Ilustrasi ITS. DOK ITS
Ilustrasi ITS. DOK ITS

BUMN Gandeng ITS Kembangkan Teknologi Kontainer Berpendingin

Renatha Swasty • 28 Juli 2022 17:09
Jakarta: Kebutuhan efrigerated container (reefer) atau kontainer berpendingin di industri semakin meningkat. PT Pelayaran Nasional Indonesia (Persero) atau Pelni dan PT Industri Kereta Api (Persero) atau INKA menggandeng Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) mengembangkan teknologi reefer di bidang logistik.
 
Wakil Rektor IV Bidang Riset, Inovasi, Kerja Sama dan Kealumnian ITS Bambang Pramujati menjelaskan kerja sama ini dilatarbelakangi meningkatnya permintaan kebutuhan reefer oleh Pelni. Kementerian Koordinator Bidang Kemaritiman dan Investasi (Kemenko Marves) dan Kementerian Badan Usaha Milik Negara (BUMN) berinisiatif mengajak perguruan tinggi mengembangkan teknologi dan Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) dari reefer.
 
Bambang menyebut ITS semakin menunjukkan semangatnya untuk terus berkontribusi secara nasional dalam memberi kebermanfaatan bagi masyarakat dan industri. Kontribusi ini datang dalam beberapa hal, seperti penerapan teknologi dari penelitian, penelitian dan pengembangan teknologi baru, pendidikan dan pelatihan, hingga pemberian bantuan teknis seputar bidang ini.

Pengembangan-pengembangan untuk menciptakan reefer yang memiliki berbagai keunggulan namun tetap ekonomis. Salah satunya, penggunaan material menjadi sebagian aspek sisi yang dikembangkan.
 
“Dalam pemilihan material turut mempertimbangkan salah satu hasil penelitian dosen ITS yang menggunakan material komposit yang lebih tahan terhadap kondisi cuaca pada kontainer,” jelas dia.
 
Selain itu, sistem refrigerasi yang digunakan juga mengombinasikan sistem kompresi uap dan phase change material (PCM). Hal ini bertujuan untuk membuat reefer dapat menghemat penggunaan energi sebesar 20 hingga 30 persen dari reefer konvensional.
 
Tak hanya itu, hal ini turut didukung dengan pemanfaatan internet of things (IoT) yang bertujuan mengontrol sistem pendingin serta monitoring suhu dan kelembaban reefer. Nantinya, skema kerja sama ITS dengan Pelni dan INKA ini turut menjadi salah satu bentuk peningkatan produk buatan dalam negeri.
 
Hal ini diperkuat dengan adanya dukungan dari tim peneliti di ITS yang telah memiliki pengalaman dalam pengembangan teknologi yang dimanfaatkan pada pengembangan produk tersebut. Berlangsung selama dua tahun, kerja sama ini akan melibatkan tim peneliti yang terdiri atas dosen-dosen dari berbagai disiplin ilmu di ITS.
 
“Mulai dari dosen dari Departemen Teknik Sistem Perkapalan, Departemen Teknik Instrumentasi, dan Departemen Teknik Sistem dan Industri,” beber dia.
 
Bambang berharap nantinya lewat kerja sama ini dapat meningkatkan pula Tingkat Kandungan Dalam Negeri (TKDN) produk reefer tersebut. “Kerja sama ini menjadi salah satu tantangan sekaligus kesempatan untuk meningkatkan TKDN dari produk yang dikembangkan,” ujar dia.
 
Kerja sama antara ITS bersama Pelni dan INKA ini telah diresmikan lewat penandatanganan nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MoU) yang dilaksanakan luring pada Kamis, 21 Juli 2022.
 
Baca juga: ITS Ciptakan Air Purifier Berbasis Nano-Copper untuk Rumah Sakit 

 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan