Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) Ahyahuddin Sodri
Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) Ahyahuddin Sodri

Tiga Langkah Membangun Industri Alat Kesehatan Dalam Negeri

Pendidikan Virus Korona Riset dan Penelitian
Muhammad Syahrul Ramadhan • 19 Mei 2020 19:02
Jakarta: Direktur Eksekutif Asosiasi Produsen Alat Kesehatan Indonesia (ASPAKI) Ahyahuddin Sodri menyebut, tidak mudah untuk membangun industri alat kesehatan dalam negeri yang baik. Untuk itu diperlukan strategi serta langkah-langkah yang tepat untuk mulai mengubah komposisinya, dari yang selama ini impor menuju industri alat kesehatan dalam negeri.
 
Ahyahuddin menjelaskan, salah satu masalah industri alat kesehatan adalah karena tidak adanya budaya menciptakan dan menggunakan. Karena negara-negera yang kuat dalam industri alat kesehatan sudah terbentuk budaya mencitpakan dan menggunakan produk alat kesehatan dalam negeri.
 
“Tidak mau menciptkan karena sindrom merasa inferior, tidak berani, sindrom bangga memakai produk asing. Karena, begitu banyak masyarakat senang menggunakan produk impor, belajar industri di Jepang 100 tahun sejajar negara maju,” kata Ahyahuddin dalam Tech Talk ‘Industri Alat Kesehatan: Awal Ketertarikan Industri dan Lembaga Penelitian?’, Selasa, 19 Mei 2020.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Indonesia harus bisa membuat langkah lebih tepat industri alat kesehatan,” sambungnya.
 
Baca juga:Penjelasan Pakar UGM Soal Kualitas Telur Ayam Fertil
 
Untuk itu kata dia budaya menciptakan dan menggunakan ini harus terlebih dahulu dibangun. Adapun langkahnya harus komperhensif.
 
Karena, mengembangkan industri bukan hanya tentang produk, tapi dari hulu ke hilir, dimulai dari adanya bahan baku. Ia mencontohkan, seperti pembuatan ventilator kekinian masih banyak komponen yang impor.
 
“Ini kita bicara mulai dari bahan bakunya, dari mulai industri yang mengolah setengah jadi, baru kita kemudian bicara industri jadinya, dan sektor penggunanya,” jelasnya.
 
Berikutnya harus terkstruktur. Pasalnya kata dia industri ini melibatkan banyak stakeholder. “Sektor pemerintah saja bukan satu kementerian yang terlibat, bukan Kementerian Kesehatan saja, kementerian lain perindustrian, perdagangan, artinya dari pemerintah sudah banyak, belum rumah sakit, dokter, perawat,” terangnya.
 
Selanjutnya adalah industri ini harus dibangun secara konsisten. Ia menuturkan, jika berkaca kepada sejumlah negara di Asia seperti Jepang atau Korea Selatan, industri alkes di negara tersebut baru terbangun setelah puluhan tahun.
 
“Jepang 70 tahun, Korea Selatan hanya separuhnya. Artinya kalau kita ingin mengembangkan dalam kurun satu waktu periode pemerintahan saja kemudian periode berikutnya berubah arahnya saya tidak yakin bahwa keinginan kita mengubah komposisi industri alat kesehatan lokal bisa terwujud,” kata dia.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif