Public Talk bertajuk Between Brain and Soul: A Psychiatrist's Perspective on Tasawuf and Mental Health. Foto: Medcom/Talitha Islamey
Public Talk bertajuk Between Brain and Soul: A Psychiatrist's Perspective on Tasawuf and Mental Health. Foto: Medcom/Talitha Islamey

Tasawuf dan Neurosains Bisa Sejalan? Ini Jawaban dari Psikiater Üsküdar University

Citra Larasati • 03 April 2026 20:56
Ringkasnya gini..
  • Edutolia Education berkolaborasi dengan Üsküdar University Turki menggelar Public Talk bertajuk "Between Brain and Soul: A Psychiatrist's Perspective on Tasawuf and Mental Health”.
  • Forum ini menjadi wadah untuk membedah titik temu antara kemajuan neurosains modern dengan kedalaman spiritualitas Islam.
  • Forum ini berkolaborasi dengan Metro TV dan Medcom.id.
​Jakarta: Edutolia Education berkolaborasi dengan Üsküdar University Turki menggelar Public Talk bertajuk "Between Brain and Soul: A Psychiatrist's Perspective on Tasawuf and Mental Health”. Forum ini menjadi wadah untuk membedah titik temu antara kemajuan neurosains modern dengan kedalaman spiritualitas Islam.
 
CEO dan Founder Edutolia Education, Ibrahim Albayrak, memaparkan pentingnya memperkuat hubungan komunikasi dan pendidikan antara Indonesia dan Turki. Ia menegaskan, kolaborasi ini bukan sekadar acara seremonial, melainkan upaya untuk memperluas akses mahasiswa Indonesia terhadap peluang pendidikan internasional yang berkualitas.
 
"Program hari ini sangat spesial bagi kami. Sebagai organisasi pendidikan, kami bangga dapat berkontribusi dalam memperkuat kerja sama internasional. Kami berharap acara ini memberikan inspirasi dan mempererat hubungan budaya yang sudah sangat dalam antara Indonesia dan Turki," ujar Ibrahim saat membuka acara di VVIP Hall, Masjid Istiqlal, Jakarta, Jumat, 3 April 2026.

Dalam kesempatan yang sama, Direktur Hubungan Internasional Üsküdar University, Peyman Jafari, menekankan posisi unik universitasnya sebagai pionir ilmu kesehatan yang memiliki fasilitas kelas dunia seperti NP Brain Hospital.
 
"Üsküdar University adalah universitas tematik pertama di Turki yang berfokus pada ilmu kesehatan. Kami memiliki lebih dari 50.000 lulusan dan sekitar 5.000 mahasiswa internasional dari 100 negara yang berbeda. Melalui kolaborasi ini, kami ingin membawa keahlian medis dan akademik kami lebih dekat ke Indonesia," ungkap Peyman Jafari.
 
Sementara itu, perwakilan dari Kementerian Agama (Kemenag) RI, Gugun Gumilar, menyambut positif inisiatif ini dan berharap cakupan kerja sama dapat diperluas ke berbagai institusi pendidikan di bawah naungan kementerian. "Kami berharap kerja sama pendidikan ini tidak hanya berhenti di sini, tetapi juga menjangkau universitas-universitas lain di bawah Kementerian Agama. Kami juga berencana menghadirkan 'Turkish Corner' di Masjid Istiqlal sebagai pusat informasi dan studi bagi para mahasiswa di masa depan," tegas Gugun dalam sambutannya.
 
Langkah nyata dari kolaborasi ini ditandai dengan pembukaan kantor perwakilan resmi Üsküdar University di Indonesia. Kehadiran kantor representatif ini bertujuan untuk mempererat kontak dengan masyarakat Indonesia serta memberikan pelayanan langsung bagi mereka yang ingin mendalami ilmu kesehatan maupun spiritualitas di Turki.
 
Forum yang berkolaborasi dengan Metro TV dan Medcom.id sebagai media partner ini didukung penuh oleh Kedutaan Besar Turki dan Kementerian Agama RI. Acara ini menghadirkan jajaran pakar dan tokoh-tokoh kunci sebagai narasumber utama, antara lain Rektor Üsküdar University, Prof. Dr. Nevzat Tarhan, dan Imam Besar Masjid Istiqlal, Prof. Dr. KH. Nasaruddin Umar.
 
Forum ini juga menarik perhatian generasi muda yang mencari keseimbangan antara kesehatan mental dan nilai spiritual. Binar Idris, seorang mahasiswa Jurnalistik dari Universitas Islam Negeri (UIN) Syarif Hidayatullah Jakarta, mengungkapkan bahwa perpaduan antara metode psikiatri dan tasawuf memberikan perspektif baru bagi para akademisi.
 
​"Sangat menarik karena membahas bagaimana pemikiran tokoh sufisme seperti Jalaluddin Rumi bisa masuk ke dalam praktik psikiatri," ungkap Binar saat diwawancarai oleh Medcom.id di lokasi acara. Ia menggarisbawahi bahwa konsep berserah diri kepada Allah dalam ajaran tasawuf ternyata memiliki dampak nyata terhadap ketenangan pikiran.
 
​Menurut Binar, forum ini membuktikan bahwa sains dan agama sebenarnya saling membutuhkan. Sains mendorong manusia untuk terus belajar dan berpikir kritis, sementara agama memberikan kedamaian batin. 
 
Dengan begitu, forum ini menjadi saksi nyata dari komitmen kedua negara dalam mengintegrasikan sains dan agama demi kesejahteraan mental masyarakat global. (Talitha Islamey)
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(CEU)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan