Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kemendikbudristek Nizam. Foto: Zoom
Plt Dirjen Pendidikan Tinggi Riset dan Teknologi, Kemendikbudristek Nizam. Foto: Zoom

Anggaran Penyediaan Koneksi Internet Rp7 Triliun, Belum Jangkau Seluruh Siswa

Pendidikan Sekolah Pembelajaran Daring Anggaran Pendidikan Digitalisasi Sekolah Pembelajaran jarak jauh
Citra Larasati • 10 September 2021 06:27
Jakarta:  Plt. Dirjen Dikti Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan Riset dan Teknologi (Kemendikbudristek), Nizam mengatakan, pemerintah mengalokasikan anggaran sekitar Rp7 triliun untuk menyediakan koneksi internet.  Anggaran ini, kata Nizam, hanya mampu menjangkau kurang dari 60 persen peserta didik di seluruh Tanah Air.
 
Untuk itu, menurut Nizam, perlu dipikirkan ke depan bagaimana penyediaan akses dan jaringan internet secara cost effective atau murah dan merata untuk semua. "Kalau biaya koneksi menjadi beban bagi pemerintah dan siswa, tentu seluruh anggaran operasional sekolah bisa habis hanya untuk internet dan hal ini akan menghambat upaya untuk meningkatkan kualitas pendidikan Indonesia,” ujarnya dalam sesi keynote speech Digiweek 2021 yang diselenggarakan Center for Indonesian Policy Studies (CIPS), Kamis, 9 September 2021.
 
Untuk meningkatkan kualitas pendidikan dan penetrasi penggunaan teknologi digital, Indonesia perlu memikirkan cara-cara baru bagaimana menyediakan akses dan jaringan internet yang inklusif, berkecepatan tinggi dan terjangkau untuk semua.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menambahkan, Indonesia juga membutuhkan sumber daya manusia yang kuat di bidang digital. Sebanyak 8.000 mahasiswa sudah mengikuti program mikro kredensial untuk menguasai dan memperdalam kompetensi yang tersertifikasi secara internasional di bidang teknologi informasi, cyber security, jaringan, teknologi cloud computing, machine learning dan berbagai teknologi yang dibutuhkan pada era revolusi industri 4.0 secara masif.
 
“Program ini diharapkan dapat membuka akses bagi para mahasiswa akan memiliki sertifikasi internasional dengan kompetensi yang dibutuhkan untuk memperkuat teknologi dan informasi Indonesia,” imbuhnya.
 
Baca juga:  Nadiem Tunda Penerapan Juknis Dana BOS Berdasarkan Jumlah Minimal Siswa
 
Riset dan pengembangan juga perlu diperkuat untuk menjadikan Indonesia sebagai kreator, tidak hanya menjadi pasar dan konsumen. Selain mempersiapkan sumber daya manusia pada sisi software, Indonesia juga perlu memperkuat produk merah putih, salah satunya dengan menghadirkan industri semi conductor untuk menempatkan Indonesia sebagai produsen alat-alat teknologi informasi.
 
Untuk itu, semua membutuhkan kerja sama dan kolaborasi dunia perguruan tinggi, dunia usaha, industri dan para pembuat kebijakan. Kita perlu membangun kedaulatan dalam dunia teknologi informasi lewat penyediaan akses internet dan akses pada teknologi yang inklusif.

 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif