Kepala Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Tanaman Obat Tradisional Kementerian Kesehatan, Akhmad Saikhu mengatakan, upaya tersebut dapat dilakukan dengan memanfaatkan jamu sebagai pengobatan pendamping. Hal ini terkait dengan fungsi jamu sebagai agen promotif untuk meningkatkan imunitas, preventif, kuratif, dan rehabilitatif.
Selain itu, dalam pengembangannya harus merujuk pada formulasi yang holistik untuk meningkatkan kualitas sediaan. Khususnya terkait kesesuaian bahan agar keamanan konsumsinya tetap terjaga.
Serta harus memenuhi parameter safety, efficiency dan patient reported outcome agar dapat diakaji apakah dapat memperbaiki gejala klinis dan memperbaiki pemeriksaan laboratoris.
“Pada saat penggunaan, atau pada saat penyusunan formula, dua hal ini sudah diujicobakan misalkan dengan uji preklinik, kemudian dengan uji klinik dan sebagainya,” jelas Saikhu dalam webinar bertajuk 'Jamu untuk Penanganan Penyakit Comorbid pada Covid-19' yang digelar Pusat Studi Biofarmaka Tropika (Trop BRC), Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) Institut Pertanian Bogor (IPB), Selasa,4 Agustus 2020.
Pada tiap proses penyiapan bahan bakunya pun harus menggunakan prinsip good agricultural product (GAP), good manufacturing product (GMP), serta lulus quality control. Pemerintah Tiongkok juga menerbitkan dokumen mengenai diagnosa dan treatment protocol for novel coronavirus pneumonia yang dalam bahasannya menyatakan pengobatan menggunakan traditional chinese medicine juga disarankan.
Baca juga: 659 Relawan Siap Jalani Uji Klinis Vaksin Covid-19
Misalnya dengan kapsul huoziang Zhengqi. Hasil observasi medis menunjukkan bahwa obat tersebut dapat berfungsi sebagai pembersihan paru-paru dan detoksifikasi. Hal tersebut bisa menjadi gambaran bagi peneliti di Indonesia untuk turut menerapkan obat tersebut namun dengan menggunakan tanaman obat tradisional Indonesia.
Ketua Departemen Kimia IPB University, Dyah Iswantini Pradono juga turut menyampaikan bahasan mengenai obat herbal untuk penyakit degeneratif yang mendukung pengobatan covid-19. Khususnya untuk penyakit tidak menular seperti hipertensi, diabetes melitus, penyakit jantung, gagal ginjal, dan paru kronik.
Berdasarkan data Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM) 2020, tanaman herbal seperti jahe, kunyit, dan temulawak dapat meningkatkan daya tahan tubuh dan mengobati penyakit degeneratif.
Dyah beserta timnya mengembangkan obat herbal sebagai antigout untuk menurunkan kadar asam urat dalam darah serta anti inflamasi. Penelitian tersebut dikembangkan dari tahap bioprospeksi hingga uji preklinis.
Uji in vitro menggunakan enzim xanthin oksidase serta in vivo menggunakan ekstrak formulasi pada mencit. Di samping itu, pengembangan obat herbal sebagai anti hipertensi dan anti obesitas juga dilakukan.
Targetnya, dalam tiga tahun mendatang produk tersebut sudah siap dikomersialkan. “Penelitian berbasis tanaman obat sangat perlu sekali kita kembangkan. Jadi kita harus melihat senyawa yang mencirikannya untuk ekstrak kunci,” ungkap
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News