Ujian Terbuka Program Doktor terapi pasien ICU. DOK UGM
Ujian Terbuka Program Doktor terapi pasien ICU. DOK UGM

Kerap Nyeri, Terapi Spiritual Auditorik Dreamer Bantu Penyembuhan Pasien ICU

Renatha Swasty • 31 Maret 2022 18:40
Jakarta: Mahasiswa Program Doktor Kedokteran dan Ilmu Kesehatan Masyarakat FK-KMK Universitas Gadjah Mada (UGM), Iwan Purnawan, meneliti pengaruh Terapi Spiritual Auditorik Dreamer (TSAD). Terapi sebagai Complementary and Alternative Medicine (CAM) terhadap biomarker stres (cortisol) pasien di Intensive Care Unit (ICU).
 
Ia menyebut stres merupakan permasalahan yang biasa dialami pasien ICU. Stresor paling banyak ditemui pada pasien ICU adalah nyeri. Penggunaan obat-obatan sebagai terapi standar dianggap kurang optimal karena hanya berfokus pada aspek fisik.
 
“Stres maupun nyeri membutuhkan penanganan yang serius. Stres dan nyeri berkontribusi terhadap keterlambatan proses penyembuhan, peningkatan komplikasi, dan memperpanjang length of stay pasien ICU,” papar Iwan dalam Ujian Terbuka Program Doktor dikutip dari laman ug,.ac.id, Kamis, 31 Maret 2022.

Dia menjelaskan stres dan nyeri memicu aktivitas saraf simpatik dan kelenjar pituitari mengeluarkan hormon-hormon stres seperti cortisol dan aldosterone. Keberadaan hormon-hormon tersebut menyebabkan peningkatan tekanan darah, frekuensi nadi, frekuensi pernapasan, dan resistensi sistemik.
 
Kondisi ini apabila dibiarkan dapat meningkatkan beban jantung dan menurunkan sirkulasi darah sehingga berdampak negatif bagi tubuh. Namun, penanganan stres dan nyeri pasien ICU hingga saat ini masih belum optimal.
 
Pasien masih mengalami ketidaknyamanan baik fisik maupun psikis selama di ICU meskipun telah mendapatkan manajemen nyeri sesuai standar. Hal ini diduga karena fokus penanganan pasien ICU lebih kepada aspek fisik dibandingkan dengan aspek lain seperti psikologis dan spiritual.
 
“Manusia adalah makhluk multidimensi yang membutuhkan pendekatan holistik. Nyeri bukan hanya terkait pengalaman sensori nosiceptif tetapi juga berkaitan dengan motivasi dan komponen psikologis,” papar dia.
 
Iwan mengatakan CAM merupakan pelengkap terapi konvensional. Kombinasi terapi konvensional dan CAM diharapkan mampu menghasilkan efek sinergis yang dapat meningkatkan efektivitas terapi konvensional.
 
Terapi Spiritual Auditorik Dreamer (TSAD) merupakan bentuk dukungan spiritual yang dikembangkan dan diuji efektivitasnya dalam penelitian ini. Model terapi ini mengkombinasikan beberapa terapi yang pada penelitian sebelumnya telah terbukti memberikan efek positif bagi kesehatan fisik maupun psikis.
 
Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengaruh TSAD terhadap kadar cortisol saliva, nyeri, frekuensi nadi dan napas, MAP, dan saturasi oksigen pasien ICU.
 
“Penelitian dilakukan di ICU RSUD Prof Margono Soekarjo Purwokerto pada Mei hingga Juni 2021 dengan melibatkan 86 pasien ICU yang dibagi menjadi kelompok intervensi dan kontrol,” tutur Iwan.
 
Dari penelitian ini, dia menyimpulkan TSAD memiliki pengaruh signifikan terhadap kadar kortisol saliva dan nyeri pasien ICU. TSAD tidak memiliki pengaruh signifikan terhadap frekuensi nadi, napas, saturasi oksigen, dan MAP pasien ICU.
 
Baca: Punya Masalah Bau Mulut Bawaan dari Lahir? Begini Cara Mengatasinya
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan