Perguruan tinggi pun mulai menggeser pendekatan pembelajaran dari sekadar teori ke pengalaman nyata. Utamanya pengalaman yang relevan dengan kebutuhan industri.
Kondisi ini mendorong kampus menghadirkan ruang belajar yang lebih aplikatif. Termasuk melalui kompetisi, kolaborasi industri, hingga pengabdian masyarakat.
| Baca juga:
|
Salah satu contoh terlihat dari inisiatif Fakultas Hospitality dan Pariwisata Universitas Pelita Harapan (FHospar UPH) yang menggelar Hospitour 2026. Gelaran ini menjadi wadah penguatan kompetensi mahasiswa.
Dalam kegiatan tersebut, mahasiswa tidak hanya diuji melalui kompetisi. Tetapi juga didorong memahami dinamika industri secara langsung.
"Mulai dari pengembangan produk, pelayanan pelanggan, hingga inovasi berbasis tren pariwisata dan teknologi menjadi bagian dari pembelajaran," kata Dosen FHospar UPH sekaligus Ketua Panitia, Nonot Yuliantoro, dalam keterangan tertulis, Selasa 5 Mei 2026.
Ia menjelaskan pendekatan melalui Hospitour penting untuk membentuk lulusan yang relevan dengan kebutuhan industri. Pun kata dia gelaran tersebut sudah menjadi rutinitas bagi mahasiswa.
"Hospitour bukan sekadar agenda tahunan, melainkan wadah kolaboratif dan edukatif untuk mengembangkan wawasan, keterampilan, serta profesionalisme di bidang hospitality dan pariwisata,” ujarnya.
Hal serupa disampaikan Ketua Pelaksana Hospitour 2026, Vincentia Nayla. Nayla menekankan pentingnya adaptasi terhadap perubahan, termasuk integrasi teknologi dalam sektor pariwisata.
“Melalui tema EVOLVE, kami ingin mendorong peserta untuk terus beradaptasi dan berinovasi, khususnya dalam mengembangkan potensi lokal yang terintegrasi dengan teknologi,” jelasnya.
| Baca juga:
|
Ajang ini melibatkan ratusan peserta dari berbagai jenjang, mulai dari siswa SMA/K, mahasiswa, hingga masyarakat umum. Puluhan kategori kompetisi dihadirkan untuk mencerminkan kebutuhan riil industri, dari layanan hotel hingga kreativitas kuliner dan minuman.
Kolaborasi dengan pelaku industri juga menjadi kunci, sehingga peserta tidak hanya berkompetisi. Tetapi juga mendapatkan standar dan pengalaman yang sesuai dengan dunia kerja.
"Dengan begitu, kesenjangan antara pendidikan dan kebutuhan industri bisa dipersempit," ungkap Nayla.
Tak berhenti di kompetisi, kegiatan ini juga diperkuat dengan program pengabdian kepada masyarakat. Mahasiswa dan dosen terlibat dalam pelatihan keterampilan praktis, pengembangan produk lokal, hingga edukasi pariwisata bagi masyarakat di Tangerang.
Pendekatan ini menunjukkan bahwa kesiapan kerja tidak hanya dibangun di ruang kelas. Tetapi juga melalui interaksi langsung dengan masyarakat dan industri.
"Pengalaman tersebut menjadi bekal penting bagi mahasiswa untuk menghadapi tantangan global," tegasnya.
Melalui model pembelajaran yang terintegrasi ini, kampus berupaya memastikan lulusan tidak hanya siap kerja. Tetapi juga mampu berinovasi dan menciptakan dampak.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News