Menghadapi 36 tim dari 10 negara, Tim Barunastra ITS tampil sangat impresif dengan menyapu kategori utama. Tim riset kapal autonomous ini sukses meraih Juara 1 Autonomy Challenge, Juara 1 Design and Documentation, serta sabet penghargaan Best Technical Design Report.
Raihan tersebut menjadikan Tim Barunastra ITS sebagai satu-satunya tim yang menguasai kategori inti pada kompetisi kapal otonom tingkat dunia tersebut. Ajang bergengsi ini dikenal sebagai arena adu kecanggihan Autonomous Surface Vehicle (ASV) atau kapal tanpa awak yang mampu bermanuver dan menuntaskan misi secara mandiri.
Sejumlah universitas raksasa teknologi dunia seperti Massachusetts Institute of Technology (MIT), Queen’s University hingga Georgia Institute of Technology turut ambil bagian dalam kompetisi ini, sehingga semakin mengukuhkan ketatnya persaingan yang dihadapi Tim Barunastra ITS.
Keberhasilan ini tidak terlepas dari performa kapal prototipe Nala Ares Mark II yang dirancang Tim Barunastra ITS untuk menjawab tema kompetisi tahun ini, yakni Storm Response: Technology in Action for Recovery and Relief. Pada kategori Autonomy Challenge, kapal dituntut mampu bermanuver mandiri di area simulasi pascabencana, mulai dari navigasi jalur evakuasi, menghindari puing berbahaya, hingga melakukan pengiriman logistik presisi tanpa kendali langsung manusia.
Selain unggul dalam performa operasional, Tim Barunastra ITS juga mencuri perhatian melalui kualitas dokumentasi desain yang dinilai komprehensif oleh dewan juri. Integrasi sistem navigasi cerdas, algoritma pengambilan keputusan adaptif, serta arsitektur perangkat lunak yang teruji menjadi fondasi utama dominasi tim dalam perhelatan tersebut.
Dosen Pembina Tim Barunastra ITS Rudy Dikairono ST MT menilai capaian tersebut membuktikan daya saing mahasiswa ITS di level global. Persaingan yang dihadapi tidak hanya berasal dari dalam negeri, tetapi juga dari perguruan tinggi terkemuka Amerika, Eropa, dan Asia. “Mahasiswa ITS mampu bersaing sejajar dengan universitas besar dunia,” tegas Rudy.
Lebih lanjut, Rudy menyoroti tingginya semangat dan dedikasi anggota tim dalam riset serta inovasi. Lingkungan kampus yang kompetitif dan produktif dinilai membentuk karakter disiplin serta daya juang mahasiswa.
“Semangat riset dan inovasi mahasiswa sangat luar biasa,” imbuh dosen Departemen Teknik Elektro ini bangga.

Tim Barunastra ITS. Foto: ITS
Rudy juga berharap agar capaian tim binaannya ini menjadi pijakan untuk prestasi yang lebih luas, tidak hanya dalam kompetisi, tetapi juga pada pengembangan karya teknologi maritim berkelanjutan nantinya. “Semoga Barunastra terus mengharumkan nama ITS dan Indonesia,” tuturnya penuh harap.
Di balik capaian membanggakan tersebut, pengalaman berkompetisi juga meninggalkan kesan mendalam bagi para anggota tim. Ketua Tim Barunastra ITS Davin Abhinaya Briet menuturkan bahwa kompetisi tersebut tidak hanya berfokus pada penyelesaian misi, tetapi juga menjadi ruang belajar kolaborasi global bagi pengembangan ASV. “Kompetisi ini bukan hanya lomba, tetapi juga membangun komunitas pengembang ASV,” ujarnya.
Perjalanan menuju gelar Grand Champion pun tidak ditempuh dengan mudah. Berbagai pengorbanan waktu, tenaga, dan pikiran menjadi bagian dari proses panjang yang dijalani seluruh anggota tim. Atas capaian tersebut, Davin menyampaikan apresiasi kepada berbagai pihak yang telah memberikan dukungan. “Terima kasih juga atas dukungan dari Ikoma ITS dan seluruh pihak,” ungkapnya.
Capaian prestasi Tim Barunastra ITS ini selaras dengan komitmen ITS dalam mendukung pencapaian Sustainable Development Goals (SDGs). Khususnya tujuan pada poin ke-9 tentang Industri, Inovasi, dan Infrastruktur serta poin ke-14 tentang Ekosistem Laut melalui pengembangan teknologi maritim yang berkelanjutan.
| Baca juga: Marak Fenomena Tanah Bergerak, Peneliti ITS Ungkap Penyebab, Tanda Awal dan Pencegahannya |
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News