Perjanjian ini merupakan buntut dari aksi VOC yang berusaha menguasai perdagangan dan menundukkan kerajaan-kerajaan kecil di timur. Niat VOC ini mendapat perlawanan dari Kesultanan Gowa.
Perkembangan pesat terjadi di Kerajaan Makassar di bawah pemerintahan Sultan Hasanuddin. Sultan Hasanuddin yang saat itu naik tahta kemudian menggabungkan kerajaan-kerajaan kecil di sekitar Bone untuk melawan VOC.
Perdagangannya rempah yang maju membuat VOC semakin tergiur menguasai perdagangan di wilayah tersebut. VOC ingin memonopoli perdagangan di Makasar. Perlawanan terjadi karena sejumlah alasan ini:
- VOC menguasai pelabuhan perdagangan Somba Opu sebagai penghubung Malaka – Jawa – Maluku
- VOC menuntut monopoli perdagangan di pelabuhan – pelabuhan Makassar dan tidak mengizinkan pedagang asing kecuali VOC
- VOC melakukan blokade perdagangan terhadap Makassar.
3 perlawanan rakyat Makassar (Gowa) sebelum Perjanjian Bongaya
Rakyat Makassar sempat melakukan tiga kali perlawanan. Berikut sejarah singkatnya:
1633
Perlawanan yang pertama terjadi pada 1633. Tepatnya, ketika VOC berusaha melakukan blokade perdagangan Makassar, namun perlawanan ini gagal dan Kesultanan Gowa mengalami kekalahan.1654
Perlawanan kedua terjadi pada 1654. Perlawanan ini dipimpin oleh Sultan Hasanuddin yang baru naik tahta pada 1653. Serangan VOC berhasil ditangkal1667
Perlawanan ketiga terjadi pada tahun 1667 dan merupakan pertempuran terbesar dalam melawan VOC. Dalam pertempuran ini, VOC melakukan politik adu domba (devide et impera) antara Sultan Hasanuddin dan Aru Palaka (Raja Bone).Gowa mengalami kekalahan dan Sultan Hasanuddin dipaksa untuk menyetujui perjanjian Bongaya.
Perjanjian Bongaya disepakati
Saat perjanjian Bongaya disahkan. Kesultanan Gowa dinyatakan sebagai pihak yang kalah dan harus mengakui keunggulan VOC yang dibantu Arung Palakka. Isi perjanjian sangat merugikan pihak Gowa.
Namun, Perjanjian Bongaya harus disepakati karena kondisi Kerajaan Gowa yang semakin memburuk. Sultan Hassanudin menghadiri perjanjian damai agar peperangan tidak berlanut dan menghentikan korban yang terus berjatuhan dari pihak Kesultanan Gowa.
Isi Perjanjian Bongaya
Sultan Hasanuddin bertemua dengan Laksamana Cornelis Speelman pada 18 November 1667 di daerah Bongaya. Perjanjian Bongaya berisi:- VOC menguasai monopoli perdagangan di daerah Sulawesi Selatan serta Sulawesi Tenggara
- Makasar harus melepas seluruh wilayah bawahannya, diantaranya Soppeng, Wajo serta Bone
- Aru Palaka diangkat menjadi Raja Bone
- Makasar menyerahkan seluruh benteng – bentengnya
- Makasar diharuskan membayar biaya perang dalam bentuk hasil bumi kepada VOC setiap tahun.
Perang Makassar 1669
Isi perjanjian ini sangat merugikan pihak Kesultanan Gowa. Sultan Hasanuddin kembali melakukan perlawanan. Pihak VOC meminta bantuan tentara yang ada di Batavia.
Pertempuran kembali pecah, pasukan Sultan Hasanuddin memberi perlawanan sengit kepada VOC. Namun, karena kalah dalam persenjataan serta bantuan tentara VOC dari Batavia membuat VOC mampu menerobos Benteng Somba Opu yang menjadi pertahanan Gowa pada 12 Juni 1669.
Pada perkembangannya, Sultan Hasanuddin mengundurkan diri dari tahtanya sebagai raja Gowa dan wafat pada 12 Juni 1670.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News