Desain pengimplementasian alat monitoring kualitas air berbasis Internet of Things pada kolam budidaya. Foto: Dok. ITS
Desain pengimplementasian alat monitoring kualitas air berbasis Internet of Things pada kolam budidaya. Foto: Dok. ITS

Mahasiswa ITS Kembangkan Alat Pemantau Kualitas Air Kolam Lewat Smartphone

Citra Larasati • 03 Desember 2021 12:49
Jakarta:  Kematian massal ikan akibat kualitas air yang buruk menjadi salah satu permasalahan serius dalam budidaya ikan air tawar . Hal itulah yang mendorong tim mahasiswa Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) membuat alat pemantau guna mengendalikan kualitas air berbasis Internet of Things (IoT).
 
Alat ini dipraktikkan melalui kegiatan Kuliah Kerja Nyata (KKN) untuk kolam budidaya ikan gurami di Sambijajar, Sumbergempol, Tulungagung.  Tim KKN ini membuat alat ukur parameter kualitas air guna mempermudah pemantauan kualitas air kolam budidaya.
 
Selain itu, penambahan sistem IoT melalui aplikasi Smart Fish Pond ini bertujuan agar petani budidaya dapat mengakses data pengukuran serta melakukan kontrol penggantian air kolam ikan gurami melalui smartphone.  Ketua Tim KKN, Dewi Lailatus Su’adah menjelaskan, parameter terukur dalam sistem monitoring air kolam adalah suhu, kadar pH, dan kekeruhan air yang mengacu pada Standar Nasional Indonesia (SNI) untuk budidaya ikan gurami.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Selanjutnya, nilai yang telah diperoleh dari pengukuran sensor kemudian diolah menggunakan mikrokontroler dan diakses melalui aplikasi Smart Fish Pond. “Aplikasi ini akan memunculkan notifikasi jika air kolam sudah dalam kondisi harus diganti,” terangnya, dalam keterangan tertulis ITS, Jumat, 3 Desember 2021.
 
Di sisi lain, aplikasi Smart Fish Pond telah dilengkapi dengan fitur kontrol penggantian air otomatis. Fitur ini mengirimkan perintah kontrol dari aplikasi pada smartphone untuk menggerakkan relay aktuator solenoid valve sebagai pembuang air dan pompa untuk pengisian air.
 
Dengan demikian petani tidak perlu khawatir lagi akibat terlambat mengganti air kolam, karena kini penggantian air kolam sudah bisa dilakukan secara otomatis.  Dewi juga memaparkan terkait pemasangan alat detektor air kolam.
 
Baca juga:  ITS Ditunjuk Jadi Pelaksana Proyek Percontohan Jalur Evakuasi Inklusif
 
Ia menjelaskan bahwa alat dan sensor yang digunakan akan dimasukkan ke dalam sebuah panel box. Adapun desain panel box dirancang dengan menambahkan pipa PVC yang dapat dibuka tutup.
 
Desain ini bertujuan untuk memudahkan pengecekan sekaligus melindungi sensor agar tidak terkena air. “Kami mengantisipasi percikan air dan gangguan akibat pergerakan ikan,” jelasnya.
 
Mochammad Nizar, salah satu anggota tim KKN, turut menjelaskan hambatan yang mereka hadapi selama kegiatan KKN berlangsung. Menurutnya, adanya Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) membuat uji validitas dan proses pembuatan alat menjadi terhambat.
 
Karena menguji validitas alat ukur memerlukan standar kalibrator yang ada di laboratorium. “Sehingga keterbatasan mobilitas ini membuat proses ujinya membutuhkan waktu lebih lama,” jelas mahasiswa asal Surabaya ini.
 
Nizar dan segenap tim KKN berharap bahwa penggunaan alat monitoring ini dapat meningkatkan produktivitas petani budidaya ikan air tawar sekaligus mengurangi dampak kematian massal ikan gurami yang sering terjadi. Selain itu, sistem monitoring ini juga dapat digunakan oleh banyak petani budidaya air tawar.
 
“Penggunaannya tidak hanya pada jenis ikan gurami, namun juga pada jenis ikan budidaya lainnya,” tutupnya.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif