Kapal feri. DOK ASDP
Kapal feri. DOK ASDP

Cegah Kebakaran di Laut, BRIN Kaji Keselamatan Mobil Listrik di Kapal Feri

Renatha Swasty • 25 Agustus 2026 17:32
Ringkasnya gini..
  • BRIN meneliti risiko sistemik kebakaran kendaraan listrik di kapal feri untuk menyusun pedoman keselamatan transportasi air.
  • Pengujian menunjukkan baterai LFP menghasilkan ledakan lebih kecil tapi api awet, sedangkan baterai NMC menghasilkan suhu api lebih tinggi.
  • Pencegahan Darurat: Penelitian lanjutan berfokus pada pengujian unit EV utuh, pemetaaan prosedur pemadaman, hingga kesiapan evakuasi oleh awak kapal.
Jakarta: Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN) mengkaji risiko kebakaran kendaraan listrik yang diangkut menggunakan kapal feri. Hasil penelitian diharapkan dapat membantu operator dan pemangku kepentingan menyiapkan langkah tepat untuk mencegah dan menangani risiko kebakaran.
 
“Keselamatan kendaraan listrik di kapal tidak dapat dilihat dari satu aspek saja. Risiko tersebut bersifat sistemik sehingga tidak dapat dipandang dari satu aspek saja,” ujar Peneliti Ahli Muda Pusat Riset Teknologi Transportasi (PRTT) BRIN, Ayudia Pangestu Gusti, dikutip dari laman brin.go.id, Selasa, 25 Agustus 2026. 
 
Penelitian dilakukan dengan mengkaji keterkaitan antara baterai, sistem pengaturan baterai, kendaraan, dan sistem keselamatan kapal. Kajian juga mencakup proses pengambilan keputusan saat terjadi keadaan darurat. 

Dalam kajiannya, tim BRIN mengidentifikasi sejumlah kondisi yang dapat meningkatkan risiko kebakaran kendaraan listrik. Antara lain kerusakan baterai, kenaikan suhu yang tidak terkendali, korsleting, serta kegagalan dalam proses pemadaman api. 
 
Selain itu, proses penyimpanan dan pengaturan posisi kendaraan di kapal juga menjadi aspek yang perlu diperhatikan. Salah satu perhatian utama dalam kajian tersebut adalah karakteristik baterai kendaraan listrik. 
  Setiap jenis baterai memiliki perilaku berbeda ketika mengalami kebakaran. Hasil pengujian menunjukkan baterai jenis Lithium Iron Phosphate (LFP) menghasilkan ledakan yang relatif lebih kecil, tetapi api dapat bertahan lebih lama. Sementara itu, baterai jenis Nickel Manganese Cobalt (NMC) dapat menghasilkan suhu api yang lebih tinggi.
 
Perbedaan karakteristik tersebut penting dalam menentukan penanganan kebakaran. Menurut Ayudia, petugas perlu memahami karakteristik baterai sebelum menentukan metode pemadaman yang tepat.
 
“Pengendalian kebakaran sangat penting. Kita harus memahami karakteristik api dan perilaku baterai,” ujar dia. 
 
Tahap penelitian selanjutnya melalui pengujian menggunakan kendaraan listrik secara utuh. Pengujian tersebut bertujuan mengetahui apakah karakteristik baterai tetap sama ketika telah terintegrasi dengan sistem pengatur baterai dan komponen kendaraan lainnya.
 
Hasil penelitian tahun pertama dan pengujian lanjutan pada tahun kedua diharapkan dapat menjadi masukan dalam penyusunan pedoman transportasi serta prosedur pemadaman kebakaran kendaraan listrik di kapal. Pada tahap berikutnya, penelitian juga akan mengkaji kesiapan awak kapal dalam merespons kejadian darurat dan melaksanakan proses evakuasi. 
Melalui kajian tersebut, BRIN berupaya menyediakan dasar ilmiah untuk meningkatkan keselamatan pengangkutan kendaraan listrik di kapal feri. 
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan