Ilustrasi Publikasi Ilmiah. Foto;  Medcom.id/M.Rizal.
Ilustrasi Publikasi Ilmiah. Foto; Medcom.id/M.Rizal.

Pertumbuhan Publikasi Ilmiah Indonesia Tercepat di Dunia

Pendidikan Publikasi Ilmiah
Citra Larasati • 12 September 2019 18:37
Jakarta: Pertumbuhan publikasi ilmiah Indonesia dalam lima tahun terakhir menjadi yang paling tercepat di dunia. Meski saat ini, baru sebatas memimpin di kawasan Asia Tenggara.
 
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, capaian publikasi ilmiah Indonesia terutama yang terbit di jurnal terindeks internasional seperti Scopus mengalami kemajuan pesat. Terutama dalam lima tahun terakhir, di mana sebelumnya selama bertahun-tahun peringkat publikasi ilmiah Indonesia kesulitan menyalip setidaknya empat negara di kawasan Asia Tenggara.
 
"Saya ingin meng-highlight capaian publikasi yang selama ini selalu berada di posisi keempat di antara negara-negara Asia Tenggara. Pada tahun ini akhirnya bisa jadi nomor satu di Asia Tengara. Dari sisi pertumbuhan, publikasi Indonesia juga nomor satu di dunia," kata Nasir usai penyerahan penghargaan kepada pemenang SINTA Award, di Jakarta Convention Center (JCC), Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Sampai tanggal 9 September 2019, publikasi ilmiah Indonesia yang dihasilkan di 2018 dan sudah terbit di jurnal terindeks Scopus sudah mencapai 34.007. "Angka ini menduduki posisi pertama di Asia Tenggara, diikuti oleh Malaysia sebanyak 33.286," kata Nasir.
 
Meski begitu, Indonesia juga masih memiliki pekerjaan rumah yang besar. Yakni bagaimana mendorong riset dan penelitian tersebut agar menjadi inovasi, bahkan dapat dihilirisasi dan dikomersialisasikan ke industri.
 
Nasir telah meminta kepada jajarannya agar segera melakukan pemetaan riset nasional.Untuk itu, ia mendorong dosen dan peneliti untuk memastikan risetnya berbasis pada kebutuhan masyarakat.
 
"Mana yang riset dasar, riset terapan, dan pengembangan. Kalau sudah pengembangan maka harus masuk industri. Kalau sudah masuk industri harapannya bisa dihilirisasi ke industri," papar Nasir.
 
Sebelumnya, Indonesia masih harus mengeluarkan upaya besar dalam meningkatkan visibilitas publikasi dan jurnal ilmiah. Dosen dan peneliti didorong untuk melakukan penelitian dan publikasi ilmiah yang relevan dengan kebutuhan masyarakat, bukan hanya sekadar memenuhi tuntutan kenaikan jabatan dan pengembangan karier semata.
 
Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti), Mohamad Nasir mengatakan, publikasi di jurnal ilmiah saat ini menjadi suatu kewajiban bagi pejabat fungsional dosen dan peneliti serta fungsional lainnya. "Terutama sebagai persyaratan kenaikan dan mempertahankan jenjang jabatan serta mahasiswa sebagai persyaratan kelulusan," kata Nasir dalam sambutannya di Acara Pemberian penghargaan kepada pemenang SINTA Award 2019, di JCC, Jakarta, Kamis, 12 September 2019.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif