NEWSTICKER
Pengamat Pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji. Foto: Medcom.id/Citra Larasati
Pengamat Pendidikan dari Center for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadji. Foto: Medcom.id/Citra Larasati

Nalar Berpikir Rendah Penyebab Suasana Kelas 'Irit Bicara'

Pendidikan Metode Pembelajaran
Muhammad Syahrul Ramadhan • 15 Januari 2020 20:24
Jakarta: Berdasarkan data Bank Dunia, kelas-kelas di Indonesia merupakan kategori kelas yang irit bicara dibanding negara lain. Hal tersebut merupakan salah satu indikator belum banyaknya sekolah yang menerapkan pembelajaran Abad 21 di kelasnya.
 
“Guru harus memberi contoh, dari databank dunia, guru kita rata-rata bicara hanya setengahnya dibanding guru dari negara lain dan anak-anak kita setengah dari anak-anak di negara lain. Kesannya kelas paling sepi, penganut aliran kebatinan,” tegas Pengamat Pendidikan dariCenter for Education Regulations and Development Analysis (Cerdas), Indra Charismiadjidalam diskusi grup Guru Merdeka Belajar, di Jakarta, Selasa, 14 Januari 2020.
 
Upaya mewujudkan penguasaan terhadap keterampilan belajar abad 21 tersebut di sekolah masih terkendala rendahnya nalar berpikir siswa di Indonesia. Menurut Indra, keterampilan abad 21 baru bisa tumbuh dengan subur ketika nalar siswa sudah tinggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Untuk itu penting bagi pemerintah untuk memupuk peningkatan daya berpikir siswa di sekolah. Untuk diketahui, keterampilan abad 21 itu di antaranya adalah berpikir kritis (critical thinking), kreatif (creativity), kolaborasi (collaboration) dan komunikasi (communication) atau biasa disebut 4C.
 
“Kalau nalarnya masih rendah jangan harap mereka bisa berpikir kritis, bisa berkolaborasi komunikasi ataupun kreatif,” terang Indra
 
Ia juga menegaskan, saat ini definisi cerdas sudah berbeda dengan era lawas yang hanya dilihat berdasarkan nilai. Makna cerdas di era kekinian adalah mampu bernalar tingkat tinggi atau dalam taksonomi bloom Anderson dan Krathwohl masuk di C4 (menganalisa), C5 (mengevaluasi), C6 (mencipta).
 
“Bukan berdasarkan ujian ulangan karena tergantung bentuk ulangan atau ujian diberikan,” terangnya.
 
Lebih lanjut Indra menjelaskan, makna berpikir kritis yaitu kemampuan untuk memilih berdasarkan keinginan dan pemikiran sendiri. Orang yang bepikir kritis, kata Indra, faktor intrinsik atau faktor dari dalam dirinya lebih dominan.
 
“Faktor intrinsik dari faktor ekstrinsik. Ini kan butuh penalaran tingkat tinggi. Karena faktor intrinsiknya tinggi yang disebut nalar tinggi, makanya orang yang bisa berpikir kritis nalarnya pasti tinggi,” terangnya.
 
Kemampuan berikutnya adalah kolaborasi. Kemampuan ini sangat dibutuhkan, karena dalam menciptkan sesuatu pasti ada campur tangan orang lain.
 
Ia juga menegaskan, jika orang tidak memilki kemampuan ini maka untuk sampai ke tahap mencipta akan sulit. “Kesimpulannya, mereka yang tidak bisa berkolaborasi tidak akan bisa mencapai level nalar C6,” terangnya.
 
Kemampuan yang terakhir adalah kreativitas. Kemampuan ini kata Indra adalah siswa yang mampu mengembangkan banyak jawaban dari satu pertanyaan, bahkan tidak lagi mengandalkan kunci jawaban.
 
“Mereka kreatif, tidak mencari kunci jawaban, tapi mencari jawaban baru,” kata Indra.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif