Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim.
Menteri Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Mendikbudristek) Nadiem Anwar Makarim.

Hasil Asesmen Nasional 2021: Literasi Numerasi SD Butuh Perhatian Serius

Renatha Swasty • 01 April 2022 12:41
Jakarta: Kementerian Pendidikan, Kebudayaan, Riset, dan Teknologi (Kemendikbudristek) memaparkan hasil Asesmen Nasional (AN) 2021. Asesmen melibatkan peserta didik, pendidik, dan kepala satuan pendidikan.
 
Mendikbudristek Nadiem Makarim menuturkan dalam Asesmen Kompetensi Minimum (AKM) aspek literasi dan numerasi terlihat perlu banyak perhatian. Khususnya di tingkat SD dan SMP.
 
"Kita sudah tahu Indonesia berdasarkan skor PISA kita masih banyak kekurangan. Dengan adanya AN bisa melihat jauh lebih spesfik dan detail, dari aspek numerasi literasi perlu banyak perhatian," kata Nadiem dalam konferensi pers Merdeka Belakar Episode 19: Peluncuran Rapor Pendidikan Indonesia, Jumat, 1 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Nadiem menuturkan dari hasil AN terlihat 1 dari 2 perserta didik belum mencapai kompetensi minimum literasi. Kemudian, 2 dari 3 peserta didik belum mencapai kompetensi minimun numerasi.
 
Dia menuturkan literasi numerasi penting, lantaran sangat berdampak besar terhadap masyarakat. Nadiem menyebut anak-anak yang menghadapi tantangan numerasi dan literasi sangat mudah demotivasi dan tertinggal.
 
"Akhirnya memutuskan tidak melanjutkan sekolah. Orang tua akan melihat anak demotivasi, tertinggal, ketinggalan kemudian merasa mungkin lebih baik keluar dari sekolah dan bekerja. Literasi dan numerasi berdampak sangat tinggi," papar Nadiem.
 
Nadiem mengatakan, daya saing lulusan Indonesia dalam dunia berbasis teknologi yang terus berubah akan membuat daya saing rendah. Sehingga berdampak pada daya saing naisonal dan sumber daya manusia (SDM) Indonesia di masa depan.
 
Tak kalah penting, kata dia, literasi numerasi rendah berdampak besar pada kemamapuan memproses informasi secara kritis akan sangat rendah. Sehingga rentan hoaks dan rentan manipulasi.
 
"Literasi numerasi penting bukan hanya berdampak pada aspek pendidikan tapi sosial dan keberlangsungan masyarakat," tutur Nadiem.
 
Nadiem mencontohkan kesenjangan antara salah satu sekolah di kabupaten luar Jawa dibandingkan dengan salah satu kota di Jawa. Data memperlihatkan hampir tidak ada overlap.
 
Artinya sekolah terbaik dari skor literasi di kabupaten luar Jawa sama pencapaiannya dengan sekolah terendah dalam pencapaian literasi di dalam kota besar. Nadiem menyebut perlu usaha menjembatani kesenjangan ini.
 
Data menunjukkan 18 persen satuan pendidikan di jenjang SD/MI/Sederajat berada pada kategori perlu intervensi khusus. Angka ini jauh lebih tinggi dibandingkan dengan jenjang lain, seperti SMP (8 persen), SMA (6 persen), dan SMK (7 persen).
 
"Kita juga lihat di jenjang SD jumlah sekolah yang membutuhkan intervensi khusus bidang numerasi sangat besar. Ini memvalidasi hipotesa kita semakin mudah kita intervensi, semakin besar dampak yang akan dihasilkan," tutur Nadiem.
 
Dia menyebut usaha di tingkat SD mesti menjadi prioritas. Pihaknya sudah menyediakan kurikulum, modul literasi numerasi, hingga Kampus Mengajar.
 
"Ini lah kenapa SD adalah masa yang terpenting untuk mengkoreksi isu-isu literasi dan numerasi," tutur dia.  
 
Asesmen Nasional menggantikan Ujian Sekolah yang selama ini menjadi alat ukur peserta didik. AN menyempurnakan pengukuran aspek kognitif dan non-kognitif serta penggunaan
teknologi.
 
Baca: Rapor Pendidikan Indonesia, Nadiem: AN dan Dapodik Jadi Satu-satunya Rujukan
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif