Warga di Tanimbar, Maluku Tenggara.  Foto: Medcom.id/intan Yunelia
Warga di Tanimbar, Maluku Tenggara. Foto: Medcom.id/intan Yunelia

Separuh Lebih Populasi Usia Produktif di Tanimbar Buta Huruf

Pendidikan Literasi
Intan Yunelia • 02 Desember 2019 16:27
Tanimbar: Angka buta aksara masyarakat di Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara masih tinggi. Wilayah yang tergolong daerah Tertinggal, Terdepan dan Terluar (3T) terkendala dengan tingkat pendidikan masyarakatnya yang rendah.
 
Kepala Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) Ngrias Melar, Paus Batlyare mengatakan, lebih dari setengah populasi di Tanimbar dari rentang usia 13 hingga 59 tahun masih buta aksara.
 
“Kondisi masyarakat di sini yang buta aksara masih banyak. Di wilayah kerja Tanimbar Selatan itu 70 sampai 80 persen,” kata Paus kepada Medcom.id, Minggu, 2 Desember 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Angka buta aksara yang tinggi sebagian besar dipicu tingginya angka putus sekolah. Ditambah kendala ekonomi warga yang di bawah rata-rata, membuat akses mereka meraih pendidikan menjadi minim.
 
“Usia mereka rata-rata 40 tahun ke atas. Selain sibuk bekerja, mereka juga malu belajar dan gengsi karena usia dewasa,” papar Paus.
 
Namun, Paus beserta tutor yang ada di PKBM Ngrias Melar tak patah arang untuk melaksanakan kewajibannya menuntaskan buta aksara di Kepulauan Tanimbar. Para tutor turun langsung ke lapangan mendatangi door to door mengajak masyarakat belajar baca tulis.
 
“Masalah pembelajarannya saja yang sedikit rumit. Karena yang dewasa punya pekerjaan seperti nelayan dan petani itu yang membuat kita kesulitan untuk mengajak mereka. Tapi PKBM ini karena mandiri, kita sering mengejar mereka ke kebun atau ke laut untuk mereka bisa tahu menulis dan berhitung,” imbuh Paus.
 
Sejak beroperasi di 2015 dan diresmikan pada 2018 lalu, PKMB Ngrias Melar ini sudah banyak mengentaskan buta aksara di masyarakat Kepulauan Tanimbar. Seperti di Desa Sifnana yang hampir 80 persen masyarakatnya sudah lulus dari buta aksara.
 
“Sifnana itu sudah kita tuntaskan mereka buta aksara dari 200 peserta berhasil 120 orang,” jelas Paus.
 
Namun untuk desa lain, seperti Desa Matakus, Desa Saumlaki, Desa Latdalam, Desa Kabyarat, Desa Wowonda masih berkisar antara 20 hingga 50 persen tingkat keberhasilan pengentasan buta aksaranya. Lagi-lagi terkendala kesibukan mereka.
 
“Di Kelurahan Saumlaki itu berusaha untuk secepatnya menyelesaikan. Dari 60 peserta yang berhasil Cuma 20 karena dengan kesibukan-kesibukan mereka tapi kita berusaha mengejar karena kewajiban kita,” pungkasnya.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif