Rektor Universitas Indonesia, Muhammad Anis. Foto: Humas UI.
Rektor Universitas Indonesia, Muhammad Anis. Foto: Humas UI.

Pengawasan Khusus Kegiatan Mahasiswa Dinilai Tidak Efektif

Pendidikan Tangkal Radikalisme
Intan Yunelia • 16 Mei 2018 19:57

Jakarta: Menerapkan pengawasan khusus pada kegiatan kerohanian mahasiswa dinilai bukan cara terbaik menangkal masuknya paham radikalisme ke dalam kampus.  Selain dapat membatasi ruang gerak mahasiswa, cara tersebut juga tidak dewasa dan hanya menimbulkan rasa saling curiga.

Rektor Universitas Indonesia (UI), Muhammad Anis mengatakan, mahasiswa di kampusnya memiliki cara pandang yang dewasa dan terbuka dalam menghadapi paham radikalisme. Mahasiswa dinilai Anis sudah mampu memilah mana paham radikal atau bukan.

Sehingga, Ia menilai UI tidak memerlukan penerapan pengawasan khusus dari dosen pada setiap kegiatan kerohanian mahasiswa. "Kita percaya, mahasiswa sudah dewasa. Nggak perlu diawasi khusus," ucap Anis usai Pertemuan Rektor Perguruan Tinggi Negeri (PTN) se-Indonesia, di Kemenristekdikti, Jalan Jenderal Sudirman, Jakarta, Rabu 16 Mei 2018.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?



Cara jitu menangkis paham radikal, kata Anis, sebenarnya harus dimulai dengan membangun sistem. Bukan dengan dengan pengawasan khusus yang dapat membatasi ruang gerak mahasiswa. "Kita membangun sistem. Kalau di perguruan tinggi kan modalnya kepercayaan atau trust," ujar Rektor yang dilantik 4 Desember 2014 ini.

Sistem itu salah satunya melalui program pembinaan kegiatan kemahasiswaan yang rutin dilakukan Direktorat Kemahasiswaan UI. Dengan sistem itu akan diketahui dengan sendirinya siapa yang berpaham radikal, bukan dengan mencurigai individu.

"Sistem yang kita bangun sebenarnya tidak membuka peluang untuk itu (paham radikal). Dengan program forum kebangsaan, evaluasi dosen, kegiatan bersama, pembinaan setiap fakultas. Setiap fakultas ada manajer kemahasiswaannya. Itu by sistem," kata lulusan University of Sheffield ini.

Selain itu, UI memilih menggalakkan literasi kebangsaan di setiap kegiatan mahasiswa. "Kita mencegahnya pertama dengan membentuk forum kebangsaan, dan literasi-literasi sehingga bisa memberikan gambaran apa itu semangat toleransi, semangat kebersamaan," kata Anis.

Menurut Anis, setiap program studi ada mata kuliah wajib terkait literasi kebangsaan tersebut.  Yaitu Mata Kuliah Pengembangan Kepribadian Terintegrasi (MPKT).

"Di dalam mata kuliah ini termaktub materi-materi unsur bela negara," jelas Guru Besar Teknik Metalurgi UI ini.

Sementara, untuk menangkis paham radikal di organisasi kerohanian, UI kerap mengadakan kegiatan lintas organisasi kerohanian. Dengan begitu tertanam nilai-nilai toleransi menghargai perbedaan dan saling menghormati.

"Lembaga kerohanian Islam maupun yang lainnya itu sering melakukan kegiatan bersama,"  tutupnya.






 


(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi