Mahasiswa Program Doktor dan Ilmu Kesehatan UGM, Vidyapati Mangunkusumo. DOK UGM
Mahasiswa Program Doktor dan Ilmu Kesehatan UGM, Vidyapati Mangunkusumo. DOK UGM

Teliti Peran CTR pada Bedah Fakoemulsifikasi Pasien Rabun Jauh, Vidyapati Dapat Gelar Doktor di UGM

Renatha Swasty • 17 Maret 2022 11:35
Jakarta: Miopia atau rabun jauh menjadi alasan seseorang datang berobat ke fasilitas kesehatan mata. Sebagian besar penyandang rabun jauh sejak usia prasekolah membutuhkan pertambahan derajat koreksi kacamata secara berkala.
 
Gangguan penglihatan akibat miopia semakin dirasakan apabila derajat miopia mencapai lebih dari 6 dioptri. Laporan bersama WHO Brian Holden Vision Institute pada 2015 menunjukkan miopia tak terkoreksi merupakan penyebab utama gangguan penglihatan yang memengaruhi 1,89 miliar orang di seluruh dunia dan diproyeksikan akan menjadi hampir dua kali lipat pada 2020.
 
Mahasiswa Program Doktor dan Ilmu Kesehatan, Vidyapati Mangunkusumo, pada ujian terbuka promosi doktor di Fakultas Kedokteran Kesehatan Masyarakat dan Keperawatan (FKKMK) Universitas Gadjah Mada (UGM) menyampaikan hasil penelitian disertasi soal peran Capsular Tension Ring (CTR) pada populasi miopia tinggi yang menjalani fakoemulsifikasi.

Bedah fakoemulsifikasi telah berkembang menjadi prosedur bedah refraktif mata yang mengutamakan presisi prediksi hasil refraksi. Namun, tantangan prosedur fakoemulsifikasi pada penyandang katarak dengan mopia tinggi ialah instabilitas area zonula yang disebabkan mencairnya badan vitreus.
 
“Implantasi Capsular Bag Tension Ring ke dalam kantong lensa pada saat operasi fakoemulsifikasi merupakan upaya untuk mengatasi instabilitas tersebut,” kata Vidyapati dikutip dari laman ugm.ac.id, Kamis, 17 Maret 2022.
 
Vidyapati memaparkan untuk menilai efektivitas CTR dalam kantong lensa, dilakukan implantasi dua jenis CTR berbeda pada diameter. Kemudian, dinilai perbedaan kinerja masing-masing CTR serta kemungkinan jangka panjang.
 
Penelitian dengan melakukan uji klinis prospektif dengan jumlah sampel 26 mata untuk kelompok CTR 1311 dan 25 mata untuk kelompok CTR 1210. Selanjutnya, data dibandingkan antar kelompok berupa nilai spherical equivalent (SE), mean absolute error, selisih perhitungan gaya pegas CTR, prediksi diameter kantong kapsul lensa, kedalaman bilik mata depan (BMD), dan simetri sudut iridokorneal pascaoperasi.
 
Dari hasil penelitian, kedua jenis CTR mampu menghasilkan dan mempertahankan spherical equivalent yang sama pada 1 bulan dan 3 bulan pascaoperasi. Namun, pada 3 bulan pascaoperasi ditemukan tidak ada perbedaan bermakna tetap mampu mencapai diameter kantong kapsul lensa yang sama dengan CTR 1311 karena gaya pegas kedua kelompok CTR melewati ambang gaya kontraksi kapsul lensa di ekuator.
 
Selanjutnya, efisiensi kinerja gaya pegas CTR 1311 lebih stabil dalam hal distribusi gaya di dalam kantong kapsul lensa. Namun, CTR 1210 mampu menghasilkan luaran sudut iridokorneal pascaoperasi lebih besar pada mata kanan sudut nasal dan temporal dan mata kiri sudut nasal dan temporal.
 
Vidyapati menyimpulkan kedua CTR memiliki kemampuan yang sama untuk mencapai optimalisasi penglihatan dikarenakan adanya efisiensi kinerja CTR 1311 untuk menjaga kestabilan area zonula lebih baik dari CTR 1210. Namun, CTR 1210 memiliki keamanan yang lebih baik dari CTR 1311.
 
Baca: Mahasiswa Program Doktor UGM Teliti Kondisi Ablasio Retina
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan