Kini, riset terbaru BRIN menjelaskan faktor penguat fenomena tersebut dari sisi interaksi iklim global. Tim Pusat Riset Iklim dan Atmosfer BRIN yang dipimpin oleh Martono memfokuskan penelitiannya pada dinamika Arus Pesisir Selatan Jawa atau South Java Coastal Current (SJCC) dalam periode 1993–2023. Kajian ini memanfaatkan data oseanografi dan atmosfer seperti Ocean Surface Current Analysis Real-time (OSCAR), ERA5, serta indeks Niño3.4 dan Dipole Mode Index (DMI).
Hasil penelitian menunjukkan bahwa SJCC merupakan komponen vital dalam sistem sirkulasi Samudra Hindia bagian timur. Arus ini berperan penting dalam transport massa air, proses upwelling, serta variabilitas iklim regional.
Salah satu anggota tim peneliti, Yosef Prihanto, menjelaskan bahwa arus ini memiliki variabilitas signifikan dalam skala intramusiman.
“Dalam skala intramusiman, SJCC menunjukkan periodisitas dominan sekitar 76 hari. Secara umum, arus permukaan ke arah timur di perairan selatan Jawa terbentuk sepanjang tahun, meskipun intensitasnya bervariasi setiap bulan,” ujarnya, dikutip dari laman BRIN, Jumat, 10 April 2026.
Menurutnya, dinamika arus tersebut tidak hanya dipengaruhi oleh angin monsun, tetapi juga oleh interaksi laut-atmosfer skala besar serta propagasi gelombang Kelvin ekuatorial.
Lebih lanjut, analisis data selama 30 tahun menunjukkan, interaksi antara fenomena IOD (Indian Ocean Dipole) positif dan El Nino berperan dalam memperkuat proses upwelling di selatan Jawa hingga barat Sumatra.
“Jika sebelumnya upwelling lebih banyak dikaitkan dengan El Nino, maka melalui riset ini terbukti bahwa keberadaan IOD positif akan semakin memperkuat proses tersebut. Ini merupakan hasil analisis berbasis data jangka panjang,” jelas Yosef.
Dampaknya terhadap Produktivitas Laut
Penguatan upwelling ini berdampak langsung pada meningkatnya suplai nutrien ke permukaan laut. Kondisi ini kemudian mendorong pertumbuhan fitoplankton yang menjadi dasar rantai makanan laut.Pada akhirnya, hal tersebut berkontribusi pada peningkatan produktivitas perairan dan potensi sumber daya ikan, khususnya pada periode musim kemarau. Temuan ini sekaligus melengkapi hasil riset BRIN sebelumnya yang menyebutkan bahwa fenomena upwelling dapat menjadi faktor penting dalam meningkatkan hasil tangkapan nelayan, meskipun tetap perlu diwaspadai potensi risiko dinamika laut.
Selain itu, penelitian ini juga mengungkapkan bahwa pengaruh IOD terhadap variabilitas arus permukaan di selatan Jawa cenderung lebih kuat dibandingkan El Nino-Southern Oscillation (ENSO). Oleh karena itu, pemahaman terhadap interaksi kedua fenomena ini menjadi kunci dalam meningkatkan akurasi prediksi kondisi oseanografi dan iklim di wilayah tersebut.
Publikasi Internasional dan Manfaat ke Depan
Hasil riset ini telah diterima di jurnal internasional terindeks bereputasi tinggi 'Oceanologia' dan siap dipublikasikan pada tahun 2026. Ke depan, hasil riset ini diharapkan dapat menjadi dasar ilmiah dalam mendukung pengelolaan sumber daya kelautan yang berkelanjutan serta memperkuat sistem informasi bagi sektor perikanan dan masyarakat pesisir.Dengan pemahaman yang lebih baik tentang interaksi IOD positif dan El Nino, nelayan dan pemangku kebijakan dapat mempersiapkan diri untuk memaksimalkan potensi hasil tangkapan sekaligus mengantisipasi risiko dinamika laut di perairan selatan Jawa.
| Baca juga: Apa Itu El Nino 'Godzilla'? Disebut Ancam Ketahanan Pangan Indonesia |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News