Perubahan tersebut bukan hanya mengubah cara seseorang bekerja. Tetapi juga mengubah tantangan dalam keselamatan dan kesehatan kerja (K3).
Karena itu, saat ini K3 tidak bisa lagi dipahami sebatas bagaimana mencegah pekerja mengalami kecelakaan. Risiko yang muncul perlu dilihat lebih luas, termasuk dari sisi teknologi, lingkungan, manusia, hingga organisasi.
Dekan Fakultas Kesehatan Masyarakat Universitas Indonesia (FKM UI) Indri Hapsari Susilowati mengatakan perkembangan dunia kerja saat ini membawa kompleksitas baru dalam persoalan K3. Banyak hal yang berubah dalam memahami K3 pada saat ini.
"Tantangan dunia kerja saat ini memang berjalan sangat cepat, perubahan teknologi, transisi energi, digitalisasi, otomatisasi, hingga perubahan iklim membawa kompleksitas risiko K3 yang baru," kata Indri dalam OHS Leader Forum, di Jakarta, Jumat 28 Agustus 2026.
| Baca juga: UI Terima Dana Abadi Rp50 Miliar, Ratusan Mahasiswa Berpotensi Kecipratan Beasiswa Tiap Tahunnya |
Ia menegaskan jika perubahan teknologi membuat sistem kerja menjadi semakin kompleks. Ketika teknologi dan otomatisasi masuk ke berbagai sektor, cara manusia menjalankan pekerjaan dan berinteraksi dengan sistem tersebut juga ikut berubah.
"Di sinilah pendekatan K3 perlu menyesuaikan diri. K3 masa depan bukan hanya tentang bagaimana mencegah kecelakaan, tetapi bagaimana memahami dan mengelola risiko dalam dunia kerja yang terus berubah," katanya.
Ketua Departemen K3 FKM UI Baiduri Widanarko menjelaskan K3 sendiri merupakan bidang yang multidisiplin. Di Departemen K3 FKM UI, keilmuan tersebut mencakup lima bidang, yakni safety, occupational health, industrial hygiene, ergonomics, serta human and organizational factors.
Lima bidang tersebut menunjukkan bahwa keselamatan pekerja tidak berdiri sendiri. Persoalan K3 dapat berkaitan dengan kondisi lingkungan kerja, kesehatan, bagaimana pekerjaan dirancang, hingga faktor manusia dan organisasi.
"Dengan dunia kerja yang terus berubah, kemampuan menggabungkan berbagai perspektif tersebut menjadi semakin penting," kata Badri.
Karena itu, pengembangan K3 tidak cukup hanya mengandalkan satu disiplin ilmu. Dunia kerja membutuhkan pendekatan yang mampu melihat persoalan secara sistematis.
Hal tersebut juga menjadi alasan Departemen K3 FKM UI mempertemukan akademisi, pemerintah, industri, praktisi, regulator, alumni, dan masyarakat dalam OHS Leader Forum. Tujuannya bukan sekadar membangun jejaring, tetapi membuka ruang untuk membahas persoalan K3 dari berbagai sudut pandang.
Selain teknologi, perubahan iklim menjadi faktor lain yang membuat tantangan K3 semakin kompleks. Baiduri menyebut, perubahan iklim bersama transisi energi, digitalisasi, dan otomatisasi sebagai bagian dari perubahan dunia kerja yang perlu direspons melalui penguatan sinergi antarpihak.
"Artinya, pengelolaan K3 perlu mengikuti perkembangan risiko yang muncul seiring perubahan kondisi kerja. Pendekatan yang digunakan tidak bisa berhenti pada persoalan yang sudah dikenal sebelumnya," lanjut dia.
| Baca juga: UI Buka Rekrutmen 200 Formasi Pegawai Tidak Tetap 2026, Cek Syarat dan Cara Daftar! |
Bagi perguruan tinggi, kondisi ini sekaligus menjadi tantangan untuk menyiapkan lulusan yang mampu membaca persoalan K3 secara lebih luas. Baiduri mengatakan Departemen K3 FKM UI ingin lulusannya tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga mampu berpikir kritis dan melihat persoalan K3 sebagai sebuah sistem.
"Kami ingin lulusan kami itu tidak hanya kuat secara keilmuan, tetapi mereka mampu berpikir kritis dan melihat masalah K3 secara sistem, mampu beradaptasi, dan menjadi agent of change," katanya.
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda