karena digigit oleh hewan percobaan.
 
"Namun itu merupakan tantangan untuk mengamati perilaku dari habitat alam ke penangkaran/kandang,” tutur Lilik.
 
Walaupun tujuannya adalah meningkatkan populasi, tetapi melakukan penelitian mengenai genetik yang lebih advance belum dilakukan karena kita masih fokus ke konservasi.   Agar masyarakat tidak mengambil dari alam, tetapi bisa dari hasil penangkaran.
 
"Masyarakat kita juga belum tahu informasi keragaman jenis burung paruh bengkok termasuk keragaman pakannya. Sering masyarakat memberi pakan yang tidak tepat kepada burung peliharaannya, misal yang seharusnya pemakan nektar diberi biji,” terangnya lagi
 
Masyarakat membutuhkan informasi tentang satwa Indonesia, saya dan tim telah menerbitkan tiga buah buku yaitu Biologi Trichoglossus, tentang burung Bayan dan tentang pakan. Diharapkan buku-buku tersebut bisa memperkaya pengetahuan masyarakat mengenai burung paruh bengkok ini sehingga mereka peduli.
 
"Jika mereka tidak memiliki informasi mereka tidak peduli dengan burung-burung yang merupakan kekayaan Indonesia, ke depannya kami akan mengumpulkan semampu kami mengenai biologi burung,” papar Lilik.
 
Pada kesempatan yang sama, Kepala PR Zoologi Terapan BRIN, Evy Ayu Arida menyampaikan harapannya terhadap kerja sama yang dijalin. ”Harapan saya supaya para peneliti lebih membuka diri, bekerja sama dengan pihak lain terutama pihak non akademisi. Supaya ilmunya bermanfaat dan bisa mengembangkan diri, peneliti harus terus menggali dan memberi manfaat pada masyarakat. Harapan saya dengan bekerja sama kita akan saling mengisi sudut-sudut kekosongan yang kita punya,” ungkapnya.
 
Sementara itu  Direktur CV. Pasundan, Suwita Widjaja yang berlokasi di Kampung Pasir Angin Rt. 06 Rw. 03 Desa Sukarasa, Kecamatan Tanjung Sari, Kabupaten Bogor, Jawa Barat, menyampaikan ucapan terimakasih kepada BRIN atas kepercayaan yang telah diberikan untuk menjalin kerja sama. “Saya berterimakasih kepada BRIN karena telah memberikan kepercayaannya untuk melakukan kerjasama penelitian. Juga merupakan kehormatan bagi kami saat ditunjuk sebagai mitra,” terangnya.
 
Tujuan pihak swasta adalah komersial, dalam arti jika kita menemukan suatu metode yang lebih baik untuk pengembangbiakan dan mendapat dorongan dari Scientific Authority bagaimana menemukan metoda yang lebih cepat namun aman. Karena pengembangbiakan kadang memaksa burung sehingga mengakibatkan burung mengalami tekanan.
 
"Untuk itu mungkin dari sini kita bisa mendapatkan metode yang aman untuk jenis-jenis burung yang kita kembangkan,” ucap Suwita.
 
Ia mengatakan, untuk saat ini kerja sama hanya difokuskan untuk jenis burung paruh bengkok. Karena jenis yang lain trennya cepat hilang.
 
"Burung paruh bengkok dari Indonesia memiliki kemampuan bertelur maksimum dua butir, sehingga lebih terjaga keberadaannya di pasaran. Pelaku pasar berlomba-lomba untuk mengembangkan burung paruh bengkok dengan metode yang paling baik," tutupnya.
 
Baca juga:  Sampah Antariksa Roket CZ5B Tiongkok Jatuh di Samudra Hindia, Serpihannya Lewati Malaysia

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif