Umi Fahmida, peneliti utama SEAMEO RECFON, Medcom.id/Citra Larasati.
Umi Fahmida, peneliti utama SEAMEO RECFON, Medcom.id/Citra Larasati.

Tekan Stunting, Pemerintah Genjot Pendidikan Gizi Lewat PAUD

Pendidikan pendidikan anak
Citra Larasati • 24 Mei 2019 16:12
Jakarta: Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) akan meningkatkan pendidikan gizi kepada masyarakat, untuk menekan angka stunting di Indonesia. Pendidikan gizi rencananya akan masuk melalui Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD), dan pelatihan guru-guru PAUD.
 
Stunting atau pendek masih menjadi masalah gizi utama bagi balita (bayi dan anak usia di bawah lima tahun) di Indonesia, yang harus segera dientaskan untuk mempersiapkan generasi emas Indonesia 2045. SEAMEO Recfon sebagai organisasi bidang pangan dan gizi kerja sama menteri-menteri pendidikan se-Asia Tenggara dengan pengampuan dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan RI terus berkontribusi dalam program-program pengentasan stunting.
 
Grace Wangge, Manajer Riset dan KonsultasiSouth East Asia Ministers of Education Organization (SEAMEO) Recfon(Regional Center for Food and Nutrition), dalam jangka panjang, stunting tidak hanya mengakibatkan masalah pada masa depan balita stunting itu sendiri. “Stunting akan menjadi masalah trans-generasi, di mana ibu yang pendek, cenderung akan mempunyai juga anak yang stunting," ujar peneliti yang juga dokter lulusan UI ini, di Kampus UI Salemba, Jakarta, Jumat, 24 Mei 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Grace menambahkan, di usia produktifnya kelak, balita stunting akan mempunyai daya saing yang lebih rendah dibandingkan sumber daya manusia (SDM) negara lain yang memiliki balita sehat, karena rendahnya fungsi kognitif mereka.
 
Grace juga menjelaskan, untuk mengatasi masalah stunting, pendidikan gizi kepada publik menjadi sangat penting untuk dilakukan. "Yang mesti dipahami, cegah stunting sejak dini, untuk itu diperlukan support system, termasuk lewat Pendidikan Anak Usia Dini (PAUD) dan sekolah," ujarnya.
 
Kini, bersama para mitranya, SEAMEO Recfon terus mengembangkan berbagai program pendidikan gizi yang turut berkontribusi pada pengentasan stunting. Salah satu program unggulan SEAMEO Recfon adalah “Anakku Sehat dan Cerdas."
 
Baca:Penderita Stunting Bisa jadi Beban Bangsa
 
Program ini menerjemahkan konsep PAUD Holistik Integratif (PAUD-HI) yang telah dicanangkan oleh Kemendikbud. Mitra SEAMEO Recfon untuk program unggulan ini antara lain adalah SEAMEO center lainnya yaitu SEAMEO Regional Centre for Early Childhood Care Education and Parenting (CECCEP) di Bandung untuk bidang pendidikan anak usia dini dan parenting serta SEAMEO Regional Centre for Tropical Medicine (TROPMED) di Bangkok untuk bidang kesehatan masyarakat.
 
Selain itu, didukung oleh organisasi profesi seperti Himpunan Pendidik dan Tenaga Kependidikan Anak Usia Dini Indonesia (HIMPAUDI), SEAMEO Recfon telah melakukan pemetaan kompetensi gizi para guru PAUD seluruh Indonesia. SEAMEO Recfon juga melakukan pelatihan untuk guru PAUD mengenai penyampaian materi pendidikan gizi untuk orangtua, baik melalui media online dan offline.
 
Semua program menjadi bagian dari strategi penting untuk meningkatkan peran keluarga serta PAUD dalam mengoptimalkan tumbuh kembang anak Indonesia. SEAMEO Recfon juga melakukan studi bekerja sama dengan The Union-Bloomberg dalam melakukan studi untuk menilai potensi peningkatan pajak dan cukai rokok dan pemanfaatannya untuk program gizi terkait stunting di Indonesia.
 
Belanja Rokok
 
Umi Fahmida, peneliti utama SEAMEO Recfon menjelaskan, belanja rokok di Indonesia menjadi pengeluaran terbesar ketiga dalam rumah tangga (12,4 % dari pengeluaran rumah tangga). Ini setara dengan dengan jumlah uang yang dikeluarkan untuk membeli sayur mayur (8.1%) serta telur dan susu (4.3%).
 
“Bayangkan, kalau yang 12 % itu disisihkan, akan sangat berkontribusi untuk keragaman pangan yang bermanfaat bagi peningkatan gizi anak. Uang itu bisa dibelikan sesuatu yang berguna, mungkin dibelikan telur, ikan sayur dan buah,” tegas Umi.
 
Merujuk pada hasil analisis data Indonesian Family Life Survey (IFLS), kemungkinan anak dari keluarga perokok menjadi stunting lebih besar dari anak keluarga tanpa perokok. Selain itu, berdasarkan studi dari Pusat Kajian Jaminan Sosial (PKJS) Universitas Indonesia, anak-anak dari keluarga perokok kronis memiliki kecenderungan untuk tumbuh lebih pendek dan lebih ringan dibandingkan dengan anak dari keluarga tanpa perokok.
 
Umi menegaskan, akar persoalan stunting bisa dilihat dari tiga hal. Pertama, yang langsung itu karena asupan gizi anak buruk atau kurang. Kedua, dipengaruhi oleh seringnya anak sakit sehingga penyerapan zat gizi tidak optimal.
 
Ketiga, adalah pengaruh pola pengasuhan keluarga. "Padahal keluarga ini bukan cuma ibu. Tetapi juga bapaknya“, ujar Umi.
 
Menurut Umi yang pernah mendapat penghargaan dari Universitas Indonesia ini, faktor keluarga berpengaruh cukup besar. Namun, Umi juga menjelaskan, ada faktor-faktor lain di tingkat komunitas antara lain seperti akses pelayanan kesehatan, kesehatan lingkungan dan ketersediaan pangan.
 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif