Ilustrasi RA Kartini. DOK MI
Ilustrasi RA Kartini. DOK MI

Perjuangan Kartini, Berawal dari Privilege Hingga Jadi Tokoh Emansipasi

Pendidikan Hari Kartini Perempuan perjuangan pahlawan
Medcom • 21 April 2022 13:53
Jakarta: Setiap tanggal 21 April, Indonesia memperingati Hari Kartini. Peringatan ini merupakan bentuk penghormatan atas perjuangan Raden Ajeng Kartini dalam mewujudkan emansipasi wanita.
 
Melansir laman Cakap, awal mula perjuangan kesetaraan gender tak terlepas dari privilege Kartini yang berasal dari kalangan priyayi. Berstatus bangsawan Jawa, perempuan kelahiran 21 April 1876 itu diperbolehkan bersekolah di Europeesche Lagere School (ELS) hingga berusia 12 tahun.
 
Sayangnya, setelah berusia 12 tahun, Kartini harus tinggal di rumah mengikuti aturan dan tradisi Jawa. Dia sangat ingin melanjutkan pendidikan, namun keinginan itu tak bisa terpenuhi lantaran harus menikah dengan seorang bangsawan, KRM Adipati Ario Singgih Djojo Adhiningrat pada 1903.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Meski begitu, Kartini tetap belajar sendiri dan menulis surat kepada teman-teman korespondensi dari Belanda. Dia mulai menunjukkan ketertarikan pada kemajuan berpikir perempuan Eropa dari buku-buku, koran, dan majalah Eropa yang dibaca.
 
Dari sana, timbul keinginan Kartini untuk memajukan perempuan pribumi. Perhatiannya tidak hanya tertuju pada soal emansipasi wanita, tetapi juga masalah sosial umum.
 
Putri pasangan Raden Mas Adipati Ario Sosroningrat dan MA Ngasirah itu lantas menuangkan pemikirannya lewat tulisan-tulisan yang beberapa kali dimuat di De Hollandsche Lelie. Dia menyatakan keprihatinan atas kondisi sosial saat itu, terutama tentang kondisi perempuan pribumi.
 
Tak cuma lewat tulisan, perjuangan Kartini juga diwujudkan melalui pembangunan sekolah wanita di sebelah timur pintu gerbang Kompleks Kantor Kabupaten Rembang. Pada 1912, akhirnya didirikanlah Sekolah Wanita oleh Yayasan Kartini (Sekolah Kartini) di Semarang, Surabaya, Yogyakarta, Madiun, Malang, Cirebon, dan daerah lainnya.
 
Meski sudah berpulang ke pangkuan Sang Pencipta pada 1904, perjuangan Kartini tak pernah padam. Sejumlah surat berisi cita-cita Kartini yang pernah dia kirimkan, dikumpulkan oleh Jacques Abendanon untuk dibukukan.
 
Alhasil, pada 1911, terbitlah buku berjudul Door Duisternis tot Licht yang arti harfiahnya “Dari Kegelapan Menuju Cahaya”. Buku kumpulan surat-surat Kartini itu kemudian diterjemahkan sastrawan pujangga baru, Armin Pane, pada 1922 dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang”.
 
Terbitnya surat-surat Kartini, seorang perempuan pribumi, sangat menarik perhatian masyarakat Belanda. Pemikiran-pemikirannya lantas menjadi inspirasi bagi tokoh kebangkitan nasional Indonesia. (Nurisma Rahmatika)
 
Baca: Perempuan Indonesia Mesti Didorong Berkiprah di Bidang Sains dan Teknologi
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif