Program ini diharapkan mampu menjawab tantangan klasik dunia pendidikan dan ketenagakerjaan Indonesia seperti salah jurusan, salah penempatan kerja, dan rendahnya produktivitas akibat ketidaksesuaian talenta.
Rektor IPB University Arif Satria mengatakan, penerapan sistem manajemen talenta berbasis AI merupakan langkah penting dan relevan untuk mendukung pengembangan mahasiswa, dosen, serta tenaga kependidikan di era transformasi digital.
"Tahun ini adalah momentum yang sangat tepat untuk pengembangan kemahasiswaan, pengembangan dosen, maupun tenaga kependidikan. Dengan platform AI Talent Management, kita bisa memperoleh gambaran yang lebih jelas tentang potensi mahasiswa, termasuk kelebihan dan kelemahannya," kata Arif.
Arief menjelaskan, bahwa data yang dihasilkan tidak hanya bermanfaat bagi kampus, tetapi juga bagi industri dan mitra eksternal.
"Melalui sistem ini, kita bisa mengetahui karakteristik mahasiswa secara presisi, sehingga dapat menjadi dasar dalam pemberian beasiswa, proses early recruitment oleh perusahaan, hingga penentuan arah pengembangan karier di masa depan," ujarnya.
Menurutnya, sinergi antara IPB dan ESQ dalam pengembangan AI Talent Management ini menjadi langkah konkret menuju pendidikan berbasis data dan potensi nyata manusia.
"Dengan tools berbasis AI ini, kita bisa mengembangkan talenta secara lebih baik dan presisi, sesuai dengan kebutuhan organisasi dan tantangan zaman," kata Arif.
Founder ESQ Corp Ary Ginanjar Agustian dalam sambutannya mengutip pandangan Klauss Schwab, pendiri dan direktur eksekutif World Economic Forum, yang mengatakan bahwa dunia kini tengah memasuki yang semula era kapitalisme ke era talentisme di tahun 2030, di mana kekuatan organisasi tidak lagi bertumpu pada modal, melainkan pada potensi dan karakter alami manusia.
"Organisasi harus memiliki kemampuan mengenali, membacara dan menempatkan talenta alami manusia secara real time, presisi dan masif," ujar Ary.
Ia juga menyoroti fakta global dan nasional yang menunjukkan besarnya dampak kesalahan penempatan kerja terhadap produktivitas. Sebanyak 74% organisasi merekrut orang yang salah, 92% siswa SMA bingung memilih jurusan, dan dua dari tiga karyawan resign dalam enam bulan pertama karena merasa tidak cocok.
"Akibatnya, perusahaan bisa menanggung kerugian kesalahan ini hingga Rp380 juta per orang," kata Ary.
Melalui sistem manajemen TalentDNA-ESQ berbasis Ai ini, proses pemetaan potensi dan arah karier dapat dilakukan secara cepat, akurat, dan masif menggunakan teknologi AI.
Hal ini memungkinkan mahasiswa IPB mengenali keunggulan dirinya dan menentukan langkah karier yang lebih presisi, sekaligus membantu industri mendapatkan talenta yang benar-benar sesuai kebutuhan.
Didalam acara ini Ary Ginanjar menyerahkan sertifikat penghargaan bahwa IPB adalah kampus negeri pertama di Indonesia yang mempergunakan manajemen talenta berbasis Ai dari ESQ.
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News