ILustrasi/Unsplash
ILustrasi/Unsplash

Waspada Perdagangan Ilegal Satwa Liar, Pakar IPB: Picu Risiko Pandemi Baru

Citra Larasati • 15 April 2026 18:29
Ringkasnya gini..
  • Salah satu dampak negatif maraknya perdagangan ilegal satwa liar adalah meningkatnya risiko penularan zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia).
  • Bahkan, aktivitas tersebut juga bisa memicu munculnya wabah baru.
  • Data empiris menunjukkan Indonesia masih terjebak dalam jaringan perdagangan ilegal satwa liar dengan pangsa pasar yang menguntungkan.
Jakarta: Pakar Genetika Ekologi IPB University, Prof Ronny Rachman Noor mengatakan, salah satu dampak negatif maraknya perdagangan ilegal satwa liar adalah meningkatnya risiko penularan zoonosis (penyakit menular dari hewan ke manusia). Bahkan, aktivitas tersebut juga bisa memicu munculnya wabah baru.
 
Data empiris menunjukkan Indonesia masih terjebak dalam jaringan perdagangan ilegal satwa liar dengan pangsa pasar yang menguntungkan. Keanekaragaman hayati yang tinggi justru menjadi daya tarik utama bagi perdagangan global.
 
“Penelitian dari Universitas Fribourg menunjukkan mamalia yang diperdagangkan secara global 1,5 kali lebih berisiko menjadi inang zoonosis dibandingkan yang tidak diperdagangkan. Patogen yang sering ditemukan meliputi virus corona, influenza, rabies, hingga parasit zoonotik,” ujarnya.

Ia menjelaskan, satwa liar yang ditangkap biasanya berada dalam kondisi stres sehingga sistem imunnya menurun dan memicu pelepasan virus atau bakteri. Selama pengangkutan, satwa juga sering kali ditempatkan dalam kandang kecil dan bercampur dengan spesies lain yang dapat memperbesar kemungkinan pertukaran patogen.
 
Selain itu, kontak langsung dengan darah, daging, atau cairan tubuh hewan liar saat penjualan ataupun konsumsi juga bisa menjadi jalur penularan. Bahkan, ketika dijadikan hewan peliharaan, satwa liar tetap berpotensi membawa patogen ke lingkungan rumah.
 
“Kasus perdagangan ilegal burung kuau raja, owa ungko, dan kucing emas di Sumatera Barat tahun 2022 menunjukkan potensi penyebaran patogen yang bisa menular ke manusia,” jelasnya.
 
Di tingkat global, wabah seperti SARS, MERS, dan COVID-19 berhubungan dengan interaksi manusia dan satwa liar. Perdagangan ilegal lewat media sosial memperluas jangkauan tanpa pengawasan kesehatan sekaligus mempercepat penyebaran patogen lintas wilayah melalui rantai distribusi internasional.
 
“Dari sudut pandang kesehatan masyarakat, perdagangan ini berpotensi memicu pandemi baru dengan biaya penanggulangan yang sangat besar,” tegasnya.
 
Selain itu, dari aspek konservasi, penurunan drastis populasi satwa liar akibat perdagangan ilegal juga memperbesar risiko zoonosis. Ketika habitat alami rusak, patogen berpindah dari satwa ke manusia.

Pentingnya Biodiversitas

Ronny menegaskan, ada kaitan yang sangat kuat antara keanekaragaman hayati, kesehatan manusia, dan kebijakan konservasi. Keanekaragaman hayati penting untuk menjaga keseimbangan ekosistem yang mendukung kesehatan manusia. Adapun kebijakan konservasi bertujuan melindungi ekosistem dari degradasi yang bisa menyebabkan penyakit dan krisis pangan. 
 
“Biodiversitas merupakan inti dari kesehatan manusia. Keanekaragaman genetik, spesies, dan ekosistem adalah dasar utama untuk keberlangsungan hidup manusia. Perdagangan satwa liar ilegal bukan hanya ancaman konservasi, tetapi juga ancaman kesehatan global,” tutupnya.
 
Baca juga:  BRIN Ungkap Rahasia Laut Selatan Jawa, Ikan Melimpah di Musim Kemarau

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan