Mahasiswa UNY dan kedua orang tuanya. DOK UNY
Mahasiswa UNY dan kedua orang tuanya. DOK UNY

Cerita Mita Belajar SBMPTN Sembari Jaga Dagangan di Kantin Hingga Lulus Cumlaude dari UNY

Renatha Swasty • 13 April 2022 14:28
Jakarta: Kuliah menjadi impian setiap lulusan sekolah menengah atas. Namun, kendala biaya kerap jadi permasalahan.
 
Salah satunya yang dialami Mita Saputri. Alumni SMAN 1 Rowokele Banyumas itu sempat ragu melanjutkan pendidikan tinggi selepas SMA karena kondisi ekonomi keluarga yang pas-pasan.
 
Anak kedua pasangan Turmudi, seorang buruh tani, dan Siti Fatimah, seorang penjahit, itu mulanya mencoba meyakinkan kedua orang tuanya agar diizinkan melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.

Bagaimana tanggapan anda mengenai artikel ini?


“Awalnya orang tua shock akan keinginan saya itu. Karena hanya seorang buruh dan penjahit, tentu bagi mereka berat untuk menyekolahkan anaknya di jenjang kuliah. Biaya kuliah, biaya pendidikan, buku, dan juga living cost tentu sangat mahal untuk orang kecil seperti kami,” kata Mita dikutip dari laman uny.ac.id, Rabu, 13 April 2022.
 
Keinginan Mita berkuliah terbuka. Guru bimbingan konseling SMAN 1 Rowokele Rumiyani memberi informasi berharga tentang beasiswa Bidikmisi (saat ini dikenal Kartu Indonesia Pintar). Beasiswa berupa biaya kuliah dan biaya hidup. Mita kembali mencoba meyakinkan orang tuanya.
 
“Pada awalnya saya masih merasa ragu karena belum ada kepastian diterima atau tidaknya. Tapi saya mulai yakin saat ada tetangga kami yang diterima di UNY (Universitas Negeri Yogyakar) melalui Bidikmisi yaitu Enggista Hendriko Delano di Fakultas Ilmu Keolahragaan,” cerita Turmudi.
 
Akhirnya, Turmudi mengizinkan Mita menempuh pendidikan tinggi. Perjuangan Mita menembus perguruan tinggi juga tidak mudah.
 
Warga Desa Jatijajar, Kecamatan Ayah, Kabupaten Kebumen tersebut lulus SMA pada 2017. Namun, karena kendala ekonomi baru mendaftar perguruan tinggi pada 2018.
 
Lulusan yang masuk The Best Five paralel jurusan IPA di SMAN 1 Rowokele itu mengisi waktu dengan membantu berjualan di kantin SMP Negeri 1 Ayah dari pukul 06.00- 14.00 WIB. Di sela-sela membantu berjualan, Mita belajar soal-soal SBMPTN.
 
“Setiap membantu berjualan, saya membawa ransel besar berisi dua buku King SBMPTN,” kenang Mita.
 
Ikhtiar belajar SBMPTN diimbangi dengan berdoa, salat Tahajud dan Duha setiap waktu senggang di kantin. Usahanya membuahkan hasil, Mita berhasil lolos jalur SBMPTN di UNY pada 2018.
 
Dia diterima di prodi impiannya, Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Bahasa dan Seni. Namun, bak petir di siang bolong, Mita kaget saat namanya tidak tercantum dalam penerima beasiswa Bidikmisi pada Oktober 2018.
 
Hal itu lantaran ada pengurangan kuota Bidikmisi usai bencana gempa Palu. Namun, akhirnya Mita lolos Bidikmisi setelah ada pengumuman tambahan pada Januari 2019.
 
Selama kuliah, Mita aktif mengikuti berbagai event, seperti Panitia Bulan Bahasa, PKKMB, hingga menjadi Top 5 Duta Kampus UNY 2019. Mita juga aktif sebagai tentor privat untuk pembelajaran calistung TK dan mata pelajaran Bahasa Indonesia bagi SMP dan SMA.
 
“Hal itu saya lakukan setelah selesai kuliah dan pada hari libur untuk menambah uang saku sekaligus meningkatkan keterampilan mengajar saya,” papar dia.
 
Mita bahkan sempat bekerja di salah satu toko parfum untuk menambah uang saku. Gadis kelahiran Kebumen, 5 April 1999 itu lulus dengan predikat Cumlaude ber-IPK 3,68 dengan masa studi hanya 3 tahun 4 bulan dan diwisuda pada Februari 2022.
 
Mita kemudian melanjutkan pendidikan Magister di UNY pada program Intake yang memulai kuliah pada Februari 2022. Dia mengambil jurusan linear dengan S1-nya, yaitu Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia.
 
Mita mengaku sebelum studi lanjut S2 sempat tertarik dengan salah satu beasiswa yaitu LPDP. Tetapi, karena pelaksanaan tes LPDP lama, dia mengurungkan niat untuk mendaftar.
 
Mita memilih menjadi student employee sebagai staf Tata Usaha FBS UNY sekaligus menjadi tentor calistung dan mata pelajaran Bahasa Indonesia yang digelutinya sejak kuliah S1. Mita juga memiliki usaha kecil-kecilan berjualan jilbab, baju, dan mukena.
 
“Saya masih belum cakap dan telaten dalam menjalani bisnis, tetapi saya akan berusaha semaksimal yang saya mampu,” kata dia.
 
Mita berpesan bagi calon mahasiswa yang bernasib sepertinya agar tidak takut bermimpi, takut kuliah, apalagi terkait biaya. Dia menyebut selama niat baik, tidak akan dipersulit.
 
"Dan yang paling penting adalah memperbesar aksi dan memperkecil gengsi," kata Mita.
 
Baca: Pesimistis di SNMPTN, Qotrun Nada Malah Lolos UNY Lewat SBMPTN
 
 
(REN)



LEAVE A COMMENT
LOADING

Dapatkan berita terbaru dari kami Ikuti langkah ini untuk mendapatkan notifikasi

unblock notif