Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.
Kepala LIPI Laksana Tri Handoko, Medcom.id/Kautsar Widya Prabowo.

Pelibatan Riset dalam Mitigasi Bencana Belum Optimal

Pendidikan Mitigasi Bencana Tsunami di Selat Sunda
Kautsar Widya Prabowo • 02 Januari 2019 16:25
Jakarta: Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia (LIPI) berharap hasil-hasil risetnya dilibatkan lebih banyak dalam pengambilan keputusan terkait mitigasi bencana.Karena besar kemungkinan, data rujukan yang dimiliki oleh BMKG (Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika) sudah lampau.
 
"Katakanlah yang Tanjung Lesung itu, tidak ada stasiun observasi dan tidak ada sensor yang bisa memitigasi. Padahal itukansudah dikaji sejak lama, kita ingin ada kesadaran daristakeholder
yang lain, bahwa ini saatnya melibatkan riset lebih dalam," kataKepala LIPI, Laksana Tri Handoko, di Gedung LIPI, Jakarta, Rabu, 2 Januari 2019.
 
Menurut Handoko, LIPI memiliki tanggung jawab dalam memberikan hasil penelitian kepada BMKG, untuk dijadikan referensi dalam simulasi mitigasi bencana. Handoko mencontohkan, sebelum bencana tsunami terjadi di Selat Sunda, LIPI sebenarnya sudah memiliki hasil penelitian terkait bencana tersebut.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Namun LIPI tidak berkewenangan mengklaim, bahwa diprediksi akan terjadi bencana, sehingga hanya sebatas penelitian saja. "LIPI tidak langsungohkita sudah memprediksi bencana itu, tidak bisa begitu, tidak boleh, karena itu bukan tugas LIPI, harus otoritas tertentu yang memiliki kewenangan untuk menyampaikan itu," imbuhnya.
 
Baca:Riset LIPI Fokus pada Minimalisasi Korban Bencana
 
Handoko menilai,data terkait mitigasi bencana di Indonesia masih kurang memadai. Terlebih alat untuk memantau bencana juga masih minim.
 
"Sehingga kapasitas dan kemampuan kita untuk melakukan mitigasi bencana menjadi terbatas," ujar Handoko.
 
Selain itu, luas wilayah Indonesia yang cukup luas, tidak dimungkiri menjadi kendala dalam memantau potensi bencana. Sehingga dengan keterbatasan alat serta biaya perawatan yang besar, hal tersebut masih menjadi momok dalam mitigasi bencana.
 
"Jadi kita tidak bisa menyalahkan BMKG, karena mereka masih terbatas sekali, mengingat negara ini sedemikian luasnya," imbuhnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif