Ilustrasi/Freepik
Ilustrasi/Freepik

Peneliti Temukan Cara Baru Pelajari Penyakit Saraf Lewat Mini Otak Buatan

Bramcov Stivens Situmeang • 21 Februari 2026 11:36
Ringkasnya gini..
  • Sekelompok ilmuwan berhasil melatih gumpalan kecil jaringan otak buatan untuk menyelesaikan tugas sederhana menggunakan sinyal listrik.
  • Temuan ini membuka jalan baru bagi para peneliti untuk memahami bagaimana penyakit saraf memengaruhi kemampuan otak dalam belajar.
  • Mini otak yang digunakan dalam penelitian ini bukan berasal dari jaringan manusia, melainkan dari sel punca tikus yang ditumbuhkan menjadi kelompok-kelompok kecil jaringan otak.
Jakarta: Sekelompok ilmuwan berhasil melatih gumpalan kecil jaringan otak buatan untuk menyelesaikan tugas sederhana menggunakan sinyal listrik. Temuan ini membuka jalan baru bagi para peneliti untuk memahami bagaimana penyakit saraf memengaruhi kemampuan otak dalam belajar.
 
Mini otak yang digunakan dalam penelitian ini bukan berasal dari jaringan manusia, melainkan dari sel punca tikus yang ditumbuhkan menjadi kelompok-kelompok kecil jaringan otak. Sel punca sendiri merupakan sel induk yang memiliki kemampuan berkembang biak.
 
Mini otak ini tidak cukup kompleks untuk berpikir atau merasakan apapun, namun mampu mengirim dan menerima sinyal listrik, serta koneksi di dalamnya bisa berubah sebagai respons terhadap rangsangan dari luar. Para ilmuwan kemudian menghubungkan mini otak tersebut ke simulasi keseimbangan virtual, mirip seperti menyeimbangkan penggaris di atas telapak tangan.
 
Sinyal listrik dikirimkan untuk memberi tahu mini otak seberapa jauh tiang virtual itu miring, lalu respons mini otak diterjemahkan menjadi perintah untuk menggerakkan kereta virtual ke kiri atau ke kanan."Kami mencoba memahami dasar-dasar bagaimana neuron dapat disesuaikan secara adaptif untuk memecahkan masalah. Jika kita bisa mengetahui apa yang mendorong hal itu dalam sebuah cawan petri, hal itu memberi kita cara baru untuk mempelajari bagaimana penyakit neurologis dapat memengaruhi kemampuan otak untuk belajar," kata Peneliti Robotika dan Kecerdasan Buatan dari University of California Santa Cruz, Ash Robbins dikutip dari laman Science Alert Sabtu, 21 Februari 2026.

Dalam penelitian berjudul Goal-Directed Learning in Cortical Organoids yang diterbitkan di jurnal Cell Reports pada 19 Februari 2026, para peneliti membagi mini otak ke dalam tiga kelompok percobaan. Ketiga percobaan tersebut adalah tanpa umpan balik, umpan balik acak, dan umpan balik adaptif yang disesuaikan berdasarkan kinerja. Hasilnya sangat mengejutkan.
 
Mini otak tanpa panduan apapun hanya berhasil mencapai tolok ukur kinerja baik sebanyak 2,3 persen dari percobaan, yang diberi umpan balik acak mencapai 4,4 persen, sementara yang diberi umpan balik adaptif secara terus-menerus berhasil mencapai 46 persen. "Ketika kami bisa secara aktif memilih rangsangan pelatihan, kami benar-benar bisa membentuk jaringan untuk memecahkan masalah," ujar Robbins.
 
Meski hasilnya menjanjikan, penelitian ini masih memiliki keterbatasan. Mini otak yang sudah dilatih ternyata langsung "lupa" hanya dalam 45 menit jika dibiarkan tidak aktif.
 
Di sisi lain, Bioinformatikawan dari UC Santa Cruz, David Haussler, menegaskan bahwa tujuan penelitian ini bukan untuk menggantikan komputer dengan jaringan otak buatan. "Pilihan kedua mungkin dianggap keren, tetapi akan menimbulkan masalah etika yang serius terutama jika organoid otak manusia digunakan," kata Haussler.
 
Para peneliti berharap temuan ini kelak bisa menjadi landasan baru dalam memahami dan mengobati berbagai penyakit neurologis. Sehingga dapat membantu banyak orang.
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan