Kuliah. DOK Medcom
Kuliah. DOK Medcom

Dorong Pendidikan Inklusif, British Council Gandeng KONEKIN Riset Akses Belajar Bahasa Inggris untuk Anak Muda Marjinal dan Difabel

Bramcov Stivens Situmeang • 06 Maret 2026 10:34
Ringkasnya gini..
  • Meskipun kemampuan berbahasa Inggris dipandang sangat penting, akses terhadap pembelajaran berkualitas masih sangat tidak merata.
  • Terdapat kesenjangan cukup mencolok antara keinginan kelompok muda belajar bahasa Inggris dengan ketersediaan sumber belajar aksesibel dan inklusif.
  • Temuan ini menjadi sinyal kuat bagi para pemangku kebijakan untuk merancang pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan personal.
Bandung: British Council menggandeng firma riset dan konsultansi yang berfokus pada penelitian sosial, KONEKIN, melakukan riset terkait akses pembelajaran bahasa Inggris berkualitas pada kelompok muda marjinal dan penyandang disabilitas (difabel) di Bandung dan Bali. Riset ini menjadi pijakan penting mewujudkan masyarakat Indonesia yang lebih inklusif. 
 
“Temuan-temuan ini mendorong kami untuk meninjau kembali pendekatan kami dan merancang program bahasa Inggris yang secara nyata memberdayakan komunitas marjinal, membekali mereka dengan keterampilan untuk mengakses peluang yang lebih besar dalam pekerjaan dan keterlibatan global,” ujar Country Director Indonesia sekaligus Direktur Asia Tenggara untuk British Council, Summer Xia, Kamis, 5 Maret 2026.
 
Studi tersebut dipimpin oleh CEO Koneksi Indonesia Inklusif (KONEKIN), Marthella Rivera Roidatua, yang juga merupakan finalis Study UK Alumni Awards 2026.

Melalui penelitian ini, KONEKIN berupaya menghadirkan pemahaman berbasis bukti mengenai kebutuhan belajar, motivasi, serta aspirasi kelompok masyarakat yang kerap terabaikan. Studi ini dilakukan di dua konteks berbeda, yaitu kawasan urban-industrial di Bandung dan wilayah pariwisata pedesaan di Bali.
 
Hasilnya mengungkap meskipun kemampuan berbahasa Inggris dipandang sangat penting, akses terhadap pembelajaran berkualitas masih sangat tidak merata. Sejumlah temuan krusial mengemuka dari studi ini.
 
Terdapat kesenjangan yang cukup mencolok antara keinginan kelompok muda untuk belajar bahasa Inggris dengan ketersediaan sumber belajar yang aksesibel dan inklusif. Selain itu, hambatan infrastruktur, sosial, dan ekonomi turut menjadi penghalang utama, mulai dari minimnya tenaga pengajar yang kompeten untuk pendidikan inklusif, fasilitas belajar yang tidak ramah difabel, hingga keterbatasan finansial peserta didik.
 
Studi ini juga mencatat kelompok muda marjinal dan difabel cenderung menginginkan modul pembelajaran yang praktis, fleksibel, dan memanfaatkan teknologi. Sehingga, dapat disesuaikan dengan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu. Temuan ini menjadi sinyal kuat bagi para pemangku kebijakan untuk merancang pendekatan pembelajaran yang lebih adaptif dan personal.
 
Acara diseminasi hasil riset bertajuk “Mengeksplorasi Kebutuhan Bahasa Inggris bagi Kelompok Muda Marjinal di Indonesia” turut menghadirkan para pemangku kepentingan dari berbagai sektor. Antara lain perwakilan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah, Kementerian Hak Asasi Manusia, kalangan akademisi, organisasi penyandang disabilitas (OPD), serta pelaku sektor swasta. 
 
Forum ini dirancang sebagai ruang bersama untuk memvalidasi temuan riset sekaligus merumuskan rekomendasi konkret yang dapat dijadikan landasan kebijakan dan program ke depan.
 
Kegiatan ditutup dengan diskusi panel yang membahas pembentukan jalur kolaborasi lintas sektor demi mendorong inisiatif pelatihan bahasa Inggris yang terukur dan berkelanjutan. British Council menegaskan komitmennya untuk bersinergi dengan seluruh mitra dalam menerjemahkan rekomendasi riset ini menjadi aksi-aksi nyata.
 
Cek Berita dan Artikel yang lain di
Google News
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA

social
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan