Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang
Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang

Festival Berpikir Komputasional 2026: Cara Kudus Asah Logika Anak

Bramcov Stivens Situmeang • 21 September 2026 11:03
Ringkasnya gini..
  • Survei OECD 2023 mencatat 55% murid usia 15 tahun di Kudus jarang berolahraga dan 52% kurang mengonsumsi buah serta sayur.
  • Djarum Foundation menggelar Festival Berpikir Komputasional 2026 untuk mengasah logika berpikir sekaligus mendorong literasi fisik murid.
  • Program ini telah menjangkau ribuan murid dan guru di Kudus dengan peningkatan rata-rata skor tantangan BEBRAS dari 34,52 menjadi 88,34.
Kudus: Survei internasional OECD pada 2023 mengungkap kebiasaan malas gerak (mager) di kalangan pelajar Kabupaten Kudus. Sebanyak 55 persen murid usia 15 tahun tercatat jarang berolahraga atau bahkan hanya sekali dalam seminggu.

Temuan ini kemudian dijawab Djarum Foundation melalui Festival Berpikir Komputasional 2026. Kegiatan ini memadukan penguatan logika berpikir dengan literasi fisik untuk mendorong murid lebih aktif.

Sebelum membahas solusinya, penting untuk memahami survei yang menjadi latar belakang program ini. Simak ulasannya dikutip dari oecd.org:

Apa Itu OECD?

Survei ini merupakan Survey on Social and Emotional Skills (SSES) 2023 yang dirancang untuk mengukur keterampilan sosial dan emosional murid usia 10 dan 15 tahun. Dalam pelaksanaannya, OECD menggandeng Djarum Foundation sebagai mitra nasional.

Hasil survei menunjukkan pola perilaku kurang sehat pada murid usia 15 tahun di Kudus. Sebanyak 55 persen hanya berolahraga sekali seminggu atau lebih jarang, jauh di atas rata-rata global sebesar 31 persen.

Selain itu, pola konsumsi juga menjadi perhatian dalam temuan tersebut. Sebanyak 52 persen murid tercatat jarang mengonsumsi buah dan sayur setiap hari dibandingkan rata-rata global sebesar 35 persen.

Melihat kondisi itu, Festival Berpikir Komputasional 2026 hadir sebagai solusi. Program ini dirancang untuk menjawab persoalan kebiasaan kurang aktif sekaligus memperkuat kemampuan berpikir murid.

Momen kunjungan ke booth lomba_ Foto Medcom_id Bramcov Stivens Situmeang
Momen kunjungan ke booth lomba. Foto: Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang

Berpikir komputasional merupakan proses memahami dan menyelesaikan masalah secara logis, terstruktur, dan sistematis. Pendekatan ini mencakup dekomposisi, pengenalan pola, abstraksi, dan algoritma.

Program ini telah dirintis sejak 2023 di jenjang PAUD dan terus diperluas ke SD/MI. Hingga kini, implementasinya telah menjangkau 46 PAUD/RA dan 22 SD/MI di Kudus.

Sebanyak 1.111 guru dan 23.356 murid terlibat dalam program ini. Pembelajaran dilakukan melalui berbagai media seperti permainan, kartu, hingga aktivitas gerak.

Perkembangan kemampuan murid juga diukur melalui tantangan BEBRAS, yakni inisiatif internasional dengan soal-soal Higher Order Thinking Skills (HOTS) yang mengasah kemampuan berpikir komputasional dan pemecahan masalah. Hasilnya, skor rata-rata murid meningkat dari 34,52 menjadi 88,34 yang mengindikasikan korelasi positif antara penerapan berpikir komputasional dan kemampuan murid. 

Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa (kiri) dan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto (tengah)_ Foto I (1)
Program Manager Djarum Foundation Marcella Marissa (kiri) dan Direktur Jenderal Pendidikan Anak Usia Dini, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen Gogot Suharwoto (tengah). Foto: Istimewa

Direktur Jenderal PAUD, Pendidikan Dasar, dan Pendidikan Nonformal dan Informal Kemendikdasmen, Gogot Suharwoto, menilai festival ini sejalan dengan arah kebijakan nasional yang diusung Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah (Kemendikdasmen), yaitu Pembelajaran Koding dan Kecerdasan Artifisial (KKA), serta penguatan kapasitas literasi, numerasi, dan STEM. 

"Praktik baik (untuk pelatihan dan pendampingan, serta festival) yang sudah dilakukan di Kabupaten Kudus ini perlu kita kembangkan dan tingkatkan skalanya ke tempat lain," ujar Gogot di Kudus, Minggu, 20 September 2026.

Sejalan dengan itu, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Kepemudaan, dan Olahraga Kabupaten Kudus, Anggun Nugroho menekankan pentingnya pendekatan ini sejak dini. Dia mengatakan berpikir komputasional bukan sekadar tentang coding atau mengenal komputer, tetapi cara berpikir yang mengajarkan anak untuk memecah masalah besar menjadi bagian-bagian kecil, mengenali pola, melakukan abstraksi, dan menyusun langkah-langkah yang logis untuk menyelesaikan persoalan. 

"Berkaitan dengan itu, kita tidak boleh berhenti membina anak-anak sejak dini sebab generasi yang terbiasa berpikir runtut dan logis sejak kecil, kelak akan menjadi generasi yang membawa kemajuan. Kami juga menyampaikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Djarum Foundation yang telah menginisiasi dan menyelenggarakan pelatihan dan pendampingan, hingga Festival Berpikir Komputasional ini secara konsisten," ujar Anggun Nugroho.
 
Di lapangan, penerapan konsep ini dilakukan secara kreatif oleh para guru. Pendekatan tersebut disesuaikan dengan konteks pembelajaran di masing-masing sekolah.

Di SD 3 Kalirejo, murid diajak menyusun rute paling efisien untuk berangkat ke sekolah. Sementara di SD Muhammadiyah Birrul Walidain, konsep ini diterapkan dalam pembelajaran IPAS.

Di SD 1 Barongan, murid diajak menganalisis pola keterlambatan untuk mencari solusi bersama. Pendekatan ini memadukan logika berpikir dengan aktivitas nyata sehari-hari

Program Manager Djarum Foundation, Marcella Marissa, menjelaskan program ini dirancang untuk menjawab temuan survei sekaligus membentuk generasi tangguh. Ia menilai keterampilan ini penting untuk menghadapi tantangan masa depan.

"Kami melihat berpikir komputasional sebagai keterampilan fundamental yang perlu dikembangkan sejak dini untuk membantu murid berpikir logis, memecahkan masalah, dan menghadapi tantangan dengan tangguh serta percaya diri," tutur Marcella.

Pihaknya berharap dalam 10-15 tahun mendatang, kemampuan murid seluruh sekolah di Kudus dalam asesmen PISA mencapai standar kompetensi setara dengan rata-rata OECD. Sekaligus, memiliki tingkat kebahagiaan dan kesehatan yang lebih tinggi daripada rata-rata.

Dalam festival ini, murid unjuk kemampuan melalui berbagai lomba yang terbagi dalam kategori plugged dan unplugged dengan beragam aktivitas. Ke depan, Djarum Foundation berkomitmen memperluas program ini ke jenjang pendidikan berikutnya. Kolaborasi dengan berbagai pihak diharapkan dapat menjangkau lebih banyak murid dan meningkatkan kualitas pendidikan.
 

Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda

(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan