Jurui Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026, Najwa Shihab. DOK
Jurui Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum 2025/2026, Najwa Shihab. DOK

Di Era Semua Orang Bisa Beropini, Najwa Shihab Ungkap Skill yang Jadi Pembeda

Renatha Swasty • 27 Juni 2026 09:34
Ringkasnya gini..
  • Di era ketika semua orang bisa menyampaikan opini, kemampuan untuk membangun argumentasi yang kuat jadi pembeda.
  • Hal itu bisa didapat melalui menulis esai karena seseorang dipaksa berpikir, menyusun logika, menguji asumsi, hingga mempertanggungjawabkan pendapat.
  • Tantangan ke depan adalah bagaimana semakin kritis membaca referensi, menguji data, dan memastikan solusi yang ditawarkan lahir dari analisis kokoh.
Badung: Menulis esai bukan sekadar memindahkan tulisan dari sumber-sumber yang diambil ke kertas. Di balik menulis esai, ada hal yang jauh lebih besar yakni memaksa berpikir, menyusun logika, menguji asumsi, mencari data, dan mempertanggungjawabkan pendapat. 
 
"Dan di era ketika semua orang bisa menyampaikan opini, kemampuan untuk membangun argumentasi yang kuat, itu jadi pembeda, dan itu sudah kalian miliki," kata Jurnalis Senior dan Pendiri Narasi TV, Najwa Shihab, dalam Final Nasional Essay Contest Beswan Djarum di Grand Mercure Seminya, Bali, Jumat, 26 Juni 2026. 
 
Essay Contest Beswan Djarum merupakan wadah pembentukan pola pikir kritis dan pemecahan masalah di kalangan generasi muda. Peserta didorong mengangkat beragam keresahan dari kehidupan sehari-hari untuk berkontribusi melalui solusi.

Najwa yang juga menjadi juri dalam kompetisi itu mengapresiasi para finalis yang rajin mencari informasi dan referensi. Selama proses penjurian, juri juga dibawa melihat cara berpikir anak muda hari ini. 
 
Ada yang mengajak melihat persoalan besar dari hal-hal yang selama ini dianggap biasa, mengangkat kelompok yang sering tidak terlihat, hingga memikirkan tantangan-tantangan baru yang akan dihadapi di masa depan. 
 
"Dan itu kekuatan esai yang baik. Bukan hanya memberi jawaban, tapi juga membuat siapa pun yang membaca atau siapa pun yang mendengar idenya melihat sesuatu dengan cara yang berbeda," tutur dia. 
 
Najwa mengatakan tantangannya adalah bagaimana semakin kritis membaca referensi, menguji data, membedakan fakta dengan asumsi, dan memastikan solusi yang ditawarkan benar-benar lahir dari analisis yang kokoh. 
  "Karena dalam dunia akademi maupun nanti ketika menjadi pengambil kebijakan, ketelitian itu sama pentingnya dengan kreativitas. Jadi, itu dua hal yang harus terus-menerus diseimbangkan," ujar dia. 
 
Dia juga berharap setelah kompetisi selesai peserta tetap berani menerima kritik. Selama presentasi, para juri melihat banyak peserta yang mampu berdialog dengan pertanyaan-pertanyaan yang mungkin belum pernah dipikirkan sebelumnya dan di situ adalah proses belajar.
 
Najwa mengingatkan gagasan yang baik bukan gagasan yang tidak pernah dikritik tetapi gagasan yang menjadi semakin kuat ketika diuji. 
 
"Dan kami berharap, dewan juri berharap setelah kompetisi ini adik-adik tetap memelihara dua hal sekaligus. Keberanian untuk melahirkan ide-ide baru dan kerendahan hati untuk terus menguji apakah ide itu benar," pesan Najwa.
 
Sementara itu, juri lainnya, Ronny Rachman Noor, mengatakan menulis esai berdasarkan pengalaman di masyarakat sekaligus mengisi kekosongan di kampus. Sebab, kampus lebih banyak menulis soal ilmiah. 
 
Esai yang berdasarkan realitas di masyarakat bertujuan menajamkan kepekaan mahasiswa terhadap masyarakat. 
 
"Dia (mahasiswa) enggak peduli sama masyarakat gitu. Seolah-olah dia hidup itu di zona nyaman itu. Padahal lihat ke kiri ke kanannya sudah masalah itu. Nah nanti kalau dia sudah besar, jadi seorang pejabat harapannya peduli gitu," ujar Guru Besar IPB University itu. 

 
Jadikan Medcom.id sumber informasi pilihan Anda
(REN)




TERKAIT

BERITA LAINNYA