Ilustrasi hujan. Foto: Medcom
Ilustrasi hujan. Foto: Medcom

Kehujanan Bikin Sakit? Dokter IPB Ungkap Fakta Mengejutkannya

Citra Larasati • 16 Oktober 2026 17:36
Ringkasnya gini..
  • Mitos kehujanan bikin flu akhirnya dipatahkan secara medis oleh pakar kesehatan dari IPB University.
  • Bukan air hujan yang bikin sakit, melainkan suhu dingin dan polusi yang bisa melemahkan daya tahan tubuh.
  • Wajib segera bilas dan keringkan rambut sehabis kehujanan agar terhindar dari peradangan akibat polutan.
Jakarta: Rambut basah kuyup akibat diguyur hujan atau ‘keramas air hujan’ kerap dikaitkan dengan berbagai gangguan kesehatan, mulai dari flu hingga sakit kepala. Anggapan ini masih banyak dipercaya masyarakat.

Namun, secara medis, hujan atau rambut yang basah bukan penyebab langsung seseorang jatuh sakit.  Dosen Fakultas Kedokteran dan Gizi (FKGiz) IPB University, dr Widya Khairunnisa, menegaskan bahwa orang sehat tidak perlu khawatir terkena hujan.

“Secara medis, keramas saat hujan deras pada dasarnya tidak berbahaya bagi orang yang sehat, selama setelahnya tubuh dibilas dengan air bersih dan rambut dikeringkan segera,” jelas Widya dalam siaran persnya, Jumat, 16 Oktober 2026. 

Air Hujan Sebabkan Flu?

Lalu, mengapa kehujanan sering dikaitkan dengan flu? Menurut dr Widya, flu atau common cold merupakan infeksi saluran pernapasan yang disebabkan oleh virus, bukan oleh air hujan maupun rambut yang basah. Karena itu, ia menegaskan, kehujanan tidak otomatis membuat seseorang terkena flu. 
Kendati demikian, Widya mengatakan, paparan suhu dingin tetap dapat menimbulkan respons tertentu pada tubuh. “Dalam kondisi dingin, pembuluh darah di kulit menyempit (vasokonstriksi) untuk mempertahankan panas tubuh. Kondisi ini dapat membuat seseorang menggigil dan tidak nyaman," kata Widya.

“Udara dingin juga dapat memengaruhi mukosa (lapisan lendir) hidung dan saluran pernapasan, termasuk mekanisme pembersihan mukosiliar, yaitu sistem alami yang membersihkan lendir dan kuman, serta imunitas lokal di hidung,” urainya.
 
Ilustrasi banjir 2 medcom
Ilustrasi/Medcom

Perhatikan Kualitas Air Hujan

Selain soal suhu, ada faktor lain yang perlu diperhatikan, yaitu kualitas air hujan. Selama berada di atmosfer, air hujan dapat berinteraksi dengan debu, polutan udara, mikroorganisme, dan berbagai zat lain.

Partikel tersebut kemudian dapat menempel pada rambut dan kulit kepala. “Dalam kondisi tertentu, paparan polutan berpotensi memicu stres oksidatif dan peradangan, meskipun penelitian yang secara langsung menghubungkan air hujan dengan gangguan rambut dan kulit kepala masih terbatas,” kata Widya.

Karena itu, lanjutnya, setelah kehujanan, rambut sebaiknya dibilas dengan air bersih dan segera dikeringkan. Jika terkena hujan dalam waktu lama, terutama di lingkungan yang banyak debu dan polusi, mencuci rambut dengan sampo lembut dapat membantu membersihkan partikel yang menempel.

Siapa yang Perlu Lebih Waspada

Meski bukan penyebab langsung infeksi, paparan dingin dapat memengaruhi munculnya gejala pada orang yang sudah terpapar virus atau memiliki kondisi kesehatan tertentu. 

“Sebagian orang perlu lebih berhati-hati terhadap paparan udara dingin, seperti mereka yang sedang demam, sangat lelah, mengalami infeksi saluran pernapasan, atau memiliki asma dan rhinitis. Pada kondisi tersebut, udara dingin dapat memicu atau memperburuk gejala saluran pernapasan,” jelasnya.

Widya menyimpulkan, masalahnya bukan pada keramas saat hujan, tetapi pada paparan dingin berkepanjangan, kualitas air, dan kondisi kesehatan seseorang.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan