Staff UTM, Najwa, yang ditemui dalam pameran World Post Graduate Expo 2026 di Jakarta, Sabtu, 9 Mei 2026, membagikan sejumlah panduan penting mengenai apa saja yang perlu dipersiapkan untuk menempuh pendidikan di UTM.
Berikut adalah ulasan lengkap mengenai persiapan, syarat, hingga larangan yang wajib diketahui calon mahasiswa.
Tanpa Jalur Tes Masuk
Berbeda dengan perguruan tinggi negeri di Indonesia yang umumnya mewajibkan ujian saringan masuk seperti seleksi nasional seperti di Tanah Air, UTM menerapkan sistem penerimaan berbasis pemenuhan persyaratan akademik dan bahasa."Public university, normally kalau persyaratannya sudah memenuhi, seperti syarat kelayakan Bahasa Inggris, tidak ada masalah," ungkap Najwa.
Lebih lanjut, ia menegaskan bahwa tes khusus hanya diberlakukan untuk program studi tertentu di tingkat sarjana. "Tidak ada tes, itu cuma untuk bachelor degree like architecture program and psychology. Tapi yang lain-lainnya nggak ada tes," tambahnya. Untuk program riset di tingkat S2 dan S3, calon mahasiswa mungkin akan melalui proses wawancara atau asesmen dari fakultas, namun bukan tes ujian masuk reguler.
Unggulkan Program Artificial Intelligence (AI)
UTM menawarkan berbagai program di bidang teknologi, sains, hingga manajemen dan sains sosial. Salah satu daya tarik utamanya saat ini adalah program studi yang berfokus pada kecerdasan buatan (AI) yang mencakup ilmu komputer, robotik, hingga cyber security. Program S1 AI telah berjalan selama dua tahun, dan UTM akan segera meluncurkan program S2 dan S3 di bidang yang sama.Selain kelas tatap muka, UTM juga secara aktif mempromosikan metode Open and Distance Learning (ODL) atau kuliah daring penuh bagi mahasiswa yang mengambil jalur riset.
Persiapan Wajib
Menurut Najwa, ada dua persiapan krusial (Do's) yang sering menjadi sandungan bagi pelajar internasional, yaitu sertifikasi bahasa Inggris dan pengurusan visa.Batas minimal skor bahasa Inggris untuk mendaftar adalah:
- Postgraduate (S2/S3): IELTS 6.0, TOEFL 60, PTE 59, atau MUET 4.0.
- Undergraduate (S1): IELTS 5.5, TOEFL 46, PTE 51, atau CEQ 160.
"Seharusnya lebih baik sebelum berangkat ke Malaysia dipersiapkan dulu English test-nya. Supaya apabila tiba di kampus pelajar tidak ada commitment untuk pergi ke program bahasa Inggris. Karena program bahasa Inggris sekiranya untuk meningkatkan waktu dan juga untuk mengurangkan cost," tegasnya.
Pengurusan visa juga tidak boleh ditunda. "Kerap kalinya visa kadang-kadang tidak lengkap, jadi menyebabkan pelajar tidak dapat travel ke Malaysia dalam tempoh waktu yang ditetapkan. Tertinggal banyak kursus yang telah berjalan," pesan Najwa.
Biaya Terjangkau dan Tawaran Beasiswa
Terkait estimasi biaya pendidikan, UTM mematok angka yang cukup kompetitif untuk ukuran universitas global:- Bachelor (S1): Sekitar RM 18.000 (Ringgit Malaysia)
- Master (S2): Sekitar RM 28.000
- PhD (S3): Sekitar RM 48.000
Bebas Culture Shock di Lingkungan Multikultural
Indonesia saat ini menempati posisi kedua sebagai penyumbang mahasiswa internasional terbanyak di UTM, tepat di bawah Tiongkok. Keberadaan lebih dari 4.000 mahasiswa internasional dari 60 negara membuat pengalaman belajar semakin kaya.Di kampus utama UTM di Johor Bahru (JB), mahasiswa asal Indonesia tidak perlu khawatir merasa terasing karena terdapat wadah Persatuan Pelajar Indonesia (PPI). "Jadinya untuk pelajar Indonesia tidak ada masalah, jika ada masalah boleh saja diajukan kepada persatuan. Tidak ada culture shock, gaya hidupnya kurang lebih sama dengan di Indonesia, makanan pun kurang lebih sama, bahasanya juga mirip-mirip," jelas Najwa.
Satu hal krusial yang ditekankan oleh Najwa (Don'ts) adalah larangan bekerja bagi pemegang visa pelajar penuh. Pertanyaan mengenai kemungkinan kuliah sambil bekerja sering kali diajukan, namun aturan imigrasi Malaysia sangat tegas.
"Mengikut peraturan immigration di Malaysia, pelajar yang memegang pas pelajar penuh tidak boleh bekerja. Jadi harusnya pelajar antarabangsa harus mengikuti kelas kuliah penuh masa," pungkas Najwa. Pengecualian hanya berlaku bagi individu yang berstatus memegang pas pekerja (Employment Pass) di Malaysia yang kemudian memutuskan untuk melanjutkan studi paruh waktu, yang itupun tetap harus melalui izin imigrasi.
Baca Juga :
Fix Kampus Idaman, FEB UMB Jadi Prodi Bisnis Nomor 1 di Jakarta Versi AD Scientific Index
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News