Gunung Semeru erupsi. Foto: Istimewa.
Gunung Semeru erupsi. Foto: Istimewa.

Pakar Unpad Jelaskan Dampak Cuaca Ekstrem terhadap Erupsi Gunung Semeru

Pendidikan Erupsi Gunung Riset dan Penelitian Unpad gunung semeru Gunung Semeru Meletus Gunung Semeru Erupsi
Arga sumantri • 06 Desember 2021 15:52
Bandung: Guru Besar Fakultas Teknik Geologi Universitas Padjadjaran (Unpad) Nana Sulaksana menyebut bahwa banjir lahar yang terjadi akibat erupsi Gunung Semeru dipicu aktivitas vulkanik yang bersentuhan langsung dengan cuaca ekstrem di wilayah tersebut.
 
"Jadi letusan kemarin bukan tiba-tiba, tapi memang sudah terjadi letusan kegiatan magmatisme jauh sebelumnya. Hanya kemarin saat letusan besar, secara kebetulan bersamaan dengan curah hujan tinggi," ungkap Nana mengutip siaran pers Unpad, Senin, 6 Desember 2021.
 
Nana menjelaskan, dampak besar dari erupsi Gunung Semeru diakibatkan adanya dua gaya yang bekerja, yaitu endogen dan eksogen. Gaya endogen terjadi dari aktivitas magma yang mendorong material vulkanik naik ke permukaan, sedangkan gaya eksogen diakibatkan hujan ekstrem.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Material vulkanik yang tertumpuk di kubah secara langsung bersentuhan dengan air. Akumulasi material tersebut kemudian dialirkan oleh air dan hanyut ke bawah melalui lembahan dan sungai-sungai. Akibatnya, banjir lahar mampu menyapu kawasan di lembahan Semeru.
 
"Kalau tidak ada hujan, maka seluruh material yang keluar sifatnya belum langsung menjadi lahar. Ini karena musim hujan, kebetulan hujan besar, material yang teronggok di atas terkena air, dan hanyut ke sungai," paparnya.

Erupsi Spesifik

Nana menjelaskan, letusan Semeru memiliki karakter sendiri. Hal ini disebabkan, setiap komplek gunung berapi di Indonesia memiliki dapur magmanya tersendiri.
 
"Antara satu gunung api dengan yang lain sebenarnya berbeda. Karena itu, karakternya juga berbeda karena kandungannya berbeda," ujarnya.
 
Dilihat dari tipe letusan, berdasarkan hasil penelitian dan historis, Gunung Semeru secara spesifik memiliki erupsi yang besar. Setelah itu, gunung tertinggi di Pulau Jawa tersebut akan tertidur kembali.
 
Karakter ini berbeda dengan gunung-gunung lain, semisal Merapi atau Sinabung. Dinamika magma dari gunung tersebut bergerak simultan. Artinya, erupsi dengan intensitas kecil bisa terjadi dalam waktu yang sering.
 
  • Halaman :
  • 1
  • 2
Read All



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif