Mengutip laman Metrotvnews.com, Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau, Suwarno, menyampaikan guncangan tersebut juga disertai ratusan kali gempa hembusan, gempa harmonik, dan tremor beruntun. Dari hasil pemantauan visual, kawah utama tampak menyemburkan asap tebal berwarna kelabu hingga hitam setinggi 100 hingga 400 meter.
Tingginya intensitas kegempaan ini menjaga tingkat aktivitas Gunung Anak Krakatau tetap berada pada Level III atau Siaga. Seiring ketetapan tersebut, para nelayan, wisatawan, serta warga sekitar diminta mematuhi radius aman untuk mengantisipasi potensi bahaya lontaran material vulkanik.
Rangkaian erupsi yang terus berlangsung pada Gunung Anak Krakatau menjadi gambaran nyata dari proses pembentukan daratan baru di tengah lautan. Fenomena geologi yang bertahap ini memperlihatkan bagaimana kekuatan alam bawah laut mampu melahirkan sebuah pulau vulkanik ke atas permukaan bumi.
Lantas, bagaimana proses pembentukan pulau vulkanik dari dasar samudra hingga menembus permukaan air? Yuk simak penjelasannya berikut ini.
Apa Itu Pulau Vulkanik?
Mengutip laman National Geographic, pulau vulkanik adalah daratan yang terbentuk dari akumulasi lelehan magma yang keluar dari mantel bumi melalui retakan di kerak samudra. Gunung api bawah laut atau submarine volcano menjadi arsitek utama di balik terciptanya daratan ini.Sebagian besar daratan di Bumi terbentuk akibat pergeseran lempeng benua. Sementara pulau vulkanik lahir langsung dari aktivitas pembekuan magma yang menumpuk sedikit demi sedikit dari dasar samudra yang dalam.
Bagaimana Daratan Ini Terbentuk?
Sama seperti erupsi darat, pembentukan pulau vulkanik membutuhkan tiga faktor utama, yaitu pasokan magma yang melimpah dari mantel bumi, celah tektonik, dan pembekuan oleh air laut.Ketika magma menyembur di dasar laut, tekanan air laut yang sangat tinggi menahan terjadinya ledakan dahsyat. Lelehan lava yang keluar akan langsung mendingin dan membeku membentuk batuan padat, menumpuk lapisan demi lapisan hingga membentuk gunung bawah laut atau seamount.
Seiring berjalannya waktu dan berlanjutnya erupsi, puncak gunung tersebut mendekati permukaan air tempat tekanan berkurang. Pada tahap ini, erupsi berubah menjadi eksplosif, memuntahkan uap, abu vulkanik, dan material batuan ke udara hingga akhirnya puncaknya muncul permanen di atas permukaan laut sebagai pulau baru.
Peran Mantel Bumi dan Lempeng Tektonik
Mengutip laman earth.com, studi terbaru dari University of British Columbia menunjukkan magma penyusun pulau vulkanik di seluruh dunia kemungkinan berasal dari satu reservoir mantel bumi yang seragam atau homogeneous. Namun, lava di tiap lokasi menghasilkan karakteristik berbeda karena berinteraksi dengan jenis batuan yang berbeda saat naik ke permukaan.Selain itu, dinamika lempeng tektonik memegang peran kunci. Pergerakan lempeng dapat menggeser pulau baru menjauhi titik panas (hotspot) magma di mantel bumi, yang bisa menghentikan suplai magma dan memicu erosi oleh gelombang laut.
Apabila suplai magma terhenti sebelum daratan cukup tinggi, pulau tersebut akan kembali terkikis dan tenggelam di bawah permukaan laut.
Bagaimana Kehidupan Dimulai di Pulau Vulkanik?
Meskipun awalnya hanya terdiri dari batuan vulkanik yang tandus, pulau baru dapat berkembang menjadi ekosistem yang sangat kaya. Kehidupan pertama diawali oleh bakteri autotrof yang memanfaatkan senyawa kimia dari sisa aktivitas vulkanik.Selanjutnya, benih tanaman terbawa oleh angin, arus laut, atau burung migrasi yang hinggap di daratan baru tersebut. Karena berkembang dalam lingkungan yang terisolasi dari benua utama, pulau vulkanik sering kali melahirkan spesies endemik unik yang tidak dapat ditemukan di tempat lain.
Sobat Medcom, itulah informasi mengenai bagaimana pulau vulkanik terbentuk. Semoga informasi ini dapat menambah wawasan kamu, ya! (Talitha Islamey)
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda