“Program yang akan kami perkenalkan adalah INSIGHT Scholarship. Program ini merupakan skema beasiswa yang ditujukan bagi mahasiswa internasional yang ingin menempuh pendidikan studi Islam di Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri di Indonesia,” ujar Direktur Pendidikan Tinggi Keagamaan Islam Kemenag, Sahiron di Jakarta, dikutip dari laman Kemenag, Sabtu, 13 Juni 2026.
Melalui program ini, Kemenag menawarkan paket lengkap yang fleksibel menyesuaikan kebutuhan pendaftar dari berbagai negara. “Selain beasiswa, tersedia pula berbagai program short course dan bentuk dukungan akademik lainnya. Skema pembiayaannya beragam, mulai dari beasiswa penuh (full scholarship) hingga beasiswa parsial (partly scholarship),” lanjutnya.
Bukan Sekadar Kampus Lokal
Sahiron menjelaskan, bensin pendanaan INSIGHT Scholarship disokong penuh oleh Kemenag dan pendapatan institusi PTKIN yang berstatus Badan Layanan Umum (BLU). Artinya, PTKIN kini membuktikan kapasitasnya dengan tidak hanya melayani mahasiswa dalam negeri, tetapi juga berekspansi memfasilitasi pelajar global.Rencananya, skema beasiswa kece ini akan dipresentasikan langsung di hadapan para diplomat asing pada 30 Juni 2026 mendatang. Langkah ini menjadi strategi krusial untuk mengejar target besar pemerintah di sektor pendidikan tinggi.
“Pemerintah menargetkan peningkatan jumlah mahasiswa internasional yang belajar di Indonesia. Bahkan Presiden menantang agar pada tahun 2029 Indonesia mampu menarik sedikitnya 100 ribu mahasiswa asing untuk belajar di berbagai perguruan tinggi Indonesia, baik di universitas umum maupun perguruan tinggi keagamaan,” jelasnya.
Rasa percaya diri Kemenag ini jelas berdasar. Kualitas PTKIN Indonesia kini sudah diakui dunia. Dalam ajang bergengsi QS World University Rankings by Subject 2026 untuk bidang Theology, Divinity and Religious Studies, tiga PTKIN sukses masuk radar global. UIN Syarif Hidayatullah Jakarta melesat ke peringkat 29 dunia, UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta di posisi 37, dan UIN Maulana Malik Ibrahim Malang bertengger di kelompok 101–150 dunia.
Jurus Diplomasi Kenalkan Islam Moderat
Direktur Diplomasi Publik Kementerian Luar Negeri, Ani Nigeriawati, menilai INSIGHT Scholarship bukan sekadar urusan akademik, tapi juga instrumen diplomasi soft power yang sangat strategis. Ini adalah momentum bagi Indonesia untuk memamerkan keunggulan sistem pendidikannya sekaligus menyebarkan nilai-nilai moderasi beragama ke pentas dunia.“Praktik moderasi beragama dan Islam moderat Indonesia merupakan aset yang sangat berharga untuk diperkenalkan kepada negara-negara mitra. Kami berharap para mahasiswa asing yang belajar Islamic Studies di Indonesia dapat kembali ke negara asalnya dengan membawa perspektif Islam Indonesia yang moderat, inklusif, dan rahmatan lil alamin,” ungkap Ani.
Melihat pamor kampus Islam yang makin mentereng, Ani optimistis Indonesia punya potensi raksasa untuk menjadi pusat gravitasi studi Islam dunia.
“Tidak tertutup kemungkinan mahasiswa dari Eropa, Amerika, Singapura, dan negara-negara lain tertarik mempelajari studi Islam di Indonesia. Dengan perkembangan kajian Islam yang semakin maju, Indonesia memiliki peluang besar untuk menjadi salah satu pusat studi Islam dunia,” tuturnya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda