Ilustrasi puasa/Freepik
Ilustrasi puasa/Freepik

Masih Punya Utang Puasa Ramadan? Ini Niat dan Cara Bayar Qadha yang Benar

Citra Larasati • 27 Januari 2026 18:43
Ringkasnya gini..
  • Puasa qadha wajib bagi yang tinggalkan puasa Ramadan karena uzur syar'i. Niatnya harus sebelum fajar, berbeda dengan puasa sunnah.
  • Qadha puasa lebih utama daripada puasa sunnah Syawal. Jika menunda hingga Ramadan berikutnya tanpa uzur, wajib bayar fidyah.
  • Langkah qadha: tentukan hari (hindari hari haram), niat malam hari, sahur, jaga hal batal, perbanyak amalan, dan buka dengan doa.
Jakarta: Mengganti utang puasa Ramadan yang tertinggal adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Namun, masih banyak yang belum memahami tata cara dan niat yang tepat untuk menunaikannya.
 
Berikut panduan lengkap membayar hutang puasa beserta hal-hal yang perlu diperhatikan. Sebelum membahas lebih lanjut tentang cara melunasinya, yuk kenalan dulu dengan puasa qadha. Berikut penjelasannya.

Apa Itu Puasa Qadha?

Dikutip dari laman Baznas Lampung, Puasa qadha adalah kewajiban untuk mengganti hari-hari puasa Ramadan yang tertinggal karena alasan syar'i seperti sakit, bepergian jauh (musafir), haid, atau nifas. Sebagaimana dijelaskan dalam QS. Al-Baqarah ayat 184, Allah SWT memerintahkan: "Maka barang siapa sakit atau dalam perjalanan (lalu tidak berpuasa), maka wajib menggantinya pada hari-hari yang lain."
 
Dalam ajaran Islam, seseorang yang meninggalkan puasa di bulan Ramadan wajib mengqadha atau mengganti puasa tersebut. Berbeda dengan puasa sunnah, puasa qadha termasuk ibadah wajib yang harus ditunaikan dengan niat yang benar, waktu pelaksanaan yang sesuai, serta menjaga adab dan amalan selama berpuasa.

Lafal Niat Puasa Qadha

Dikutip dari laman Baznas Jawa Barat, niat merupakan syarat sah puasa, termasuk puasa qadha. Niat dapat diucapkan dalam hati atau dilafalkan dengan lisan untuk mempertegas. Lafal niat puasa qadha Ramadhan adalah:

نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ قَضَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ لِلَّهِ تَعَالَى
 
Nawaitu shauma ghadin 'an qadha'i fardhi syahri Ramadhana lillahi ta'ala.
 
Artinya: "Aku berniat untuk mengqadha puasa bulan Ramadhan esok hari karena Allah SWT."
Perlu diingat, niat harus dilakukan sebelum terbit fajar atau waktu imsak. Puasa qadha termasuk puasa wajib, sehingga niat tidak bisa dilakukan di siang hari seperti pada puasa sunnah.

Langkah-Langkah Mengganti Puasa Ramadan

Melansir laman Baznas Jawa Barat, terdapat beberapa langkah yang harus dilakukan untuk mengganti puasa Ramadhan dengan benar:

Tentukan hari puasa Qadha

Kamu perlu menentukan hari pelaksanaan puasa qadha di luar bulan Ramadhan, dan hindari hari-hari yang diharamkan untuk berpuasa seperti Idul Fitri dan Idul Adha.

Melafalkan niat di malam hari

Kedua, lafalkan niat di malam hari sebelum waktu subuh.

Makan sahur

Meskipun tidak wajib, disunnahkan untuk makan sahur guna menguatkan fisik dan mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW.

Menjaga dari hal yang membatalkan puasa

Keempat, jaga diri dari hal-hal yang dapat membatalkan puasa seperti makan, minum, hubungan suami istri, dan tindakan lain yang mengurangi pahala.

Menjaga akhlak dan memperbanyak amalan

Berikutnya, perbanyak amalan seperti membaca Al-Quran, berdzikir, bershalawat, dan bersedekah agar puasa qadha bernilai pahala besar.

Berbuka dengan doa

Keenam, saat berbuka, bacalah doa yakni Allahumma laka shumtu wa 'ala rizqika afthartu. Ini berarti Ya Allah, hanya untuk-Mu aku berpuasa, dan dengan rezeki dari-Mu aku berbuka.
 
Atau membaca doa yaitu Dzahabadzh dzhama-u wabtallatil-'uruqu wa tsabatal-ajru insyaa-Allah. Artinya adalah telah hilang rasa haus dan urat-urat telah basah serta pahala tetap, insyaallah.

Batas Waktu dan Konsekuensi Penundaan

Mengganti puasa Ramadan sebaiknya dilakukan sebelum masuk bulan Ramadan berikutnya. Apabila seseorang menunda tanpa uzur hingga datang Ramadan berikutnya, ia berdosa dan wajib mengqadha puasa yang ditinggalkan serta membayar fidyah menurut sebagian besar ulama.
 
Menunda qadha tanpa alasan syar'i dianggap makruh, bahkan bisa berdosa jika melewati Ramadhan berikutnya. Sebagaimana pendapat Imam Malik, orang yang menunda qadha hingga Ramadhan tiba kembali wajib menggantinya dengan fidyah. Ini menunjukkan pentingnya segera menunaikan kewajiban sebelum mengejar amalan sunnah lainnya.

Prioritas Puasa Qadha dan Puasa Sunnah

Setelah memahami cara mengqadha puasa, kini saatnya mengetahui prioritasnya dibanding puasa sunnah. Dikutip dari laman Baznas Lampung, pertanyaan yang sering muncul adalah bolehkah langsung berpuasa sunnah Syawal jika masih memiliki hutang puasa Ramadhan?
 
Perbedaan keduanya terletak pada tingkat kewajiban. Puasa qadha bersifat wajib dan harus didahulukan, sedangkan puasa Syawal bersifat sunnah dan tidak berdosa jika ditinggalkan. Dalam hadis Qudsi, Allah SWT berfirman: "Tidak ada amalan yang lebih Aku cintai dari hamba-Ku kecuali apa yang telah Aku wajibkan atasnya" (HR. Bukhari). Dengan demikian, mendahulukan puasa qadha lebih utama dan menunjukkan tanggung jawab seorang Muslim terhadap kewajiban agamanya.
 
Ulama memiliki dua pandangan utama terkait hal ini. Mazhab Syafi'i dan Hambali mewajibkan mendahulukan puasa qadha sebelum puasa Syawal. Sementara Mazhab Hanafi dan sebagian ulama kontemporer membolehkan puasa Syawal terlebih dahulu karena waktu pelaksanaannya terbatas, sedangkan qadha bisa dilakukan sebelum Ramadhan berikutnya.

Hikmah dan Makna di Balik Puasa Qadha

Selain itu, puasa qadha melatih tanggung jawab dan disiplin dalam menunaikan kewajiban. Sementara puasa sunnah seperti Syawal menumbuhkan semangat istiqamah dalam beribadah setelah Ramadhan. Keduanya saling melengkapi antara puasa qadha sebagai bentuk kepatuhan, dan puasa sunnah sebagai penyempurna ketaatan.
 
Mengganti puasa Ramadhan merupakan kewajiban yang harus ditunaikan oleh setiap Muslim yang meninggalkan puasa karena uzur syar'i. Penting untuk mengetahui dan memahami lafal niat puasa qadha, cara pelaksanaannya, waktu yang tepat, serta aturan-aturan terkait fidyah dan adab berpuasa. Mari tunaikan dengan ikhlas, tepat waktu, dan semangat memperbaiki diri. Semoga ibadah puasa kita, baik yang wajib maupun sunnah, diterima oleh Allah SWT dan menjadi pemberat amal kebaikan di akhirat kelak.
 
Nah itulah penjelasan mengganti puasa ramadhan yang patut dipahami. Semoga bermanfaat ya! (Bramcov Stivens Situmeang)
 
Baca juga:  Jadwal Puasa Sunnah Bulan Februari 2026: Syaban-Ayyamul Bidh
 
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan