Polisi melakukan penangkapan terduga teroris.  Foto: Antara/Muhammad Iqbal.
Polisi melakukan penangkapan terduga teroris. Foto: Antara/Muhammad Iqbal.

Stigma Perguruan Tinggi Sarang Radikalisme Menguat

Pendidikan Tangkal Radikalisme
Intan Yunelia • 06 Juni 2018 10:35
Jakarta: Asosiasi Perguruan Tinggi Swasta Indonesia (APTISI) meminta pemerintah tidak berlebihan dalam mengambil kebijakan, yang dapat membuat stigma perguruan tinggi sebagai sarang terorisme menguat. Dampaknya, perguruan tinggi berpotensi ditinggalkan masyarakat, dan target untuk meningkatkan daya saing pendidikan tinggi secara global terancam semakin keteteran.
 
Ketua Umum Aptisi, Budi Djatmiko menilai wacana Menteri Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Menristekdikti) mengawasi nomor kontak dan medsos dosen dan mahasiswa tidak hanya berlebihan, namun juga blunder. Kebijakan ini justru semakin menguatkan stigma kampus sebagai sarang radikalisme.
 
"Saya khawatir dengan begini kampus ditinggalkan calon mahasiswa. karena stigma kampus gudangnya radikalisme padahal belum terbukti secara empiris," kata Budi Djatmiko dalam keterangan tertulisnya, Rabu 6 Juni 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Padahal secara persentase keterlibatan mahasiswa dan dosen dalam aktivitas teror sangat kecil sekali. Menristekdikti tidak bisa menggeneralisasi kampus menjadi sarang penyebaran ajaran radikalisme.
 
"Misalnya saja yang tertangkap kasus teroris ada 100 mahasiswa (maka dari civitas akademik kampus hanya 0, 0000125 artinya tidak ada 0,1 persennya pun," jelas Budi.
 
Kata Budi, seharusnya pemerintah mengglorifikasi kampanye jika terorisme adalah musuh bersama. Tetapi caranya dengan persuasif dan kondusif, bukan dengan cara represif mengawasi aktivitas privasi mahasiswa dan dosen.
 
"Usul saya lebih baik pemerintah fokus membangun kesadaran kolektif untuk memerangi teroris. Sudah tidak lagi mendeskriditkan Islam, pesantren, sarungan, berjenggot," jelasnya.
 
Ia melanjutkan radikalisme bisa dicegah dengan memperhatikan pendidikan kompetensi akhlak mulia. Radikalisme di lingkungan kampus muncul karena mahasiswa krisis sosok keteladanan.
 
Radikalisme jadi jalan pintas mengekspresikan diri mereka. "Terutama para pejabat, harus menjadi contoh praktis bagi rakyatnya dengan memberikan rasa keadilan, kesederajatan, kesejahteraan dan solidaritas," jelasnya.
 
Menangkal tumbuhnya radikalisme di kampus bisa dilakukan dengan membangun sinergi yang baik antara pemerintah, orangtua mahasiswa dan kampus. Sehingga, dapat tercipta suasana kebersamaan dan tidak saling curiga.
 
Seperti diberitakan sebelumnya, Menristekdikti Mohamad Nasir mengatakan akan meningkatkan upaya preventif menangkal radikalisme dan aktivitas terorisme di kampus. Salah satunya dengan memperketat pengawasan di kampus, yakni mendata sekaligus mengawasi aktivitas telepon dan media sosial seluruh dosen dan mahasiswa.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif