Hujan Meteor Perseid. DOK Pexel
Hujan Meteor Perseid. DOK Pexel

Rahasia Tata Surya di Balik Indahnya Fenomena Hujan Meteor Perseid

Renatha Swasty • 14 Agustus 2026 19:04
Ringkasnya gini..
  • Peneliti Bosscha ITB menjelaskan Hujan Meteor Perseid berasal dari sisa material Komet 109P/Swift-Tuttle yang terbakar di atmosfer Bumi.
  • Tantangan utama mengamati hujan meteor adalah polusi cahaya (skyglow) perkotaan yang menurunkan visibilitas objek langit malam.
  • Selain mengganggu pengamatan astronomi dan ekosistem, meteorit memiliki nilai ilmiah penting untuk mengungkap sejarah awal tata surya.
Jakarta: Langit malam pada Agustus menghadirkan berbagai fenomena astronomi menarik. Salah satu yang dinantikan setiap tahun, yakni Hujan Meteor Perseid yang tahun ini mencapai puncak aktivitas pada 12–13 Agustus 2026.
 
Peneliti Observatorium Bosscha ITB, Yatny Yulianty, menjelaskan Hujan Meteor berlangsung selama beberapa pekan, umumnya sejak pertengahan Juli hingga pertengahan Agustus.
 
“Yang ramai dibicarakan sekarang adalah periode puncaknya. Sebenarnya hujan meteor Perseid sudah berlangsung sejak pertengahan Juli dan akan terus berlangsung selama beberapa waktu,” beber Yatny dikutip dari laman itb.ac.id, Jumat, 14 Agustus 2026.

Yatny memaparkan hujan meteor terjadi ketika Bumi melintasi jalur yang dipenuhi partikel-partikel sisa yang ditinggalkan komet saat mengorbit Matahari. Ketika partikel tersebut memasuki atmosfer Bumi dengan kecepatan tinggi, interaksi dengan atmosfer membuatnya berpijar dan tampak sebagai garis cahaya yang bergerak cepat di langit.
 
Pada Hujan Meteor Perseid, meteor-meteor tersebut tampak seolah-olah berasal dari arah rasi Perseus. Karena itu, fenomena ini kemudian dikenal dengan nama Perseid. Material yang menghasilkan meteor Perseid berasal dari Komet 109P/Swift–Tuttle yang meninggalkan jejak partikel di sepanjang orbitnya.
 
“Hujan meteor disebut ‘hujan’ karena jumlah meteor yang terlihat meningkat cukup drastis dibandingkan malam-malam biasa,” jelas dia.
 
Istilah “bintang jatuh” cukup populer digunakan untuk menyebut meteor. Namun, Yatny menjelaskan meteor bukanlah bintang. Meteor merupakan fenomena cahaya yang muncul ketika benda atau partikel dari ruang angkasa memasuki atmosfer Bumi.
 
Sebagian besar material tersebut habis terbakar ketika melewati atmosfer. Namun, sebagian kecil dapat bertahan hingga mencapai permukaan Bumi dan kemudian disebut sebagai meteorit.
 
Fenomena hujan meteor berbeda dengan kemunculan meteor secara tunggal. Pada hujan meteor, jumlah meteor yang terlihat meningkat karena Bumi sedang melintasi wilayah yang kaya akan material sisa komet.
 
Fenomena ini dapat diamati dengan mata telanjang selama kondisi langit cukup gelap dan bebas dari gangguan cahaya buatan. Namun, bagi masyarakat yang tinggal di kawasan perkotaan, kondisi tersebut semakin sulit ditemukan karena tingginya tingkat polusi cahaya.
 
Salah satu tantangan terbesar dalam mengamati hujan meteor, terutama dari kawasan perkotaan, adalah polusi cahaya. Yatny menjelaskan cahaya buatan yang mengarah ke langit atau terpantul ke atmosfer dapat membuat langit malam menjadi lebih terang. Kondisi ini dikenal sebagai skyglow.
 
“Ketika langit menjadi terang, objek-objek langit seperti bintang dan meteor menjadi kalah terang dibandingkan latar langit. Akibatnya, jumlah objek yang dapat diamati berkurang drastis,” kata dia.
 
Rahasia Tata Surya di Balik Indahnya Fenomena Hujan Meteor Perseid
Hujan Meteor Perseid. DOK Pexel
 
Dampak polusi cahaya tidak hanya dirasakan oleh masyarakat yang ingin menikmati langit malam, tetapi juga memengaruhi kualitas penelitian astronomi. Dalam pengamatan optik, cahaya dari langit yang terlalu terang dapat ikut terekam oleh instrumen sehingga menurunkan kualitas data yang diperoleh.
 
Pada Hujan Meteor Perseid, tantangan tersebut menjadi semakin besar bagi pengamatan dari wilayah Lembang. Dari lokasi tersebut, titik radian Perseid hanya mencapai ketinggian sekitar 20–30 derajat di atas horizon utara. Sementara itu, area yang dekat dengan horizon merupakan salah satu bagian langit yang paling terdampak oleh polusi cahaya.
 
“Lokasi pengamatan menjadi sangat penting. Jika memungkinkan, pengamatan sebaiknya dilakukan dari tempat yang jauh dari sumber polusi cahaya,” ujar dia.
 
Yatny menyebut berbagai penelitian juga menunjukkan pencahayaan buatan pada malam hari dapat memengaruhi kehidupan satwa liar, terutama hewan nokturnal yang bergantung pada siklus terang dan gelap.
 
Burung migran, kelelawar, kunang-kunang, hingga penyu laut dapat mengalami gangguan orientasi akibat paparan cahaya buatan. Manusia juga memiliki ritme biologis yang dipengaruhi oleh kondisi terang dan gelap.
 
Karena itu, penggunaan pencahayaan pada malam hari perlu disesuaikan dengan kebutuhan. Cahaya sebaiknya diarahkan ke bawah, menggunakan jenis lampu yang tepat, serta tidak dinyalakan secara berlebihan atau sepanjang malam.
 
“Prinsip utamanya adalah menggunakan cahaya sesuai kebutuhan. Cahaya yang tidak perlu dan mengarah ke langit sebaiknya diminimalkan,” kata dia.
 
Ia menuturkan komunitas astronomi, termasuk melalui International Dark-Sky Association (IDA), telah lama mendorong edukasi dan tata kelola pencahayaan yang lebih baik. Upaya tersebut antara lain dilakukan melalui penggunaan tudung lampu, pemilihan temperatur warna yang lebih hangat, pengaturan tingkat kecerahan, hingga pembatasan waktu operasional lampu reklame dan papan iklan.
 
Di balik keindahannya, Hujan Meteor Perseid juga memiliki nilai ilmiah yang penting. Material dari komet dan asteroid yang sampai ke Bumi menjadi salah satu sumber informasi untuk memahami sejarah awal tata surya.
 
“Batuan tersebut merupakan sisa-sisa pembentukan tata surya yang tidak mengalami proses geologi seperti batuan di Bumi. Dari meteorit, kita bisa mempelajari komposisi material purba dan sejarah pembentukan tata surya,” jelas Yatny.
 
Dia berharap hujan meteor dapat menjadi pintu masuk bagi masyarakat untuk mengenal astronomi sekaligus kembali memberi perhatian pada kondisi langit malam di sekitarnya.
 
“Langit tidak pernah benar-benar diam. Selalu ada aktivitas dan pergerakan di atas sana. Saya berharap masyarakat mau meluangkan sedikit waktu untuk melihat ke langit dan menyadari bahwa kita juga merupakan bagian dari semesta yang jauh lebih besar,” tutur dia.
 
 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan