Mu'ti memastikan persoalan tersebut telah ditangani. Persoalan terkait, kata dia, diselesaikan sesuai aturan yang berlaku.
"Sudah ada laporannya dan sudah diselesaikan. Anak-anak itu kan sudah minta maaf kepada gurunya dan sudah kita selesaikan sesuai dengan peraturan menteri tentang sekolah aman dan nyaman," ujar Mu'ti di SMPN 16 Jakarta, Senin 20 April 2026.
| Baca juga: Mendikdasmen: Guru adalah Agen Peradaban, Bukan Sekadar Agen Pembelajaran |
Dirinya berharap kejadian tersebut tidak terulang di sekolah lain. Menurutnya, peristiwa tersebut dapat menjadi pembelajaran penting bagi semua pihak.
"Insyaallah itu menjadi pengalaman yang mudah-mudahan tidak terjadi lagi di tempat yang lainnya," katanya.
Mu'ti juga mengimbau seluruh satuan pendidikan untuk terus membangun lingkungan sekolah yang aman dan nyaman. Serta menanamkan nilai saling menghormati antara siswa dan guru.
Menurutnya, komitmen tersebut sejalan dengan nilai-nilai dalam ikrar Pelajar Pancasila. Di mana ikrar tersebut menekankan pentingnya menghormati guru dan orang tua sebagai bagian dari pembentukan karakter.
| Baca juga: Peringatan Hari Kartini 2026 Tak Lagi Sekadar Simbolik |
"Sekolah harus menjadi tempat yang aman dan nyaman, saling menghormati. Ini bagian dari proses kita membangun peradaban dan akhlak yang mulia," pungkasnya.
Diketahui viral sebuah video pendek yang memperlihatkan aksi tidak terpuji sejumlah siswa SMA Negeri 1 Purwakarta. Video itu beredar di media sosial dan menuai kecaman publik.
Rekaman video itu berdurasi 31 detik. Para siswa tampak mengolok-olok seorang guru perempuan di dalam ruang kelas.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News