Tradisi larung kepala kerbau di Perairan Laut Jepara. Foto: Branda Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif
Tradisi larung kepala kerbau di Perairan Laut Jepara. Foto: Branda Antara/Akhmad Nazaruddin Lathif

3 Tradisi di Jepara Diakui Sebagai Warisan Budaya Tak Benda Indonesia

Pendidikan tradisi Kebudayaan Warisan Budaya Kemendikbudristek
Antara • 10 Mei 2022 18:55
Jepara:  Sebanyak tiga tradisi masyarakat Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah, diakui Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) sebagai warisan budaya tak benda Indonesia.
 
"Ketiga tradisi tersebut, yakni Lomban Kupatan dengan larung kepala kerbau, Perang Obor, dan Jembul Tulakan," sebut Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Jepara Ida Lestari di Jepara, Selasa, 10 Mei 2022.
 
Tradisi budaya tersebut, kata dia, sudah mendapatkan sertifikat dari Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi sebagai warisan budaya tak benda (WBTB) tingkat nasional.  Pendaftaran ketiga tradisi budaya tersebut, kata dia, merupakan inisiatif Pemkab Jepara, sedangkan sertifikat pengakuannya diterima pada tahun 2021.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Dengan adanya pengakuan dari pemerintah pusat, maka pemerintah daerah juga akan memberikan perhatian dengan memberikan dukungan anggaran.  "Tiga tradisi Lomban, Perang Obor, dan Jembul Tulakan juga menjadi agenda rutin Pemkab Jepara, sehingga menjadi motivasi tersendiri bagi masyarakat maupun pemerintah desa yang memiliki tradisi tersebut," ujarnya.
 
Untuk itu, dia mendorong pemerintah desa mengembangkan potensi masing-masing karena nantinya selain menjadi agenda rutin atraksi budaya di Kabupaten Jepara juga akan mendapatkan dukungan anggaran.
 
Larung sesaji berupa kepala kerbau biasa digelar setiap 8 Syawal atau tujuh hari setelah Lebaran, sedangkan tradisi Jembul Tulakan digelar setiap Senin Pahing di Bulan Apit (penanggalan jawa).
 
Perayaan Jembul Tukaan biasa digelar masyarakat Desa Tulakan, Kecamatan Donorojo, Jepara, juga untuk memeriahkan acara sedekah bumi yang melambangkan rasa syukur kepada Tuhan atas limpahan rahmat dan karunia-Nya terhadap masyarakat Desa Tulakan. 
 
Baca juga:  Khawatir 'Dicaplok' Malaysia, Seniman Surabaya Desak Pemerintah Daftarkan Reog ke UNESCO
 
Perang Obor merupakan tradisi warga Desa Tegalsambi, Kecamatan Tahunan yang diyakini sebagai tolak balak. Tradisi ini rutin digelar setiap Senin Pahing malam, Selasa Pon di Bulan Zulhijah atau Besar bersamaan dengan acara sedekah bumi.
 
(CEU)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif