ilmuwan diaspora Indonesia di Osaka University, Jepang, Sastia Prama Putri. Medcom.id/Intan Yunelia.
ilmuwan diaspora Indonesia di Osaka University, Jepang, Sastia Prama Putri. Medcom.id/Intan Yunelia.

Perempuan Asing Pertama yang Raih Penghargaan Osaka University

Pendidikan Pendidikan Tinggi Diaspora
Intan Yunelia • 21 Agustus 2019 07:07
Jakarta: Menjadi ilmuwan terlebih lagi di perguruan tinggi terbaik dunia ternyata tak hanya menjadi dominasi kaum adam.Sastia Prama Putri, ilmuwan diaspora Indonesia berhasil membuktikan hal tersebut, saat ini namanya tercatat sebagai dosen tetap di perguruan tinggi yang masuk peringkat 100 terbaik dunia, Osaka University, Jepang.
 
Indonesia tentu boleh berbangga, ketika salah satu anak bangsanya sukses meniti karier akademik di perguruan tinggi terbaik peringkat 16 di Asia versi QS World University Ranking. Tak tanggung-tanggung, Sastia bahkan menjadi wanita asing pertama yang mendapat penghargaan di bidang sains bioteknologi dari Osaka University.
 
“Itu untuk outstanding contribution in education. Karena waktu itu saya bantu Osaka University untuk establish double degree program master pertamanya, antara Osaka University dengan Institut Teknologi Bandung (ITB),” kata Sastia usai acara ‘Diaspora Talks’, di Gedung D Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti), Jalan Pintu Satu Senayan, Jakarta, Selasa, 20 Agustus 2019.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Ia menyebutkan dari awal selalu dilibatkan merancang kurikulum double degree di Osaka University. Hingga sampai formulasi kurikulum tersebut disetujui untuk diimplementasikan.
 
Baca:Jadi Ilmuwan di Jerman, Terima Kasih Pernah 'Ditolak' Kedokteran UGM
 
“Sampai akhirnya saya bimbing mahasiswa double degree sudah ada lima orang, sekarang sama mentor profesor saya. Ini tingkatnya S2,” ujar Sastia yang merupakan Assistant Professor di Departemen Bioteknologi, Fakultas Teknik Osaka University, Jepang ini.
 
Salah satu hasil penelitian Sastia yang diakui di Jepang adalah peningkatan kualitas produk pangan dan pertanian Indonesia. Salah satunya dengan pendekatan ilmu metabolomic dan pengembangan sumber energi terbarukan dengan menggunakan mikroba.
 
“Saya dosen tetap Osaka saat ini. Mengajar Bio Teknologi. Terutama metabolomik sains ukur senyawa-senyawa dalam produk makanan,” tuturnya.
 
Sastia merupakan satu dari 52 ilmuwan diaspora yang diundang Kementerian Riset, Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristekdikti) untuk mengikuti Simposium Cendekia Kelas Dunia (SCKD) Tahun 2019. Acara SCKD ini dilaksanakan dari 18 hingga 25 Agustus 2019 mengundang 52 ilmuwan diaspora Indonesia yang tersebar di 15 negara di dunia.
 
Direktur Jenderal Sumber Daya Iptek dan Dikti Kemenristekdikti, Ali Ghufron Mukti mengatakan, kegiatan SCKD merupakan upaya Pemerintah memberdayakan anak bangsa di manapun mereka berada untuk ikut bersumbangsih dalam pembangunan Sumber Daya Manusia (SDM). Khususnya di ranah pendidikan tinggi.
 
“Pemberdayaan ilmuwan diaspora ini sudah diinisiasi sejak 2016. Namun, tahun ini acara SCKD menjadi momentum yang baik karena sejalan dengan fokus pemerintah membangun SDM. Kami akan mengarahkan para ilmuwan diaspora pada bidang pembangunan prioritas, termasuk dalam penguatan pendidikan vokasi,” kata Ghufron di Jakarta,Selasa, 16 Juli 2019.

 

(CEU)
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif