Ilustrasi jeruk bali. DOK Vivmag
Ilustrasi jeruk bali. DOK Vivmag

Jeruk Bali Terancam Punah, BRIN Siap Bantu Daerah Cari Solusi

Pendidikan penelitian bali Riset dan Penelitian BRIN
Renatha Swasty • 22 April 2022 16:02
Jakarta: Salah satu produk pangan yang terkenal dari Bali, ialah Jeruk Bali. Sayangnya, tanaman Jeruk Bali terancam punah akibat serangan virus CVPD pada 80-an.
 
Gubernur Bali, I Wayan Koster, mengungkapkan hingga saat ini kondisi tersebut belum bisa dipulihkan. Pihaknya melalui Badan Riset dan Inovasi Daerah Bali telah berkolaborasi dengan perguruan tinggi dan lembaga riset lain melakukan penelitian untuk mengembalikan potensi sumber pangan tersebut.
 
“Kami bekerja sama dengan Universitas Udayana dan lembaga riset lainnya agar Jeruk Bali ini bisa dikembalikan, apakah tanahnya yang sudah rusak karena virus, atau sebab-sebab lainnya. Tujuan kami adalah Bali harus daulat pangan dan kami pastikan itu bisa dilakukan,” kata Koster dikutip dari laman brin.go.id, Jumat, 22 April 2022.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


Kepala Organisasi Riset Pertanian dan Pangan, Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN), Puji Lestari, menyatakan pihaknya siap membantu mencari solusi. Bantuan dengan sumber daya dan kepakaran di BRIN.
 
“Karena BRIN adalah pusatnya riset dan inovasi, kami Insyaallah membantu untuk mencari solusi terkait komoditas maupun produktivitas, biotic dan abiotic stress tanaman, bersama dengan daerah untuk menyelesaikan masalah,” tutur dia.
 
Bali tercatat sebagai provinsi pertama yang membentuk Badan Riset dan Inovasi Daerah sejak diberlakukannya UU Nomor 11 Tahun 2019. Namun, saat itu penamaan masih menggunakan singkatan BARI.
 
“BARI saya bentuk melalui Peraturan Daerah Nomor 7 Tahun 2019, jadi sudah merupakan perangkat daerah yang berdiri sendiri. Tugas utamanya adalah melakukan riset mengenai kebijakan pembangunan daerah Bali,” beber Koster.
 
Koster menuturkan dengan terbitnya Peraturan Presiden Nomor 78 Tahun 2021 tentang BRIN, yang didalamnya juga mengatur BRIDA, pihaknya akan melakukan penyesuaian tupoksi terkait Badan Riset dan Inovasi Daerah. Dia menuturkan Bali juga berfokus pada sumber-sumber pangan lain.
 
Koster menyebut Bali harus bertahan memenuhi kebutuhan pangan warganya di tengah sumber daya terbatas dan dinamika pembangunan. Karena itu, riset dilakukan dari hulu hingga hilir.
 
Dia menuturkan Bali mempunyai sumber pangan unggul. Seperti beras bali, jagung, umbi-umbian, buah-buahan, dan sayur-sayuran.
 
“Tapi di antara sumber pangan itu, kami harus meningkatkan produktivitas dan kualitas pangan untuk memenuhi kebutuhan warga. Bali melakukan riset tidak hanya dari sisi kualitas tapi juga sehat,” tutur Koster.
 
Dia mengatakan BARI juga diamanatkan untuk mengelola Kekayaan Intelektual (KI) menjadi produk-produk masyarakat Bali di bidang budaya dan pertanian, kesehatan, dan kelautan.
 
“Sejak saya dilantik pada 2018 dan dibentuk BARI pada 2019, 197 KI merupakan produk budaya dan juga indikasi geografis untuk wilayah kopi, garam, dan hasil perkebunan lainnya, yang dapat meningkatkan nilai ekonomi dari hasil pertanian dan produk budaya oleh pengrajin masyarakat Bali,” papar dia.
 
Fokus riset lainnya ialah transformasi ekonomi yang disebut dengan Ekonomi Kerthi Bali. Selama ini, kata Koster, perekonomian Bali sangat bergantung pada sektor pariwisata, namun rentan krisis akibat faktor eksternal.
 
Faktor keamanan seperti kasus Bom Bali, bencana alam seperti erupsi Gunung Agung, akan sangat berdampak terhadap perekonomian Bali.
 
“Kami sudah harus memikirkan strategi baru dengan melakukan transformasi ekonomi untuk menyeimbangkan struktur dan fundamental perekonomian Bali agar menjadi lebih suistanable, ramah lingkungan, berkualitas, bernilai tambah, tangguh dan berkelanjutan,” kata Koster.
 
Baca: BRIDA Bakal Jadi Perangkat Penelitian dan Pengembangan Baru Bagi Pemda
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING
FOLLOW US

Ikuti media sosial medcom.id dan dapatkan berbagai keuntungan

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif