Head of English and School Education East Asia British Council, Buyung Sudrajat. Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang,
Head of English and School Education East Asia British Council, Buyung Sudrajat. Medcom.id/Bramcov Stivens Situmeang,

Riset British Council Ungkap Skill Utama yang Dibutuhkan Kaum Marginal, Apa Saja?

Bramcov Stivens Situmeang • 06 Maret 2026 11:33
Ringkasnya gini..
  • Skills yang dibutuhkan kaum marginal adalah bahasa Inggris, digital skills, dan resilience in working place atau ketahanan di lingkungan kerja.
  • Bahasa Inggris adalah alat yang sangat krusial untuk memberdayakan mereka agar bisa berintegrasi secara inklusif
  • Riset ini diharapkan dapat menjadi dasar kuat untuk mendesain program bahasa Inggris yang inklusif dan kontekstual bagi pemuda marginal di Indonesia.
Bandung: British Council mengungkapkan skill paling penting yang dibutuhkan kaum marginal dan penyandang disabilitas untuk bisa sukses dalam pendidikan maupun dunia kerja. Bahasa Inggris menempati posisi teratas mengalahkan skill-skill lain yang mungkin lebih sering kita bayangkan.
 
Sebelum membahas lebih lanjut, ada baiknya kita mengenal definisi kaum marginal itu sendiri. Simak selengkapnya.

Apa itu kaum marginal?

Berdasarkan Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) Kemendikdasmen, kaum marginal adalah kelompok masyarakat yang terpinggirkan dalam tatanan sosial. Kelompok ini umumnya menghadapi berbagai keterbatasan akses, baik dalam pendidikan, kesempatan kerja, maupun pengembangan keterampilan.
 
Untuk memahami kebutuhan kelompok ini secara lebih mendalam, British Council kemudian melakukan riset yang berfokus pada pemuda marginal dan penyandang disabilitas di Indonesia. Hasil kajian tersebut disampaikan Head of English and School Education East Asia British Council, Buyung Sudrajat, dalam Dissemination Workshop bertajuk Exploring the English Language Needs of Marginalised Youth in Indonesia yang digelar di Hotel Hilton, Bandung.

Skill yang dibutuhkan kaum marginal

"Pertama adalah bahasa Inggris, kedua digital skills, ketiga resilience in working place, ketahanan di lingkungan kerja. Nah ini kami berfokus pada bahasa Inggris karena mandat, salah satunya berfokus pada bahasa Inggris adalah karena mandat kami untuk mengembangkan bahasa Inggris," ujar Buyung kepada Medcom.id di sela-sela acara, Kamis, 5 Maret 2026.

British Council sendiri merupakan organisasi yang mendapat mandat langsung dari pemerintah Inggris untuk membangun koneksi antarmasyarakat dunia melalui tiga bidang utama, yaitu pendidikan, bahasa Inggris, serta seni dan budaya. Dalam menjalankan misinya, lembaga ini bekerja sama dengan berbagai pihak mulai dari pemerintah, anak muda, hingga para ahli dan praktisi di bidangnya.
 
Menurut Buyung, Bahasa Inggris adalah alat yang sangat krusial untuk memberdayakan mereka agar bisa berintegrasi secara inklusif di tengah masyarakat yang kini semakin tanpa batas. Ia juga menyoroti bahwa akses pembelajaran bahasa Inggris di Indonesia hingga kini masih belum merata, terutama bagi kelompok yang termarginalkan.
 
"Tadi data dari Pak Esa juga yang sudah disampaikan, 66 juta pemuda di Indonesia. Jadi itu sudah, dan mereka di usia produktif. Jadi itu menjadi sangat penting bagi kami, karena Bahasa Inggris itu adalah alat yang sangat krusial, sarana untuk memberdayakan mereka agar mereka bisa berintegrasi dan juga secara inklusif berintegrasi di masyarakat yang tidak hanya sudah semakin tanpa batas saat ini," beber dia.
 
Karena itu, riset ini dirancang dengan pendekatan berbasis data lapangan. British Council secara langsung menghimpun masukan dari para pemuda marginal guna memahami kebutuhan yang benar-benar mereka rasakan.
 
Buyung menjelaskan, data yang terkumpul nantinya akan menjadi pijakan dalam merancang program peningkatan kapasitas yang benar-benar sesuai dengan kondisi di lapangan, bukan sekadar program yang dianggap tepat oleh pihak luar. Ke depannya, British Council berharap hasil riset ini bisa menjadi dasar yang kuat untuk mendesain program bahasa Inggris yang inklusif dan kontekstual bagi pemuda marginal di Indonesia.
 
"Jadi tidak berdasarkan asumsi menjawab kebutuhan mereka dan tidak berdasarkan apa yang menurut British Council itu tepat begitu, tapi kontekstualisasi di Indonesia, kontekstualisasi kebutuhan teman-teman marginal dan juga teman-teman penyandang disabilitas itu datang langsung dari mereka. Oleh karena itu, riset ini kami lakukan," ujar Buyung.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan