Pengenalan aplikasi Bonding buatan mahasiswa vokasi UI. Foto: Humas UI.
Pengenalan aplikasi Bonding buatan mahasiswa vokasi UI. Foto: Humas UI.

Vokasi UI Buat Aplikasi Bantu Deteksi Gangguan Kesehatan Mental Anak Tunarungu

Pendidikan inovasi kesehatan mental anak berkebutuhan khusus Universitas Indonesia
Arga sumantri • 10 Desember 2021 13:59
Depok: Tim Pengabdian Masyarakat (Pengmas) Program Pendidikan Vokasi Universitas Indonesia (UI) memberikan edukasi tentang deteksi dini gangguan mental pada anak berkebutuhan khusus. Edukasi melalui tiga rangkaian kegiatan dan pengenalan aplikasi karya mahasiswa.
 
Kegiatan berlangsung di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 11 Jakarta, November-Desember 2021. Pada rangkaian kegiatan tersebut, tim yang dipimpin dosen program studi (Prodi) Administrasi Rumah Sakit, Ari Nurfikri, mengenalkan aplikasi Bonding. Aplikasi ini dilengkapi fitur screening yang dapat mendeteksi gangguan kesehatan mental pada anak penyandang tunarungu.
 
Salwa Rafilia, mahasiswa pembuat purwarupa Aplikasi Bonding menjelaskan, aplikasi ini memberikan fitur edukasi, yaitu informasi tentang cara mengantisipasi gangguan mental pada anak tuna rungu. 

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


"Fitur screening juga dihadirkan dalam bentuk self assessment serta fitur video call dengan psikolog professional," ungkap Salwa dalam siaran pers UI dikutip Jumat, 10 Desember 2021.
 
Baca: Produktivitas Publikasi Ilmiah Meroket, Tapi Minim Dana Riset
 
Ia menambahkan, fitur Ugamax (Ular tangGa Max) merupakan permainan ular tangga yang dapat dimainkan anak dan orang tua untuk semakin saling mendekatkan diri. Selain itu, untuk meningkatkan minat belajar anak tunarungu melalui animasi 3D yang interaktif dalam mengenal benda.
 
Rangkaian kegiatan pengabdian masyarakat ini ditutup dengan evaluasi pemahaman yang diadakan secara luring di SLB Negeri 11 Jakarta pada Rabu, 1 Desember 2021, dengan menaati protokol kesehatan.
 
Tim berharap kegiatan ini dapat memantapkan pemahaman tentang proses deteksi maupun tindak lanjut kasus gangguan mental anak. Orang tua juga diharapkan tidak lagi menganggap gangguan mental adalah hal yang tabu dan tidak segan untuk segera konsultasi kepada ahli. 
 
"Hal ini agar kasus gangguan mental dapat ditekan dan diatasi segera," kata Ketua tim Ari Nurfikri.
 
(AGA)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif