Sistem pendidikan Singapura mengadopsi sistem Inggris (British system) yang memiliki struktur berbeda dengan Indonesia. Karena itu, memahami jenjang O-Level dan A-Level penting untuk mengetahui posisi kedua kualifikasi tersebut dalam sistem pendidikan Singapura, terutama ketika membahas penyetaraan ijazah.
Dosen School of Social Sciences, College of Humanities, Arts, and Social Sciences, Nanyang Technological University (NTU) Singapura, Sulfikar Amir, menjelaskan struktur pendidikan tersebut berdasarkan pengalamannya selama 10 tahun mengajar di Singapura. Ia juga pernah menjabat sebagai koordinator penerimaan mahasiswa baru di NTU selama tiga tahun. Penjelasan itu disampaikan dalam program Rakyat Bersuara. Sulfikar menegaskan pandangannya merupakan penjelasan pribadi berdasarkan pengalaman tinggal dan berada dalam sistem pendidikan Singapura, bukan mewakili institusi tertentu.
Lantas apa sebenarnya O-Level dan A-Level dalam Sistem Pendidikan Singapura? Berikut penjelasannya:
O-Level
O-Level adalah singkatan dari Ordinary Level. Kualifikasi ini berkaitan dengan ujian yang ditempuh siswa setelah menyelesaikan pendidikan secondary school di Singapura.Sulfikar menjelaskan pendidikan dasar atau primary school di Singapura dimulai ketika anak berusia enam tahun. Setelah itu, siswa melanjutkan pendidikan secondary school selama empat tahun, yang secara umum mencakup jenjang setara kelas 7 hingga kelas 10 di Indonesia.
Setelah menyelesaikan jenjang tersebut, siswa mengikuti ujian O-Level. Hasil ujian ini menjadi salah satu faktor yang menentukan jalur pendidikan selanjutnya.
Lulusan O-Level memiliki sejumlah pilihan, termasuk melanjutkan pendidikan ke jalur A-Level atau politeknik. Kedua jalur tersebut memiliki orientasi dan struktur pendidikan yang berbeda.
Kuliah. Medcom
A-Level
A-Level merupakan singkatan dari Advanced Level. Kualifikasi ini menjadi salah satu jalur akademik bagi siswa yang ingin melanjutkan pendidikan ke universitas di Singapura.Sulfikar menjelaskan, jalur A-Level umumnya ditempuh selama dua tahun setelah secondary school. Periode tersebut secara umum setara dengan kelas 11 dan 12 SMA di Indonesia.
Siswa yang melanjutkan ke jalur ini biasanya memiliki hasil O-Level yang memenuhi persyaratan untuk mengikuti pendidikan persiapan masuk universitas. Setelah menyelesaikan A-Level, mereka dapat mendaftar ke perguruan tinggi dengan memenuhi persyaratan penerimaan yang berlaku.
Menurut Sulfikar, A-Level menjadi salah satu kualifikasi yang diterima universitas di Singapura, termasuk NTU. Jalur lainnya adalah pendidikan politeknik.
Apa Perbedaan O-Level dan A-Level?
O-Level dan A-Level memiliki fungsi berbeda dalam struktur pendidikan Singapura. O-Level berkaitan dengan ujian setelah pendidikan secondary school, sedangkan A-Level merupakan kualifikasi lanjutan yang dapat digunakan untuk mendaftar ke universitas.
Berikut perbedaan keduanya:
- O-Level: ujian yang ditempuh setelah siswa menyelesaikan pendidikan secondary school. Hasilnya menjadi salah satu pertimbangan untuk menentukan jalur pendidikan berikutnya.
- A-Level: kualifikasi akademik yang umumnya ditempuh selama dua tahun setelah secondary school dan menjadi salah satu jalur untuk masuk universitas.
- Politeknik: jalur pendidikan lain yang dapat dipilih lulusan O-Level. Pendidikan politeknik umumnya berlangsung selama tiga tahun dan lebih berorientasi pada keterampilan serta penerapan bidang studi.
Selain melalui A-Level, siswa di Singapura dapat melanjutkan pendidikan ke universitas setelah lulus politeknik. Sulfikar mengatakan kedua jalur tersebut merupakan kualifikasi yang diterima dalam proses penerimaan mahasiswa baru di NTU.
“Siapa pun tidak akan bisa menggunakan advanced diploma untuk apply ke NTU, NUS, atau universitas lain di Singapura. Karena yang diterima itu hanya lulusan A-Level dan Politeknik,” kata Sulfikar.
Meski demikian, penerimaan mahasiswa tetap mengikuti persyaratan masing-masing universitas dan program studi. Karena itu, jenis kualifikasi pendidikan perlu dibedakan dari sertifikat pelatihan atau kursus yang tidak setara dengan jalur akademik tersebut.
Sulfikar juga menjelaskan perbedaan A-Level dengan advanced diploma. Menurutnya, advanced diploma yang dimaksud dalam penjelasannya merupakan program pendidikan atau pelatihan yang tidak dapat serta-merta disamakan dengan kualifikasi A-Level.
Ia turut menjelaskan, di Singapura terdapat lembaga pendidikan tinggi yang dikenal sebagai Institute of Higher Learning (IHL). Kelompok ini mencakup universitas otonom yang mendapat subsidi pemerintah, antara lain National University of Singapore (NUS), Nanyang Technological University (NTU), Singapore Management University (SMU), Singapore University of Technology and Design (SUTD), dan Singapore University of Social Sciences (SUSS).
Di luar itu, terdapat private education institution (PEI) yang menawarkan berbagai program pendidikan dan pelatihan. Sulfikar mencontohkan Management Development Institute of Singapore (MDIS), yang juga menjalin kerja sama dengan universitas luar negeri.
Melalui kerja sama tersebut, mahasiswa dapat mengikuti program yang menggunakan kurikulum universitas mitra dan memperoleh ijazah dari universitas pemberi gelar sesuai ketentuan programnya. Karena itu, status lembaga penyelenggara, jenis program, dan institusi yang menerbitkan ijazah perlu diperiksa secara terpisah.
Sulfikar mengatakan, lulusan O-Level yang masuk MDIS dapat mengikuti program seperti foundation, diploma, hingga advanced diploma. Namun, ia menyebut program advanced diploma yang dibahasnya berlangsung sekitar enam hingga delapan bulan dan dapat dilanjutkan dengan pendidikan sarjana selama tiga tahun.
Ia menegaskan advanced diploma tidak dapat langsung dianggap setara dengan A-Level maupun sertifikat kelulusan SMA di Singapura. “Advanced diploma itu tidak sama dengan sertifikat SMA di Singapura. Mengatakan bahwa advanced diploma setara dengan A-Level atau advanced level adalah sebuah kesalahan yang sangat fatal. Karena advanced diploma itu kontennya sama seperti kursus,” tegasnya.