Illustrasi. Medcom/Rizal.
Illustrasi. Medcom/Rizal.

Guru Besar IPB: Impor Rektor tak Tepat

Pendidikan Rektor Asing
Suci Sedya Utami • 18 Agustus 2019 22:30
Jakarta: Guru Besar Institut Pertanian Bogor (IPB) Herry Suhardiyanto menilai rencana kebijakan mendatangkan rektor dari luar negeri untuk memimpin perguruan tinggi yang digagas oleh Menteri Ristek Dikti di dalam negeri sangat tidak tepat.
 
Menurut Herry gagasan mengenai impor rektor serta pendirian perguruan tinggi asing di dalam negeri cenderung semakin menjauhkan Indonesia dari amanat konstitusi mencerdaskan kehidupan bangsa dengan peningkatan daya saing sumber daya manusia (SDM) serta menghadirkan kesejahteraan sebesar-besarnya.
 
"Impor perguruan tinggi dan rektor dalam perspektif konstitusi tidaklah tepat," kata Herry dalam diskusi bertajuk SDM dan investasi asing di pendidikan, Jakarta, Minggu, 18 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Herry mengatakan wacana impor rektor dan perguruan tinggi asing ini seakin nyata dengan dihilangkannya investasi pendidikan tinggi dalam daftar negatif investasi (DNI). Meskipun dalihnya yakni pembangunan infrastruktur fisik semata namun dipisahkan dari konteks pendidikan. Pemerintah mencoba menggunakan pendekatan financial driven dalam kerangka orientasi pertumbuhan.
 
Menurut Herry pendekatan tersebut malah berpeluang menciptakan kesenjangan sosial yang lebih besar. Selain itu bisa memecahkan kualitas pendidikan tinggi dengan hadirnya perguruan tinggi asing dan rektornya. Dia bilang tentu akan muncul stigma kompetsi asing versus lokal.
 
Mantan Rektor IPB ini mengatakan masih banyak ide untuk memperbaiki kualitas perguruan tinggi nasional dan juga pendidikiknya tanpa harus mengimpor pihak asing yang malah menimbulkan kontroversi ketimbang solusi.
 
Ia bilang misalnya saja dengan pertukaran pengajar, perbaikan kesejahteraan pengajar dikaitkan dengan riset, memperbanyak lokakarya dan pelatihan, pembentukan research university dan universitas kelas dunia (world class university), menaikkan dana riset dan sebagainya.
 
Dalam berbagai kesempatan, pemerintah menyampaikan bahwa rektor asing dibutuhkan untuk meningkatkan kampus-kampus di Indonesia agar menjadi world class university. Selama ini salah satu rujukan pemeringkatan kampus kelas dunia adalah QS world university ranking.
 
Pada satu sisi, merujuk QS World University Ranking membuat definisi kampus kelas dunia menjadi lebih sempit. Namun pada sisi lain, unsur-unsur penilaian dalam pemeringkatan tersebut maupun pemeringkatan lain menjadi rujukan yang terukur dalam menjalankan program dan menjadi indikator kinerja perguruan tinggi.
 
Lantas, kata Herry, apakah dengan mengundang rektor asing akan meningkatkan reputasi akademik secara global. Menurut dia dalam memimpun kampus, seorang rektor harus bekerja dengan basis peraturan dan sumber daya yang baik serta didukung oleh anggaran.
 
"Jika kondisi masih seperti saat ini dimana peraturan masih kaku seperti terkait pengangkatan dosen yang hingga saat ini belum leluasa maupun peraturan terkait penggunaan dana yang bersumber dari negara maupun masyarakat maka rektor asing juga akan sulit untuk bekerja," tutur dia.
 
Dengan kondisi tersebut maka rektor asing akan sangat sulit menyelesaikan masalah struktural dan fundamental di sektor pendidikan tinggi di Indonesia. Padahal yang lebih penting, kata Herry, membangun basis untuk menjadi kampus kelas dunia yang memang betul-betul dicapai melalui tahapan yang runut. Percepatan perlu tapi jangan lompat-lompat atau malah keropos.
 
"Isu rektor asing perlu digeser kepada solusi-solusi bagaimana kita meningkatkan iklim dan lingkungan akademik yang kondusif, menjalankan agenda riset yang unggul, menghasilkan ribuan inovasi, melakukan komersialisasi inovasi, dan membangun budaya kampus kelas dunia secara progresif tapi konsisten," jelas Herry.
 

(SAW)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif