Penerbit Buku Pelajaran Keluhkan <i>Gonta-ganti</i> Kurikulum
Empat pelajar SD berjalan menuju sekolah, MI/Aries Munandar.
Jakarta:  Kalangan penerbit buku pelajaran mengeluhkan inkonsistensi kurikulum dalam dunia pendidikan.  Terlalu sering terjadinya pergantian kurikulum tersebut, menyebabkan kerugian terhadap industri buku.

Direktur Produk Penerbit Erlangga, Bambang Sutrisno mengungkapkan, keluhan industri perbukuan dalam 10 tahun terakhir adalah inkonsistensi kurikulum. Perubahan kurikulum yang terjadi beberapa kali dalam kurun waktu satu dekade terakhir,  jelas merugikan industri perbukuan. 


“Pergantian kurikulum itu terlalu sering. Itu pengaruh, belum lagi biaya keputusan yang itu sangat besar ditanggung pemerintah,” terang Bambang, di Jakarta, Jumat, 26 Oktober 2018.

Untuk itu, ia menyambut baik rencana pemisahan urusan perbukuan dan kurikulum yang sebelumnya berada dalam satu wadah, yakni Pusat Kurikulum dan Perbukuan (puskurbuk), Kemendikbud.  Rencananya, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan akan memisahkan antara perbukuan dan kurikulum tersebut.

Baca: IPM Meningkat, Angka Putus Sekolah Turun

Pusat perbukuan, rencananya akan langsung berada di bawah Badan Bahasa Kemendikbud.  Dengan pemisahan ini, diharapkan keduanya dapat fokus mengembangkan kualitas.

"Pemisahan itu sebenarnya tak berpengaruh besar terhadap industri perbukuan. Tapi kami berharap pemisahan urusan ini akan membuat pengelolaan kurikulum lebih fokus," tegasnya.

Jika terus digabung, kemungkinan cakupan pekerjaan keduanya semakin kompleks.  "Besar kemungkinan kurang fokus,” papar Bambang.



(CEU)

Dapatkan berita terbaru dari kami.

Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

Powered by Medcom.id